Malam masih menggantung di luar jendela.
Kota belum benar-benar terbangun.
Lampu jalan masih menyala redup.
Jam digital di samping tempat tidur menunjukkan pukul 04.17.
Juno membuka mata.
Napasnya terdengar sedikit lebih cepat.
Dahinya dipenuhi keringat tipis.
Ia tetap diam.
Tatapannya kosong mengarah ke langit-langit kamar.
Beberapa detik berlalu.
Lalu perlahan ia duduk di tepi tempat tidur.
Kamarnya sunyi.
Hanya suara kipas angin yang berputar pelan.
Di sudut ruangan...
Sebuah kamera tergantung pada pengait di dinding.
Lensa menghadap ke arahnya.
Tatapan Juno berhenti di sana.
Tangannya mengepal tanpa sadar.
Lalu...
Sebuah bayangan melintas.
Hujan.
Sangat deras.
Air memenuhi kaca mobil.
Lampu-lampu kendaraan memantul menjadi garis-garis panjang.
Wiper bergerak cepat.
Krek...
Krek...
Krek...
Suara hujan memukul atap mobil.
Kemudian...
Cahaya putih yang menyilaukan.
Klakson.
Panjang.
Memekakkan telinga.
Suara rem.
Jeritan ban yang bergesekan dengan aspal.
Lalu...
Benturan.
Begitu keras.
Segalanya berputar.
Dunia seakan terbalik.
Di tengah kekacauan itu...
Terdengar suara seorang anak kecil.
Parau.
Penuh ketakutan.
"Ayah...!"
Suara itu begitu jelas.
Begitu putus asa.
Suara itu adalah suaranya sendiri.
Juno tersentak.
Napasnya memburu.
Ia menundukkan kepala.
Tangannya mencengkeram ujung kasur.
Kenangan itu selalu berhenti di bagian yang sama.
Tidak pernah lebih jauh.
Tidak pernah lebih jelas.
Namun rasa sesaknya...
Selalu sama.
Seolah kecelakaan itu baru terjadi semalam.
Ia memejamkan mata.
Mengatur napas.
Satu tarikan panjang.
Satu embusan perlahan.
Beberapa menit kemudian...
Dadanya mulai terasa lebih ringan.
Ia bangkit.
Berjalan menuju jendela.
Embun masih menempel di kaca.
Langit mulai berubah kebiruan.
Hari baru telah datang.
Tetapi sebagian dari dirinya...
Masih tertinggal pada malam bertahun-tahun lalu.
Juno memasuki kamar mandi.
Air dingin membasuh wajahnya.
Ia mengangkat kepala.
Menatap pantulan dirinya di cermin.
Wajah yang sama.
Tatapan yang sama.
Namun rasanya seperti melihat orang asing.
Ia berdiri cukup lama.
Bibirnya bergerak perlahan.
Seolah ingin mengucapkan sesuatu.
Sangat pelan.
"..."
Tak ada suara.
Bukan karena tenggorokannya bermasalah.
Bukan pula karena pita suaranya rusak.
Ia hanya...
Menghentikan suara itu sebelum sempat keluar.
Rahangnya mengeras.
Ia menelan ludah.
Mencoba sekali lagi.
Bibirnya kembali terbuka.
"A..."
Huruf pertama nyaris lahir.
Namun kembali menghilang.
Ia menutup mulutnya.
Menggeleng kecil.
Sudah cukup.
Hari ini pun...
Ia memilih diam.
Di atas wastafel terletak sebuah sikat gigi.
Di sampingnya...
Kamera kecil berwarna hitam.
Tangannya justru mengambil kamera itu.
Mengusap bodinya perlahan.
Lensa memantulkan wajahnya.
Juno tersenyum tipis.
Ada hal-hal yang tak mampu ia katakan.
Tetapi kamera selalu berhasil mengatakannya.
Tanpa suara.
Tanpa keberanian.
Menjelang sore...
Langit mulai berubah hangat.
Juno berjalan memasuki taman.
Langkahnya sudah hafal arah.
Bangku paling ujung.
Pohon besar.
Rumput yang mulai menguning terkena cahaya senja.
Semuanya terasa akrab.
Ia duduk.
Mengeluarkan kamera.
Belum memotret.
Tatapannya justru mengarah ke gerbang taman.
Tanpa sadar...
Ia menunggu.
Tak lama kemudian...
Sosok yang dikenalnya muncul.
Tas kain menggantung di bahu.