Jam digital di gerbang taman kota menunjukkan pukul 17.00.
Matahari belum tenggelam.
Namun sinarnya telah berubah lembut, memantul di sela-sela dedaunan yang mulai bergerak pelan diterpa angin sore.
Taman itu hidup.
Anak-anak berlari mengejar gelembung sabun yang beterbangan.
Suara tawa mereka bersahutan.
Di jalur setapak, sepasang lansia berjalan berdampingan. Langkah mereka pelan. Sesekali berhenti hanya untuk memandangi bunga yang bermekaran di sisi jalan.
Seorang penjual balon sibuk melayani anak-anak yang berebut memilih warna favorit mereka.
Merah.
Kuning.
Biru.
Hijau.
Semua tampak seperti sore yang biasa.
Sampai seseorang memasuki taman.
Pria itu datang dari arah gerbang timur.
Usianya sekitar tiga puluh tahun.
Kemeja abu-abu berlengan panjang digulung hingga siku. Celana jeans gelap. Sepasang sepatu kanvas yang mulai memudar warnanya.
Sebuah kamera tergantung di lehernya.
Ia berjalan tanpa tergesa.
Tanpa menoleh ke kanan.
Tanpa menoleh ke kiri.
Seolah jalan yang dilaluinya sudah ia hafal di luar kepala.
Tak seorang pun menyapanya.
Dan ia juga tidak menyapa siapa pun.
Langkahnya berhenti di sebuah bangku kayu paling ujung taman.
Bangku yang menghadap pohon trembesi tua dengan dahan yang menjulur lebar.
Ia duduk.
Perlahan membuka penutup lensa kameranya.
Tangannya bergerak begitu terbiasa.
Tidak tergesa.
Tidak ragu.
Lensa diarahkan ke atas.
Di salah satu ranting.
Seekor burung pipit kecil sedang membersihkan bulunya dengan paruh mungilnya.
Pria itu menunggu.
Tidak langsung memotret.
Matanya mengikuti setiap gerakan kecil burung itu.
Saat cahaya matahari jatuh tepat di sayapnya...
Klik.
Suara rana kamera terdengar singkat.
Ia menurunkan kamera.
Memeriksa hasilnya beberapa detik.
Sudut bibirnya terangkat sangat tipis.
Lalu kamera kembali diangkat.
Menunggu lagi.
Seolah ia tahu...
Beberapa detik lagi burung itu akan melompat ke ranting berikutnya.
Dan benar saja.
Burung kecil itu berpindah.
Klik.
Satu foto lagi.
Di taman yang riuh itu...
Pria tersebut tetap tenggelam dalam dunianya sendiri.
Teriakan kecil memecah suasana.
"Balonku!"
Seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun menangis.
Balon merah yang tadi digenggamnya terlepas.
Angin sore membawanya naik.
Semakin tinggi.
Lalu berhenti.
Tersangkut di salah satu ranting pohon.
Anak itu mendongak.
Air matanya mulai jatuh.
Ibunya mencoba meraih.
Tidak sampai.
Beberapa orang ikut membantu.
Ada yang mengambil tongkat.
Ada yang berdiri di atas bangku.
Tetap tidak berhasil.
Balon itu bergoyang pelan.
Nyaris lepas.
Namun ranting kecil menahannya.
Pria berkamera itu menurunkan kameranya.
Ia berdiri.
Tanpa suara.
Tanpa menawarkan bantuan.
Ia hanya berjalan menuju pohon.
Kamera diletakkan hati-hati di atas bangku.
Tangannya memegang batang pohon.
Lalu memanjat.
Gerakannya tenang.
Tidak tergesa.