Jika Kita Bertemu Di Versi Terbaik

Valen Pahlintias
Chapter #18

Kepulangan yang tidak terduga

Jakarta menyambut Nara dengan hujan rintik yang membawa hawa pengap dari aspal panas.


Saat melangkah keluar dari terminal kedatangan Bandara Soekarno-Hatta, Nara hanya membawa dua koper dan sebuah ransel—seluruh sisa kehidupannya di Singapura yang ia kemas hanya dalam waktu dua belas jam. Ia tidak lagi memiliki gelar CTO yang mentereng, tidak memiliki tunjangan apartemen mewah, dan tidak memiliki kepastian gaji di akhir bulan.


Namun, saat ia menghirup udara Jakarta yang bercampur aroma knalpot dan tanah basah, Nara merasakan sebuah kelegaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia merasa ringan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak sedang berlari mengejar sesuatu atau melarikan diri dari seseorang. Ia hanya... pulang.


Ruang Tunggu dan Reuni yang Sunyi


Nara tidak langsung menuju apartemen lamanya. Ia langsung memesan taksi menuju rumah sakit tempat ibu Ara dirawat. Sepanjang perjalanan, ia menatap deretan gedung perkantoran di Sudirman yang dulu sangat ia puja sebagai simbol kesuksesan. Kini, gedung-gedung itu tampak seperti kotak-kotak kaca yang dingin dan tak bermakna.


Di rumah sakit, ia menemukan Ara sedang duduk di kursi plastik ruang tunggu ICU. Gaun sutra tembaga yang ia kenakan saat pembukaan pameran semalam sudah diganti dengan sweter rajut yang tampak terlalu besar untuk tubuhnya yang kelelahan. Wajah Ara tampak pucat, matanya sembab, namun ada ketenangan yang stabil di sana.


Nara berdiri beberapa meter darinya, tidak ingin mengejutkannya. Ara menoleh, dan saat mata mereka bertemu, tidak ada jeritan atau tangis histeris. Ara berdiri, berjalan perlahan ke arah Nara, dan membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan pria itu.


"Aku di sini, Ra," bisik Nara, mencium puncak kepala Ara.


"Aku tahu kamu akan datang," jawab Ara lirih.


Mereka berpelukan cukup lama. Pelukan itu tidak terasa seperti dua orang yang saling menggantungkan beban, melainkan seperti dua prajurit yang saling mengistirahatkan pedang setelah pertempuran panjang.


Ujian Kedekatan Fisik: Membagi Beban Tanpa Kehilangan Diri


Operasi ibu Ara berjalan lancar, namun masa pemulihan di ICU adalah masa-masa yang sangat kritis dan melelahkan secara mental. Di sinilah dinamika baru mereka diuji. Dulu, jika mereka berada dalam situasi stres seperti ini, Nara akan mengambil alih segalanya—membayar semua biaya, memerintah perawat, dan membuat Ara merasa tidak berdaya. Atau sebaliknya, Ara akan mengabaikan seluruh kebutuhannya hanya untuk memastikan Nara tidak merasa tertekan.


Sekarang, mereka belajar untuk berbagi tugas secara proporsional.


"Nar, kamu baru sampai. Kamu harus istirahat," ucap Ara saat mereka sedang duduk di kantin rumah sakit pukul dua pagi.


"Aku sudah tidur sedikit di pesawat, Ra. Kamu yang sudah terjaga lebih dari tiga puluh jam. Pulanglah ke kosmu, mandi, dan tidur. Aku akan berjaga di sini sampai jam tujuh pagi. Kalau ada apa-apa, aku janji akan langsung telepon."

Lihat selengkapnya