Jika Suatu Hari Aku Mendengar Suaramu

GAZALI
Chapter #12

BAB 12 - Sore Terakhir

Jam digital di halte menunjukkan pukul 16.30.

Juno sudah duduk di bangku paling ujung taman.

Bangku kayu tua yang cat hijaunya mulai memudar.

Bangku yang, entah sejak kapan, bukan lagi sekadar tempat beristirahat.

Di pangkuannya terbaring kamera hitam yang talinya melingkar di leher.

Tangannya sibuk mengusap lensa dengan kain kecil.

Sudah menjadi kebiasaan.

Bukan karena lensa itu kotor.

Melainkan karena menunggu seseorang selalu membuat tangannya mencari kesibukan.

Angin sore berembus pelan.

Daun-daun bergesekan.

Bayangan pohon bergoyang di atas jalan setapak.

Beberapa anak kecil masih berlari mengejar gelembung sabun.

Seorang penjual balon lewat perlahan.

Seekor kucing belang melompat naik ke pagar taman.

Semuanya terasa sama.

Seperti sore-sore sebelumnya.

Lalu...

Dari kejauhan muncul sosok yang sudah dikenalnya.

Tas kain krem menggantung di bahu kirinya.

Sebungkus roti berada di genggaman tangan.

Langkahnya pelan.

Tidak tergesa.

Juno langsung mengenalinya.

Yuna.

Tanpa sadar...

Senyum kecil muncul di wajahnya.

Yuna melihat bangku itu dari kejauhan.

Tatapan mereka bertemu.

Tidak ada lagi rasa canggung seperti hari pertama.

Tidak ada lagi keraguan.

Yuna mengangkat sedikit bungkus roti di tangannya.

Seolah berkata,

"Aku membawa ini."

Juno mengangkat kameranya.

Menggoyangkannya sedikit.

"Dan aku membawa ini."

Yuna tertawa kecil.

Tawa yang nyaris tak terdengar.

Namun cukup terlihat dari matanya yang menyipit.

Juno ikut tertawa dalam diam.

Kadang...

Hubungan tumbuh bukan karena banyaknya kata.

Melainkan karena kebiasaan-kebiasaan kecil yang terus berulang.

Yuna duduk di sampingnya.

Menyisakan jarak yang tidak terlalu dekat.

Tidak terlalu jauh.

Jarak yang kini terasa pas.

Ia mengeluarkan ponselnya.

Mengetik cepat.

Sudah lama menunggu?

Juno menggeleng.

Kemudian mengambil ponselnya sendiri.

Baru lima menit.

Yuna mengangkat alis.

Lalu menunjuk kamera.

Seolah bertanya,

"Sudah dapat banyak foto?"

Juno mengangguk.

Ia membuka layar kamera.

Beberapa foto langit sore berganti satu demi satu.

Awan tipis.

Ranting.

Seekor burung yang sedang mengepakkan sayap.

Yuna memperhatikan dengan serius.

Setelah itu ia mengacungkan jempol.

Juno tersenyum.

Aneh.

Dulu...

Ia selalu datang ke taman untuk mencari ketenangan.

Sekarang...

Ia datang karena tahu seseorang akan datang membawa ketenangan itu bersamanya.

 

Hari itu mereka tidak langsung duduk lama.

Yuna berdiri lebih dulu.

Ia menunjuk jalan setapak yang mengelilingi taman.

Juno mengangguk.

Mereka mulai berjalan.

Pelan.

Langkah demi langkah.

Tanpa terburu-buru.

Burung-burung gereja mulai mendekati kaki mereka.

Yuna merogoh kantong tas kain.

Mengambil sedikit remah roti.

Lalu menaburkannya perlahan.

Burung-burung langsung bergerak mengikuti.

Melompat kecil.

Sesekali mengepakkan sayap.

Juno berhenti.

Mengangkat kamera.

Klik.

Seekor burung tertangkap tepat saat kedua sayapnya terbuka.

Klik.

Burung lain mematuk remah roti.

Klik.

Cahaya matahari memantul di bulu-bulu kecil mereka.

Ia menurunkan kamera.

Yuna sudah berjalan beberapa langkah di depan.

Juno mempercepat langkah.

Menyusulnya.

Tidak ada yang berbicara.

Tidak ada yang perlu diceritakan.

Kadang...

Diam bukan berarti kosong.

Diam juga bisa berarti nyaman.

Seorang anak kecil berlari melewati mereka.

Seekor merpati terbang rendah.

Yuna tersenyum melihatnya.

Juno diam-diam memotret lagi.

Kali ini...

Bukan burung.

Melainkan senyum Yuna yang muncul begitu alami.

Tanpa pose.

Tanpa sadar.

Klik.

Yuna menoleh.

Melihat kamera yang masih mengarah kepadanya.

Ia pura-pura menggeleng.

Lalu menunjuk dirinya sendiri.

Juno mengangguk sambil tersenyum.

Yuna menepuk pelan lengannya.

Protes tanpa suara.

Juno hanya tertawa kecil.

Ia tahu...

Yuna sebenarnya tidak benar-benar keberatan.

Kalau memang keberatan...

Perempuan itu pasti sudah meminta fotonya dihapus sejak dulu.

Mereka kembali berjalan.

Langkah mereka perlahan menjadi sama.

Tidak ada lagi yang lebih cepat.

Tidak ada lagi yang tertinggal.

Sesekali bahu mereka hampir bersentuhan.

Lalu sama-sama menjauh sedikit.

Malu.

Namun tidak ingin terlalu jauh.

Langit mulai berubah warna.

Biru perlahan bercampur jingga.

Bayangan pohon memanjang.

Angin membawa aroma rumput yang baru dipotong.

Juno memandang ke depan.

Lalu melirik Yuna.

Perempuan itu sedang memperhatikan burung-burung yang beterbangan.

Wajahnya tenang.

Sangat tenang.

Juno tidak tahu.

Di balik ketenangan itu...

Ada perjuangan yang setiap hari semakin berat.

Yang ia lihat hanyalah seorang perempuan yang selalu tersenyum pada sore hari.

Dan baginya...

Itu sudah cukup.

 

Mereka kembali ke bangku di bawah pohon besar.

Tempat pertama kali semuanya dimulai.

Burung-burung mulai memenuhi dahan.

Suara kepakan sayap memenuhi udara.

Juno mendongak.

Langit sore tampak lebih indah daripada biasanya.

Atau mungkin...

Karena hari itu ia melihatnya bersama seseorang.

Ia mengangkat kamera.

Klik.

Langit.

Klik.

Awan.

Lihat selengkapnya