Pagi itu, hujan semalam masih meninggalkan jejak di kaca jendela. Tetes-tetes kecil menggantung di ujung daun mangga di halaman rumah. Cahaya matahari baru saja muncul, tipis dan pucat, seperti belum benar-benar yakin untuk memulai hari.
Juno duduk di depan komputer.
Kamera tergeletak di samping keyboard. Kartu memorinya sudah terpasang. Satu per satu foto dari sore kemarin memenuhi layar.
Burung pipit di ranting rendah.
Langit jingga di atas trembesi.
Bayangan daun yang jatuh di rumput basah.
Ia menggulir perlahan. Tidak terburu-buru. Setiap foto berhenti beberapa detik di matanya, seolah ia sedang mendengarkan sesuatu yang tersembunyi di dalam gambar.
Lalu ia menemukan satu foto.
Seekor pipit kecil bertengger di ujung ranting. Kepalanya sedikit miring. Cahaya pagi menyentuh bulu-bulu halus di lehernya. Latar belakangnya kabur, hanya menyisakan semburat hijau dan emas.
Juno memperbesar foto itu.
Sudut bibirnya terangkat sedikit.
Ia membuka WhatsApp.
Di daftar percakapan hanya ada satu obrolan baru dengan nama profil Little Bird.
Foto profilnya sederhana: siluet burung kecil di atas langit pucat.
Juno tidak mengetik apa pun.
Ia hanya menekan ikon lampiran, memilih foto pipit tadi, lalu mengirimkannya.
Pesan terkirim.
Satu centang.
Dua centang.
Juno meletakkan ponselnya di meja.
Baginya, satu foto sudah cukup mewakili banyak kata.
Ia kembali menatap layar komputer. Namun beberapa menit kemudian, tangannya tanpa sadar meraih ponsel lagi.
Masih belum ada balasan.
Ia mengunci layar.
Siang bergerak pelan.
Juno bekerja di studio kecilnya. Ia mengedit foto untuk klien, memotong cahaya, menyesuaikan warna, menghapus noda kecil yang hampir tak terlihat. Musik instrumental mengalun pelan dari speaker, nyaris tenggelam oleh bunyi klik mouse dan ketukan keyboard.
Sesekali, layar ponselnya menyala.
Bukan dari Little Bird.
Ia tidak langsung membuka notifikasi lain. Ponsel itu hanya dibiarkan terbalik di samping komputer. Namun setiap kali layar menyala, matanya tetap melirik sekilas.
Menjelang sore, hujan tipis turun lagi. Cahaya di ruangan berubah abu-abu. Juno menyimpan hasil edit terakhir, meregangkan bahu, lalu akhirnya mengambil ponselnya.
Masih belum ada balasan.
Ia membuka percakapan itu. Foto pipit yang dikirim pagi tadi memenuhi layar. Tidak ada teks. Tidak ada emoji. Hanya gambar seekor burung kecil yang diam di ujung ranting.
Juno menatapnya beberapa detik, lalu mengunci layar lagi.
Malam datang bersama aroma tanah basah. Lampu meja menyala, membentuk lingkaran cahaya hangat di atas tumpukan lensa dan kartu memori.
Ponselnya bergetar.
Juno segera meraihnya.
Di layar muncul notifikasi dari Little Bird.
Bagus sekali.
Hanya dua kata.
Juno membacanya sekali. Lalu sekali lagi.
Ia mengetik balasan panjang: Terima kasih. Aku mengambilnya pagi tadi setelah hujan. Cahaya di ranting itu bagus sekali.
Jarinya berhenti.
Satu per satu kalimat itu dihapus.
Akhirnya ia hanya mengirim satu emoji senyum kecil.
Pesan terkirim.
Percakapan kembali sunyi.
Namun anehnya, kesunyian itu tidak terasa kosong.
Hari-hari berikutnya membentuk pola yang hampir sama.
Pagi atau siang, Juno mengirim satu foto. Kadang burung yang hinggap di kabel listrik. Kadang langit sore yang terbelah awan tipis. Kadang cahaya matahari yang menembus daun-daun trembesi di taman kota.
Ia selalu mengirim tanpa keterangan.
Dan Little Bird selalu membalas.
Tetapi tidak pernah cepat.
Satu jam kemudian.
Dua jam kemudian.
Kadang baru malam hari.
Cantik.
Sukanya yang ini.
Langitnya tenang.
Balasan-balasan itu singkat. Tidak pernah lebih dari beberapa kata.
Awalnya Juno tidak memikirkannya. Ia memang tidak pandai mengobrol. Foto-foto itu dikirim bukan untuk memulai percakapan panjang, melainkan karena ia ingin membagikan sesuatu yang ia lihat.
Namun setelah beberapa hari, ia mulai menyadari kebiasaannya sendiri.
Setiap selesai mengirim foto, tangannya akan meraih ponsel lagi beberapa menit kemudian.
Belum ada balasan.
Ia meletakkannya.
Lima belas menit kemudian, ia mengambilnya lagi.
Masih sunyi.
Suatu sore, setelah mengirim foto langit yang berubah ungu di atas taman kota, Juno duduk di tepi ranjang sambil memandangi layar ponselnya yang gelap.
Sepuluh menit.
Dua puluh menit.
Satu jam.
Tidak ada notifikasi.
Ia menghela napas pelan.
Di luar jendela, burung-burung terakhir terbang menuju sarang. Langit perlahan kehilangan warnanya.
Juno membuka kembali percakapan dengan Little Bird. Deretan foto-foto yang ia kirim memenuhi layar seperti potongan-potongan senja yang tersimpan rapi.
Ia menatap layar itu cukup lama.
Lalu, tanpa sadar, sebuah pertanyaan muncul di benaknya.
Apa dia memang tidak terlalu ingin mengobrol?
Pertanyaan itu tidak dijawab siapa pun.