Matahari mulai turun.
Cahaya keemasan menyelinap di antara ranting-ranting tua yang menaungi taman.
Sore itu tampak sama seperti sore-sore sebelumnya.
Bangku kayu di sudut taman telah ditempati seseorang sejak setengah jam lalu.
Juno.
Kamera berada di pangkuannya.
Ia sedang memperhatikan seekor pipit yang sibuk mematuk rumput.
Klik.
Satu foto.
Lalu ia menurunkan kameranya.
Tatapannya beralih ke arah gerbang taman.
Tanpa sadar...
Ia sudah hafal waktu kedatangan seseorang.
Beberapa menit lagi...
Ia pasti muncul.
Benar saja.
Sesosok perempuan berjalan memasuki taman.
Tas kain krem menggantung di bahu.
Sebungkus roti berada di tangannya.
Juno tersenyum kecil.
Perempuan itu juga membalas senyum tipis.
Mereka tidak pernah saling melambaikan tangan.
Tidak pernah memanggil nama.
Namun entah sejak kapan...
Pertemuan setiap sore itu terasa seperti sebuah janji yang tidak pernah diucapkan.
Yuna duduk di sampingnya.
Masih menyisakan jarak yang sama seperti biasanya.
Tidak terlalu dekat.
Tidak terlalu jauh.
Ia mengeluarkan roti dari dalam tas.
Mulai merobeknya menjadi potongan-potongan kecil.
Burung-burung segera berdatangan.
Memenuhi rerumputan.
Juno mengangkat kameranya.
Klik.
Klik.
Klik.
Setelah beberapa saat...
Yuna mengambil ponselnya.
Ia membuka aplikasi catatan.
Lalu mengetik.
"Kita sudah hampir sebulan bertemu."
Juno membaca.
Ia tersenyum.
Lalu mengetik balasan.
"Iya."
Yuna kembali mengetik.
"Tapi kita belum saling kenal."
Juno terdiam.
Benar juga.
Selama ini mereka hanya mengenal dua nama yang muncul di WhatsApp.
Still Frame.
Dan...
Little Bird.
Ia mengambil ponselnya.
Membuka ruang obrolan mereka.
Lalu menunjukkan nama profilnya sambil tersenyum canggung.
Yuna ikut tertawa pelan.
Kemudian ia mengetik lagi.
"Nama itu bukan nama asliku."
Juno menatapnya.
Alisnya sedikit terangkat.
Yuna menghapus tulisannya.
Lalu mengetik ulang.
"Namaku Yuna."
Ia memutar layar ponsel agar Juno bisa membacanya.
Juno memandang tulisan itu beberapa detik.
Yuna.
Nama itu sederhana.
Namun entah mengapa terasa sangat cocok untuknya.
Seperti langit sore.
Tenang.
Juno mengambil ponselnya.
Tangannya bergerak pelan di atas layar.
"Aku Juno."
Yuna membaca.
Lalu tersenyum.
"Juno..."
Ia mengucapkannya perlahan.
Nyaris seperti bisikan.
Juno sedikit terkejut.
Sudah lama sekali...
Tidak ada orang asing yang menyebut namanya secara langsung.
Anehnya...
Ia tidak merasa terganggu.
Mereka saling memandang beberapa detik.
Lalu sama-sama tersenyum kecil.
Tidak ada jabat tangan.
Tidak ada perkenalan panjang.
Hanya dua nama sederhana...
Yang akhirnya menemukan pemiliknya.
Angin sore berembus pelan.
Daun-daun bergoyang.
Burung-burung terus memenuhi halaman taman.
Yuna kembali menebarkan remah roti.
Senyumnya perlahan memudar.
Ia memejamkan mata.
Seperti biasanya.
Setiap sore...
Ia selalu melakukan hal itu.
Menunggu.
Beberapa detik.
Biasanya...
Suara kicau burung akan memenuhi telinganya.
Riuh.
Ramai.
Seolah seluruh taman sedang bernyanyi.
Namun hari itu...
Tidak ada.
Yuna tetap memejamkan mata.
Mungkin ia kurang fokus.
Ia menarik napas panjang.
Mencoba mendengarkan lebih saksama.
Tetap sunyi.
Ia membuka mata.
Seekor pipit melompat di dekat sepatunya.
Paruh kecilnya membuka dan menutup.
Burung itu jelas sedang berkicau.
Ia tahu.
Ia bisa melihatnya.
Tetapi...
Tidak satu pun suara sampai ke telinganya.
Jantung Yuna berdegup lebih cepat.
Tidak.
Jangan sekarang.
Ia memejamkan mata sekali lagi.
Angin masih bergerak.
Daun masih bergoyang.