Keputusan besar selalu diikuti oleh guncangan kecil. Setelah Ara menolak kontrak emas dari Adrian, kehidupan tidak mendadak menjadi dongeng yang indah. Sebaliknya, realitas menghantam dengan lebih keras. Minggu-minggu berikutnya adalah tentang bagaimana bertahan hidup di atas prinsip yang mahal. Di Jakarta, prinsip sering kali terasa seperti kemewahan yang sulit dikunyah saat tagihan rumah sakit dan biaya operasional studio mulai membengkak.
Namun, di tengah himpitan itulah, hukum semesta tentang resonansi mulai bekerja. Ketika seseorang berani mempertahankan frekuensi kejujurannya, ia akan mulai menarik orang-orang dengan frekuensi yang sama.
Harga dari Sebuah "Tidak"
Bulan Maret berakhir dengan catatan keuangan yang merah bagi Ara. Penolakan terhadap Adrian berarti ia harus kembali ke jalur independen yang lambat. Beberapa galeri kecil yang berafiliasi dengan jaringan Adrian tiba-tiba membatalkan janji pameran kolektif mereka dengan alasan yang tidak jelas. Ara tahu ini adalah bentuk "balas dendam" halus dari industri yang didominasi oleh ego pria seperti Adrian.
"Ibu butuh obat tambahan untuk sarafnya, Ra. Harganya naik lagi bulan ini," ucap bibinya saat Ara baru saja pulang dari studio dengan tangan yang masih berlumuran cat.
Ara menghela napas, menatap saldo di layar ponselnya. Ia hanya punya sisa uang yang cukup untuk makan dua minggu ke depan jika ia membayar semua obat itu.
"Beli saja, Bi. Nanti Ara cari tambahannya," jawab Ara tenang, meski jantungnya berdegup kencang.
Ara duduk di meja makan, sendirian. Ia sempat terpikir: Apakah aku terlalu sombong? Apakah seharusnya aku ambil saja sedikit uang Adrian agar hidupku tidak seberat ini? Namun, setiap kali keraguan itu muncul, ia teringat rasa sesak yang ia rasakan saat Adrian mencoba mendikte temanya. Rasa sesak itu jauh lebih menakutkan daripada rasa lapar.
Nara: Pertemuan dengan Cermin Masa Lalu
Di sebuah kafe kecil di daerah Tebet, Nara sedang duduk dengan segelas kopi yang sudah dingin. Ia sedang menunggu seseorang yang membalas pesannya di forum komunitas open-source. Seseorang yang tertarik pada visinya tentang pendidikan teknologi gratis.
Pintu kafe terbuka, dan seorang pria dengan rambut gondrong yang diikat berantakan serta kemeja flanel kusam masuk. Ia melihat sekeliling, lalu menghampiri meja Nara.
"Nara Aditya? CTO yang menghebohkan Singapura dengan aksi pengunduran diri paling 'suci' tahun ini?" pria itu terkekeh, suaranya parau namun ramah.
Nara tertegun. "Luki? Luki Setiawan?"
Luki adalah teman kuliah Nara yang dulu dianggap sebagai "pemberontak". Luki keluar dari sistem korporasi jauh sebelum Nara, memilih untuk tinggal di desa dan membangun jaringan internet swadaya untuk petani. Dulu, Nara sering meremehkan Luki sebagai orang yang tidak ambisius. Sekarang, keadaan berbalik.
"Aku dengar kamu lagi bangun platform pendidikan gratis. Aku punya infrastruktur server yang nggak terpakai di komunitas desaku. Kita bisa integrasikan itu kalau kamu mau," ucap Luki tanpa basa-basi.
"Tapi aku nggak punya modal buat bayar sewa atau biaya perawatan, Luk," aku Nara jujur.