Jika Kita Bertemu Di Versi Terbaik

Valen Pahlintias
Chapter #20

Bayang-bayang Kanva

Kehidupan di Jakarta memiliki ritme yang sering kali tidak mengenal belas kasihan. Bagi Ara, bulan ini adalah ujian tentang ketahanan fisik. Antara merawat ibunya yang mulai bisa duduk di kursi roda dan menyelesaikan pesanan lukisan yang mulai menumpuk, waktunya terasa seperti pasir yang terus merosot di sela jari. Di sisi lain, Nara masih berjuang dengan "proyek idealisnya", sering kali pulang dengan mata merah karena terlalu lama menatap kode tanpa jaminan investor.

Di tengah kelelahan yang merayap itulah, sebuah bayangan dari masa lalu muncul kembali. Bukan dalam bentuk hantu, melainkan dalam bentuk seorang pria perlente dengan kartu nama yang berbau parfum mahal: Adrian.

Tamu yang Tak Diundang

Sore itu, Ara sedang berada di galerinya untuk mengecek laporan penjualan bulanan. Pintu galeri berdenting, dan seorang pria dengan setelan jas abu-abu yang sangat pas di tubuhnya melangkah masuk. Adrian adalah mantan kekasih Ara sebelum Nara—seorang pria yang dulu meninggalkan Ara karena menganggap ambisi seni Ara "tidak memiliki masa depan finansial".

"Ara. Kamu terlihat... jauh lebih bercahaya daripada terakhir kali kita bertemu di universitas," suara Adrian berat dan penuh percaya diri.

Ara tertegun. Ingatannya melayang pada masa di mana ia menangis di depan pria ini karena merasa tidak cukup berbakat. "Adrian. Apa yang kamu lakukan di sini?"

"Aku sekarang mengelola sebuah yayasan seni di Singapura dan Dubai. Aku melihat namamu di katalog Galeri Nasional kemarin. Aku harus mengakui, pilihan warnamu sekarang luar biasa. Jauh lebih berani."

Adrian tidak datang hanya untuk menyapa. Ia datang dengan tawaran yang bisa mengubah hidup seniman mana pun: sebuah kontrak eksklusif selama dua tahun, pameran keliling di tiga negara, dan dukungan finansial yang jumlahnya bisa membayar seluruh biaya pengobatan ibu Ara hingga tuntas serta membelikan Ara studio yang jauh lebih besar.

"Kenapa sekarang, Adrian?" tanya Ara, matanya menyelidiki.

"Karena sekarang kamu sudah 'bernilai', Ara. Dan aku ingin menjadi orang yang mengorbitkanmu ke level internasional. Pikirkanlah. Ini jalan pintas yang kamu butuhkan."

Getaran di Meja Makan

Malam itu, Ara memasak makan malam yang lebih istimewa dari biasanya. Nara datang dengan berita buruk: investor lain mundur karena menganggap proyek pendidikan teknologinya terlalu lambat menghasilkan keuntungan.

"Mereka ingin aku mengubah platform itu jadi berbayar mahal. Aku menolak," ucap Nara sambil menyuap nasi dengan lesu. "Tapi konsekuensinya, bulan depan aku harus pindah ke tempat co-working yang lebih murah."

Ara menatap Nara. Ada dorongan kuat di hatinya untuk langsung menceritakan tawaran Adrian. Ia tahu, uang dari Adrian bisa menyelesaikan masalah Nara juga. Ia bisa mendanai proyek Nara. Ia bisa menyelamatkan segalanya.

"Nar... Adrian datang hari ini," ucap Ara akhirnya.

Nara berhenti mengunyah. Nama itu pernah ia dengar dari cerita-cerita lama Ara tentang rasa rendah diri. "Mantanmu itu? Si kolektor?"

Ara menceritakan tawaran kontrak itu secara detail. Nara mendengarkan dalam diam. Wajahnya tidak menunjukkan amarah, melainkan sebuah refleksi yang dalam.

Lihat selengkapnya