Pagi datang dengan cahaya yang lembut.
Embun masih menggantung di ujung daun-daun kecil di balkon rumah.
Yuna berdiri di sana.
Sebuah penyiram tanaman berada di tangan kanannya.
Air mengalir perlahan.
Mengenai pot demi pot.
Daun-daun kecil bergoyang pelan diterpa tetesan air.
Ia menyukai pagi yang tenang.
Tidak banyak suara.
Tidak banyak orang.
Hanya angin.
Dan dedaunan.
Di dalam kamar...
Ponselnya tergeletak di atas meja belajar.
Layar menyala sesaat.
Getaran pendek terdengar.
Sebuah pesan masuk.
Nama pengirimnya bukan nama seseorang.
Melainkan nama profil yang sudah mulai terasa akrab.
Still Frame.
Yuna tidak melihatnya.
Ia masih sibuk memperhatikan bunga melati yang mulai berbunga.
Beberapa helai daun tua dipetiknya perlahan.
Lalu ia menggemburkan sedikit tanah di dalam pot.
Waktu berjalan tanpa terasa.
Matahari naik sedikit lebih tinggi.
Burung-burung beterbangan melintasi atap rumah.
Yuna masih berada di balkon.
Sesekali ia memandang langit.
Sesekali menarik napas panjang.
Baru hampir satu jam kemudian...
Ia kembali ke kamar.
Tangannya meraih gelas di meja.
Lalu pandangannya jatuh pada layar ponsel.
Ada satu notifikasi.
WhatsApp.
Dari Still Frame.
Matanya sedikit membesar.
"Oh..."
Ia segera membuka pesan itu.
Tidak ada tulisan.
Hanya sebuah foto.
Langit pagi.
Berwarna biru muda.
Seekor burung kecil melintas jauh di antara awan tipis.
Sederhana.
Namun entah mengapa...
Foto itu membuat pagi terasa lebih tenang.
Sudut bibir Yuna terangkat.
Ia memperbesar gambar itu.
Mengamatinya beberapa detik.
Lalu mengetik pelan.
Bagus sekali. Maaf baru balas.
Ia menatap kalimat itu sebentar.
Kemudian menekan tombol kirim.
Pesan langsung berubah menjadi dua centang biru.
Yuna meletakkan kembali ponselnya.
Tidak ada percakapan panjang.
Tidak ada pertanyaan.
Tidak ada sapaan.
Namun beberapa minggu terakhir...
Beginilah cara mereka saling hadir.
Sebuah foto.
Lalu balasan sederhana.
Dan anehnya...
Itu sudah terasa cukup.
Sementara itu...
Di tempat lain.
Seorang laki-laki sedang duduk di depan komputer.
Cahaya monitor menerangi wajahnya.
Foto demi foto memenuhi layar.
Burung.
Pepohonan.
Langit.
Ia menyelesaikan beberapa sentuhan terakhir.
Lalu menoleh ke arah ponselnya.
Pesan yang ia kirim pagi tadi sudah dibalas.
Hanya beberapa kata.
Namun ia tetap tersenyum kecil.
Tangannya kembali bekerja.
Waktu terus berjalan.
Malam datang perlahan.
Lampu meja menyala.
Di samping keyboard...
Secangkir kopi masih mengepulkan uap tipis.
Ia mengangkat kamera.
Memindahkan beberapa hasil foto.
Sesekali berhenti.
Memilih satu gambar.
Bukan burung kali ini.
Melainkan secangkir kopi di atas meja kayu.
Cahaya lampu membuat bayangannya terlihat hangat.
Ia mengambil gambar itu.
Klik.
Beberapa detik kemudian...
Foto itu berpindah ke layar ponsel.
Tanpa menambahkan tulisan apa pun...
Ia mengirimkannya.
Terkirim.
Ponsel kembali diletakkan.
Ia melanjutkan pekerjaannya.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Tanpa sadar...
Tangannya kembali meraih ponsel.
Belum ada balasan.
Ia tersenyum tipis.
Mungkin...
Pemilik akun Little Bird sedang sibuk.
Ia kembali mengedit foto.
Namun beberapa menit kemudian...
Layar ponsel kembali dinyalakan.
Masih sunyi.
Jam dinding bergerak perlahan menuju pukul sebelas malam.
Kopi di meja tak lagi mengepul.
Layar WhatsApp masih sama.
Tidak ada pesan baru.
Akhirnya lampu kamar dipadamkan.
Komputer dimatikan.