Jam di layar ponsel menunjukkan pukul 16.30.
Matahari masih tinggi.
Namun sinarnya mulai kehilangan terik.
Langit perlahan berubah menjadi warna yang selalu ditunggu Yuna setiap sore.
Ia melangkah melewati gerbang taman kota.
Tas kain berwarna krem menggantung di bahu kirinya.
Langkahnya pelan.
Bukan karena lelah.
Memang seperti itulah ia berjalan.
Tidak terburu-buru.
Seolah sore bukan sesuatu yang harus dikejar.
Melainkan dinikmati sedikit demi sedikit.
Beberapa anak berlarian melewatinya sambil membawa gelembung sabun.
Seorang ayah menggendong putrinya di bahu.
Penjual balon mulai memenuhi sisi jalan.
Di kejauhan terdengar suara peluit seorang petugas taman yang mengingatkan anak-anak agar tidak berlari ke jalur sepeda.
Yuna tersenyum kecil.
Ia berhenti di depan gerobak roti.
"Seperti biasa, Mbak?"
Penjual itu sudah mengenalnya.
Yuna mengangguk.
"Satu."
Tak lebih.
Tak kurang.
Penjual itu menyerahkan sebungkus roti tawar yang masih hangat.
Yuna membayar.
Mengucapkan terima kasih.
Lalu kembali melangkah.
Tujuannya selalu sama.
Bangku kayu di bawah pohon trembesi besar.
Bangku yang sedikit menjauh dari keramaian.
Bangku yang menghadap hamparan rumput dan dahan-dahan tempat burung sering singgah menjelang petang.
Ia duduk.
Membuka bungkus roti perlahan.
Tangannya merobek roti menjadi potongan-potongan kecil.
Satu.
Dua.
Tiga.
Potongan-potongan itu diletakkan di telapak tangannya.
Tak lama kemudian...
Seekor burung pipit mendarat beberapa meter di depannya.
Disusul burung lain.
Lalu satu lagi.
Mereka melompat kecil di atas rumput.
Ragu-ragu.
Namun tidak benar-benar takut.
Yuna melemparkan sepotong remah roti.
Burung pertama mematuknya.
Yang lain ikut mendekat.
Sedikit demi sedikit...
Rumput di depannya dipenuhi burung-burung kecil.
Yuna tersenyum.
Tidak lebar.
Namun cukup membuat wajahnya tampak hangat.
Tangannya terus menebarkan remah roti.
Pelan.
Tidak pernah melempar terlalu jauh.
Tidak pernah membuat burung-burung itu berebut.
Seolah ia sudah tahu...
Sore memiliki caranya sendiri untuk mengajarkan kesabaran.
Ketika potongan roti tinggal separuh...
Yuna menghentikan tangannya.
Burung-burung masih mematuki sisa remah di rumput.
Ia menyandarkan punggung ke bangku.
Lalu memejamkan mata.
Angin sore menyentuh wajahnya.
Rambutnya bergerak pelan.
Daun-daun di atas kepala saling bergesekan.
Di kejauhan...
Anak-anak masih tertawa.
Sepeda melintas.
Langkah kaki seseorang menyusuri jalan setapak.
Suara penjual balon menawarkan dagangannya.
Semuanya bercampur menjadi satu.
Namun Yuna tidak mencari semua suara itu.
Ia menunggu.
Satu suara.
Yang selalu ia cari setiap sore.
Kicau burung.
Beberapa detik berlalu.
Lalu...
Terdengar.
Pelan.
Jauh.
Samar.
Sudut bibirnya perlahan terangkat.
Masih ada.
Hari ini masih ada.
Ia tetap memejamkan mata.
Berusaha menangkap suara berikutnya.
Satu lagi.
Satu lagi.
Namun yang datang hanya desir angin.
Lalu suara anak kecil tertawa.
Kemudian langkah seseorang.