Sore kembali turun di taman kota.
Langit perlahan berubah dari biru pucat menjadi semburat keemasan. Cahaya matahari menyelinap di sela-sela daun trembesi yang menaungi bangku-bangku tua di sepanjang jalur setapak.
Semuanya terasa sama.
Anak-anak berlarian mengejar gelembung sabun.
Penjual balon kembali berdiri di dekat gerbang.
Sepasang lansia berjalan perlahan sambil berbagi cerita yang tak terdengar.
Dan seperti dua sore sebelumnya...
Yuna kembali datang.
Tas kain tergantung di bahu kirinya.
Sebungkus roti tawar berada di tangannya.
Ia berhenti sebentar di bawah pohon besar.
Duduk di bangku yang sama.
Membuka bungkus roti.
Merobeknya menjadi potongan-potongan kecil.
Tak lama kemudian, burung-burung mulai berdatangan.
Seekor pipit hinggap di rumput.
Disusul dua ekor burung gereja.
Lalu semakin banyak.
Yuna melemparkan remah roti sedikit demi sedikit.
Tidak terlalu dekat.
Tidak terlalu jauh.
Ia sudah hafal jarak yang membuat burung-burung itu merasa aman.
Senyum kecil muncul di wajahnya.
Ketika potongan roti tinggal separuh...
Tangannya berhenti bergerak.
Kelopak matanya perlahan menutup.
Angin sore menyentuh pipinya.
Ia menarik napas panjang.
Lalu mendengarkan.
Desir daun.
Langkah kaki.
Tawa anak-anak.
Suara roda sepeda yang melintas.
Di antara semuanya...
Ia mencari satu suara.
Kicauan burung.
Hari ini...
Masih ada.
Pelan.
Tipis.
Namun cukup jelas untuk membuat senyumnya bertahan sedikit lebih lama.
Klik.
Suara rana kamera memecahkan keheningan.
Yuna membuka mata.
Tatapannya langsung menuju bangku paling ujung taman.
Pria berkamera itu kembali datang.
Masih mengenakan kemeja abu-abu yang sama.
Masih duduk di tempat yang sama.
Dan...
Masih mengarahkan kameranya ke arahnya.
Yuna memandang cukup lama.
Kemarin ia memilih diam.
Hari ini...
Rasa penasaran terasa lebih besar daripada keraguannya.
Ia berdiri.
Membersihkan remah roti di telapak tangannya.
Merapikan tas kainnya.
Lalu mulai melangkah.
Satu langkah.
Dua langkah.
Semakin dekat.
Suara dedaunan bergesekan di atas kepala mereka.
Pria itu baru mengangkat wajah ketika bayangan Yuna jatuh tepat di depan bangkunya.
Tatapan mereka bertemu.
Tak ada senyum.
Tak ada sapaan.
Hanya dua orang asing yang akhirnya berdiri tanpa dipisahkan jarak.
Yuna menunjuk kamera di tangan pria itu.
Lalu menunjuk dirinya sendiri.
Alisnya sedikit terangkat.
Pertanyaan itu begitu jelas meski tak diucapkan.
"Tadi... kamu memotret aku?"
Pria itu membeku.
Tangannya yang memegang kamera sedikit menegang.
Matanya berpindah dari wajah Yuna ke kamera, lalu kembali lagi.
Bibirnya terbuka sejenak.
Seolah ingin menjelaskan.
Namun...
Tak ada suara.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang aneh.
Lalu ia buru-buru meraih ponselnya.
Jarinya bergerak cepat di atas layar.
Mengetik.
Menghapus.
Mengetik lagi.
Kemudian ia membalikkan layar ponselnya ke arah Yuna.
Hanya satu kata.
Maaf.
Yuna membaca tulisan itu.
Lalu kembali menatap pria di depannya.
Keningnya berkerut pelan.
Kenapa harus mengetik?
Mereka berdiri begitu dekat.
Kalau memang ingin meminta maaf...
Bukankah lebih mudah mengatakannya?
Pria itu tampak semakin gugup.
Ia menundukkan kepala sesaat.
Jari-jarinya menggenggam ponsel begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Seolah ia sedang menunggu kemarahan.
Atau penolakan.
Namun Yuna tidak melakukan keduanya.
Ia hanya diam.
Semakin penasaran.
Melihat Yuna belum pergi, pria itu menarik napas pelan.
Ia menyimpan ponselnya.
Lalu mengangkat kamera yang sejak tadi berada di pangkuannya.
Bukan untuk memotret.
Ia menekan beberapa tombol.
Membuka galeri.