Sore kembali datang.
Matahari belum benar-benar rendah ketika Juno melangkah memasuki taman kota.
Kamera tergantung di lehernya.
Tas kecil berisi lensa cadangan tersampir di bahu.
Langkahnya tenang.
Tanpa ragu.
Seolah tubuhnya telah hafal jalan menuju bangku paling ujung.
Sudah hampir dua minggu.
Setiap sore...
Rutinitas itu selalu sama.
Bangku kayu yang menghadap pohon besar sudah seperti tempat yang diam-diam menunggunya.
Ia duduk.
Membuka penutup lensa.
Mengangkat kamera.
Klik.
Seekor burung gereja sedang bertengger di dahan rendah.
Klik.
Seekor kupu-kupu hinggap di bunga liar.
Klik.
Langit masih berwarna biru pucat.
Ia menurunkan kamera.
Melihat jam tangan.
Masih beberapa menit lagi.
Ia kembali memandangi jalan setapak menuju gerbang taman.
Belum ada siapa-siapa.
Anak-anak masih berlarian mengejar gelembung sabun.
Penjual balon tertawa melayani pembeli.
Pasangan lansia berjalan perlahan sambil berbagi cerita.
Suasana taman tidak banyak berubah sejak pertama kali ia datang ke tempat itu.
Yang berubah...
Hanya satu hal.
Kini ada seseorang yang tanpa sadar selalu ia tunggu.
Juno kembali melihat jam.
Hampir pukul lima.
Tak lama kemudian...
Seorang perempuan muncul dari gerbang taman.
Tas kain tergantung di bahu kirinya.
Sebungkus roti berada di tangannya.
Langkahnya tidak cepat.
Tidak pula lambat.
Seolah ia berjalan mengikuti irama sore.
Juno memperhatikannya beberapa detik.
Tanpa sadar...
Sudut bibirnya sedikit terangkat.
Perempuan itu mendekat.
Ketika jarak mereka tinggal beberapa langkah...
Mereka saling mengangguk pelan.
Tidak ada sapaan.
Tidak ada senyum lebar.
Namun keheningan itu terasa berbeda.
Tidak lagi canggung.
Perempuan itu duduk di bangku yang sama.
Masih menyisakan jarak di antara mereka.
Tidak terlalu dekat.
Tidak terlalu jauh.
Jarak yang perlahan berubah menjadi kebiasaan.
Yuna membuka bungkus roti.
Merobeknya menjadi potongan-potongan kecil.
Lalu menebarkannya ke atas rumput.
Beberapa burung pipit segera turun.
Melompat-lompat kecil.
Mematuk remah roti.
Juno mengangkat kamera.
Klik.
Seekor pipit membawa remah roti di paruhnya.
Klik.
Burung lain mengepakkan sayap.
Klik.
Bayangan burung melintas di atas rumput yang diterpa cahaya sore.
Yuna memperhatikan dari sudut matanya.
Ia tidak mengatakan apa pun.
Namun beberapa hari terakhir...
Ia mulai hafal kebiasaan laki-laki itu.
Setiap kali cahaya matahari berubah keemasan...
Kamera akan terangkat.
Setiap kali burung berpindah dahan...
Jari telunjuknya akan menekan tombol rana.
Setiap kali angin menggoyangkan daun...
Lensa kameranya perlahan mengikuti arah cahaya.
Sementara itu...
Tanpa pernah menyadarinya...
Juno juga mulai menghafal kebiasaan perempuan di sampingnya.
Ia selalu datang membawa roti.
Selalu membaginya kepada burung-burung.
Tidak pernah sekalipun lupa.
Dan menjelang matahari tenggelam...
Ia selalu memejamkan mata.
Lama.
Lebih lama daripada orang yang sekadar menikmati angin sore.
Juno pernah beberapa kali ingin bertanya.
Namun setiap kali keinginan itu muncul...
Ia hanya memilih mengangkat kamera.
Klik.
Sebuah daun jatuh perlahan.
Klik.
Siluet perempuan itu di bawah pohon.
Klik.
Langit mulai berubah jingga.
Ada banyak hal yang belum mereka ketahui.
Namun kebiasaan-kebiasaan kecil itu...
Perlahan menjadi cara mereka saling mengenal.
Tanpa nama.
Tanpa cerita.
Tanpa suara.
Burung-burung mulai kembali ke dahan.
Anak-anak satu per satu meninggalkan taman.
Cahaya matahari semakin lembut.
Juno menurunkan kameranya.
Tangannya meraih ponsel.
Ia membuka aplikasi catatan.