Jika Kita Bertemu Di Versi Terbaik

Valen Pahlintias
Chapter #19

Arsitektur Keseharian

Jika bulan-bulan sebelumnya adalah tentang ledakan emosi dan transformasi besar, maka Bab 21 adalah tentang detail-detail kecil yang membentuk sebuah hubungan jangka panjang. Masa pemulihan Ibu Ara beralih dari bangsal rumah sakit ke kamar tidur di rumah. Nara, yang dulunya adalah CTO dengan asisten pribadi, kini adalah seorang pria yang duduk di kedai kopi murah dengan laptop tua, mencoba merajut kembali jaringan profesionalnya dari nol.


Ini bukan lagi tentang panggung galeri atau kantor di Marina Bay. Ini adalah tentang siapa yang mencuci piring, siapa yang menjemput obat, dan bagaimana menjaga api cinta tetap menyala saat tubuh lelah dan dompet menipis.


Ruang Transisi: Rumah yang Tak Lagi Sama


Ibu Ara akhirnya diperbolehkan pulang dengan syarat perawatan intensif di rumah. Rumah kecil di pinggiran Jakarta itu kini berubah fungsi. Ada tabung oksigen di pojok ruang tamu, jadwal obat yang tertempel di kulkas, dan aroma minyak kayu putih yang mengalahkan aroma masakan.


Ara harus membagi waktunya dengan presisi seorang ahli bedah. Pagi hari adalah waktu untuk ibunya—menyiapkan sarapan sehat, membantu fisioterapi ringan, dan mendengarkan keluhan-keluhan kecil ibunya yang kini lebih bersifat fisik daripada manipulatif. Siang hingga sore adalah waktunya di studio.


Nara sering datang di sore hari. Ia tidak lagi datang dengan buket bunga mahal, melainkan dengan sekantong buah-buahan atau popok dewasa untuk ibu Ara.


"Nar, kamu tidak harus melakukan ini setiap hari," ucap Ara suatu sore saat melihat Nara sedang membantu mengangkat ibunya ke kursi roda agar bisa menghirup udara di teras.


Nara menyeka keringat di dahinya. "Aku tidak melakukannya karena aku harus, Ra. Aku melakukannya karena aku ingin menjadi bagian dari hidupmu yang utuh. Hidupmu bukan cuma saat kamu di galeri mengenakan gaun cantik. Hidupmu adalah ini juga, dan aku ingin ada di sini."


Kehadiran Nara yang bersahaja memberikan perspektif baru bagi Ara. Ia menyadari bahwa keintiman yang paling dalam tidak ditemukan dalam kata-kata puitis, melainkan dalam kesediaan untuk berbagi beban yang tidak menyenangkan.


Nara: Membangun di Atas Reruntuhan


Sementara itu, Nara sedang menghadapi realitas pahit di dunia teknologi Jakarta. Meskipun ia memiliki reputasi hebat di Singapura, pengunduran dirinya yang mendadak karena masalah etika membuat beberapa investor lokal merasa ragu. Di mata mereka, Nara adalah orang yang "sulit diatur" dan "terlalu idealis".


Nara duduk di sebuah co-working space yang bising, menatap layar monitor yang berisi barisan kode untuk proyek barunya: sebuah platform pendidikan teknologi gratis untuk anak-anak kurang mampu, yang ia rencanakan akan didanai oleh layanan konsultasi premium.


"Sulit, ya?" Ara bertanya malam itu saat mereka duduk di lantai ruang tamu, dikelilingi oleh kertas-kertas kerja Nara dan sketsa Ara.


"Lebih sulit dari yang aku kira," aku Nara jujur. "Dulu, orang-orang mencariku karena gelar dan kantorku. Sekarang, aku harus meyakinkan mereka dari awal bahwa visiku masuk akal. Kadang ego lamaku berbisik, 'Kenapa kamu tidak minta maaf saja pada Pak Handoko dan kembali ke posisi nyaman itu?'"


Ara meletakkan pensilnya. "Lalu kenapa kamu tidak melakukannya?"


Lihat selengkapnya