Jika Suatu Hari Aku Mendengar Suaramu

GAZALI
Chapter #8

BAB 8 - Rahasia Yuna

Pagi datang tanpa banyak suara.

Cahaya matahari masuk melalui jendela ruang makan.

Menyentuh meja kayu yang sederhana.

Dua piring telah tersusun rapi.

Segelas susu hangat mengeluarkan uap tipis.

Yuna duduk diam di salah satu kursi.

Tangannya memeluk cangkir.

Hangatnya merambat perlahan ke jemari.


Rumah itu selalu terasa tenang.

Terlalu tenang.

Jam dinding berdetak pelan.

Sesekali angin menggerakkan tirai putih di dekat jendela.

Tak lama kemudian...

Seorang pria keluar dari dapur.

Membawa dua potong roti panggang di atas piring.

Aroma mentega memenuhi ruangan.

Pria itu meletakkan piring di depan Yuna.

"Sudah siap?"

Yuna mengangkat wajah.

Lalu mengangguk kecil.

"Sudah."

Pria itu tersenyum.

Ia duduk di hadapan Yuna.

Rambutnya sedikit berantakan.

Kemeja yang dikenakannya masih belum benar-benar rapi.

Namun wajahnya selalu terlihat tenang.

Dialah Yudi.

Kakak laki-laki Yuna.

Beberapa tahun lalu...

Rumah itu pernah jauh lebih ramai.

Ada suara ibu yang selalu mengingatkan mereka untuk sarapan.

Ada ayah yang gemar membaca koran sambil menyeruput kopi.

Kini...

Semua itu tinggal kenangan.

Setelah kedua orang tua mereka pergi...

Rumah itu hanya dihuni dua orang.

Yudi.

Dan Yuna.

Tak pernah ada percakapan yang terlalu panjang.

Namun Yuna tahu...

Kakaknya selalu berusaha membuat rumah itu tetap terasa seperti rumah.

Yudi mendorong piring roti sedikit lebih dekat.

"Makan dulu."

"Nanti kita terlambat."

Yuna mengambil satu potong roti.

Menggigitnya pelan.

Yudi memperhatikannya beberapa detik.

"Semalam tidur nyenyak?"

Yuna mengangguk.

"Iya."

Jawaban singkat.

Seperti biasa.

Yudi tidak bertanya lagi.

Ia tahu adiknya memang bukan tipe yang banyak bicara.

Mereka menghabiskan sarapan dalam keheningan yang nyaman.

Tidak canggung.

Tidak pula terasa sepi.

Kadang...

Diam juga bisa menjadi bentuk perhatian.

Setelah selesai makan...

Yudi berdiri lebih dulu.

Mengambil kunci mobil yang tergantung di dekat pintu.

"Ayo."

Yuna meraih tas kainnya.

Tas yang selalu ia bawa ke mana pun.

Lalu mengikuti langkah kakaknya keluar rumah.

 

Rumah sakit belum terlalu ramai.

Lorong-lorong dipenuhi aroma antiseptik.

Langkah kaki bergema pelan di lantai putih mengilap.

Yuna duduk di ruang tunggu.

Tas kain berada di pangkuannya.

Tangannya saling menggenggam.

Sesekali ia memandang pintu ruang pemeriksaan.

Beberapa menit kemudian...

Namanya dipanggil.

Yudi berdiri lebih dulu.

Mereka masuk bersama.

Dokter yang sudah beberapa tahun menangani Yuna menyambut mereka dengan senyum hangat.

"Silakan duduk."

Yuna duduk perlahan.

Dokter membuka map berisi hasil pemeriksaan.

Beberapa lembar grafik memenuhi meja.

Ruangan kembali hening.

Dokter membaca satu per satu hasilnya.

Lalu mengembuskan napas pelan.

"Pendengaranmu kembali menurun."

Yuna tidak menjawab.

Tatapannya tertuju pada ujung meja.

Dokter melanjutkan.

"Kamu masih bisa menangkap suara tertentu."

"Tetapi..."

"...rentang frekuensi yang bisa kamu dengar semakin sempit."

Yuna mengepalkan jemarinya di atas tas.

Ia sudah menduga.

Namun mendengar kalimat itu tetap terasa berbeda.

Dokter membalik halaman berikutnya.

"Ada satu hal lagi."

Yudi mengangkat kepala.

Dokter menatap Yuna dengan hati-hati.

"Kami mulai melihat perubahan pada kemampuan bicaramu."

Yuna perlahan mendongak.

"Kalau kondisi ini terus berkembang..."

"...otot-otot yang jarang digunakan untuk berbicara bisa ikut melemah."

Ruangan kembali sunyi.

Jam dinding terdengar berdetak.

Sangat pelan.

Yuna menelan ludah.

"Tidak sekarang."

"Kemungkinan itu masih bisa diperlambat."

"Tetapi..."

"Kamu perlu mulai mempersiapkan diri."

Yuna hanya mengangguk kecil.

Tidak ada pertanyaan.

Tidak ada tangisan.

Ia hanya menggenggam tali tasnya lebih erat.

Seolah benda kecil itu mampu menahan sesuatu yang hampir runtuh di dalam dirinya.

Dokter menutup map pemeriksaan.

"Sampai hari itu benar-benar datang..."

"...teruslah lakukan hal-hal yang kamu sukai."

"Jangan berhenti menikmati suara yang masih bisa kamu dengar."

Kalimat itu membuat Yuna terdiam cukup lama.

Di kepalanya...

Muncul bayangan taman.

Burung-burung.

Langit sore.

Dan bangku yang selalu ia datangi setiap hari.

 

Mobil melaju perlahan meninggalkan rumah sakit.

Jalanan siang itu cukup lengang.

Pepohonan berbaris di sepanjang trotoar.

Bayangannya bergerak perlahan di kaca mobil.

Tidak ada yang berbicara.

Radio di dashboard mati.

Hanya suara mesin yang terdengar pelan.

Yudi memegang kemudi dengan kedua tangan.

Tatapannya lurus ke depan.

Beberapa kali ia melirik adiknya.

Yuna terus memandang keluar jendela.

Entah apa yang sedang dipikirkannya.

Beberapa menit berlalu.

Akhirnya Yudi membuka suara.

"Yun..."

Lihat selengkapnya