Jika Suatu Hari Aku Mendengar Suaramu

GAZALI
Chapter #11

BAB 11 - Rahasia yang Hampir Terucap

Sore datang seperti biasanya.

Matahari masih menggantung tinggi, tetapi cahayanya mulai menghangat. Angin berembus pelan, menggoyangkan pucuk-pucuk pohon yang berjajar di sepanjang jalan menuju taman kota.

Yuna berjalan perlahan.

Tas kain krem menggantung di bahu kirinya.

Di tangan kanannya, sebungkus roti yang sudah menjadi bagian dari rutinitasnya.

Sudah hampir dua bulan.

Setiap sore...

Langkahnya selalu berakhir di tempat yang sama.

Bangku paling ujung.

Tempat seorang laki-laki yang dulu hanya dikenal sebagai Still Frame, lalu beberapa hari lalu memperkenalkan dirinya dengan sebuah tulisan sederhana di layar ponselnya.

Namaku Juno.

Sebagai balasannya...

Ia juga akhirnya menulis nama yang selama ini hanya ia simpan untuk orang-orang terdekat.

Aku Yuna.

Sejak hari itu...

Mereka tak lagi hanya dua nama profil di layar WhatsApp.

Mereka mulai menjadi dua orang sungguhan.

Namun anehnya...

Setelah mengetahui nama masing-masing, justru ada lebih banyak hal yang belum sanggup mereka katakan.

 

Hari itu langkah Yuna terasa lebih lambat.

Bukan karena lelah.

Melainkan karena tenggorokannya kembali terasa aneh.

Sejak beberapa hari terakhir...

Suaranya semakin sering menghilang.

Kadang masih keluar, tetapi serak.

Kadang hanya berupa embusan napas.

Kadang...

Tak keluar sama sekali.

Ia sempat berhenti di depan gerbang taman.

Menarik napas panjang.

"Hari ini..."

"Aku harus mengatakannya."

Ia menggenggam bungkus roti sedikit lebih erat.

Lalu kembali berjalan.

 

Dari kejauhan...

Bangku paling ujung sudah terlihat.

Juno duduk seperti biasa.

Kamera berada di pangkuannya.

Ia sedang memperhatikan seekor burung kecil yang bertengger di dahan rendah.

Belum sempat Yuna mendekat...

Juno sudah menyadari kehadirannya.

Ia mengangkat tangan kecil.

Senyumnya tipis.

Namun selalu cukup membuat sore terasa lebih hangat.

Yuna membalas lambaian itu.

Senyum yang sama.

Meski kali ini...

Ada kegelisahan yang tidak mampu ia sembunyikan.

Ia duduk di samping Juno.

Masih dengan jarak yang sama seperti biasanya.

Tidak terlalu dekat.

Namun juga tidak lagi sejauh dulu.

 

Tanpa perlu berbicara...

Mereka mulai melakukan kebiasaan yang telah mereka hafal.

Yuna membuka bungkus roti.

Merobeknya menjadi potongan-potongan kecil.

Menebarkannya perlahan di atas rumput.

Tak lama kemudian...

Burung-burung mulai berdatangan.

Merpati.

Pipit.

Beberapa burung gereja.

Mereka melompat-lompat kecil mendekati remah-remah roti.

Juno mengangkat kamera.

Klik.

Seekor pipit.

Klik.

Sayap yang mengepak.

Klik.

Bayangan burung di atas rumput yang diterpa cahaya sore.

Sesekali ia memperlihatkan hasil fotonya kepada Yuna.

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

Foto-foto Juno selalu berhasil membuat hal-hal sederhana terlihat istimewa.

Seekor burung kecil.

Daun yang berguguran.

Atau cahaya matahari yang menembus sela ranting.

Semuanya tampak hidup.

 

Namun hari itu...

Yuna tidak benar-benar menikmati semuanya.

Ia beberapa kali memandang Juno.

Lalu mengalihkan pandangan.

Dadanya terasa penuh.

Kalimat yang sudah ia susun sejak semalam terus berputar di kepalanya.

"Jun..."

"Aku ingin cerita sesuatu."

"Aku sedang sakit."

"Mungkin suatu hari nanti..."

Ia memejamkan mata.

Tidak.

Belum.

Belum sekarang.

 

Juno melirik sekilas.

Ia menyadari perubahan kecil itu.

Yuna lebih sering diam.

Tatapannya lebih kosong.

Tangannya beberapa kali mengepal di atas pangkuan.

Ia mengambil ponselnya.

Membuka aplikasi catatan.

Lalu mengetik.

Kamu baik-baik saja?

Ia memperlihatkannya.

Yuna membaca.

Beberapa detik.

Lalu tersenyum.

Mengangguk pelan.

Namun setelah itu...

Ia justru menggeleng.

Jawaban yang saling bertentangan.

Juno tersenyum kecil.

Ia mulai terbiasa dengan cara Yuna menjelaskan perasaannya.

Kadang satu anggukan berarti "iya".

Kadang justru berarti "aku tidak tahu."

Ia tidak memaksa.

Ia hanya menghapus tulisannya.

Lalu kembali memotret.

 

Langit mulai berubah warna.

Keemasan perlahan merambat di antara awan.

Yuna memandang langit cukup lama.

Biasanya...

Inilah waktu favoritnya.

Saat burung-burung mulai berkicau paling ramai.

Hari ini ia masih bisa mendengar sebagian.

Namun tidak sejernih dulu.

Suara-suara itu seperti datang dari tempat yang sangat jauh.

Tipis.

Samar.

Seolah tertiup angin.

Ia menutup mata.

Berusaha menangkap setiap nada.

Masih ada.

Sedikit.

Syukurlah...

Masih ada.

Ia tersenyum lega.

Meski hanya sebentar.

 

"Jun..."

Bibirnya bergerak pelan.

Lihat selengkapnya