Jika Suatu Hari Aku Mendengar Suaramu

GAZALI
Chapter #13

BAB 13 — Pelukan yang Disalahartikan

Pagi masih muda.

Matahari baru naik setinggi pucuk pohon.

Udara membawa aroma tanah yang semalam diguyur hujan tipis.

Juno berdiri di depan jendela kamarnya.

Tangannya memegang kamera.

Sudah beberapa hari ini...

Ia sering membuka kembali foto-foto dari taman.

Foto langit.

Foto burung.

Foto dedaunan.

Dan...

Foto seorang gadis yang selalu datang membawa tas kain berwarna krem.

Yuna.

Nama itu kini terasa jauh lebih akrab dibanding saat pertama kali mereka bertemu.

Dulu...

Mereka hanya "gadis taman" dan "lelaki berkamera."

Lalu...

Mereka saling mengenalkan nama.

Tanpa banyak kata.

Tanpa banyak penjelasan.

Namun sejak hari itu...

Nama "Yuna" selalu muncul lebih dulu di kepalanya setiap kali matahari mulai condong ke barat.

Pandangannya berhenti pada foto terakhir.

Yuna sedang tersenyum.

Tidak menghadap kamera.

Ia sedang melihat burung-burung yang memenuhi rerumputan.

Juno ikut tersenyum.

Hari ini...

Seharusnya mereka kembali bertemu.

Walaupun kemarin Yuna sempat menulis...

"Besok aku mungkin tidak datang."

Entah kenapa...

Juno tetap berharap.

Mungkin...

Ia hanya terlambat.

Atau mungkin...

Ia berubah pikiran.

Harapan memang sering kali lahir dari hal-hal kecil.

Bahkan dari satu kalimat yang tidak pernah dijelaskan.

 

Di meja kerja...

Terdapat kartu memori kamera.

Sudah hampir penuh.

Beberapa foto harus segera dicetak.

Sebulan lagi akan ada pameran fotografi kecil yang diadakan komunitas tempatnya bergabung.

Ia sudah memilih beberapa foto.

Langit sore.

Burung yang sedang mengepakkan sayap.

Bayangan pepohonan.

Dan...

Satu foto bangku taman yang kosong.

Foto itu sebenarnya sederhana.

Namun entah mengapa...

Itulah foto yang paling lama ia pandangi.

Ia memasukkan kartu memori ke dalam dompet kecil.

Mengambil tas kamera.

Lalu keluar rumah.

 

Di waktu yang sama...

Di sebuah rumah sakit.

Lorong masih sepi.

Beberapa perawat berjalan pelan.

Suara roda kursi pasien bergeser pelan di lantai keramik.

Yuna duduk di ruang tunggu.

Di pangkuannya...

Sebuah buku tipis.

Sampulnya berwarna biru muda.

Di bagian depan tertulis...

Bahasa Isyarat Indonesia untuk Pemula.

Tangannya mengusap sampul buku itu perlahan.

Masih terasa asing.

Namun kali ini...

Ia tidak lagi ingin lari.

Beberapa hari lalu...

Ia akhirnya menerima kenyataan.

Suara burung yang hilang.

Keheningan yang terus bertambah.

Semuanya bukan lagi sesuatu yang bisa dihindari.

Kalau pendengarannya benar-benar pergi...

Ia harus memiliki cara lain untuk tetap berbicara.

Bukan kepada semua orang.

Hanya...

Kepada seseorang.

Seseorang yang selalu duduk di bangku taman setiap sore.

Langkah kaki mendekat.

Yudi datang membawa dua gelas minuman hangat.

Ia menyerahkan satu gelas kepada adiknya.

Yuna menerimanya.

Mereka duduk berdampingan.

Tidak berbicara.

Hanya menikmati hangat yang merambat ke telapak tangan.

Yudi melirik buku di pangkuan Yuna.

Lalu tersenyum tipis.

Tidak ingin terburu-buru.

Ia tahu...

Keputusan sebesar ini tidak datang dalam semalam.

Mereka sama-sama menatap lorong.

Beberapa pasien berlalu.

Seorang anak kecil berlari sambil tertawa.

Ibunya segera mengejar.

Yuna memperhatikan mereka cukup lama.

Lalu menarik napas perlahan.

"Mas..."

Suara itu masih serak.

Namun kali ini keluar lebih jelas dibanding beberapa hari sebelumnya.

Yudi menoleh.

Yuna menggenggam buku itu sedikit lebih erat.

Tatapannya mantap.

"Aku siap..."

Ia berhenti.

Menelan ludah.

"...belajar bahasa isyarat."

Kalimat itu sederhana.

Namun bagi Yudi...

Rasanya seperti mendengar hujan setelah kemarau yang terlalu panjang.

Ia hanya menatap adiknya.

Tidak langsung menjawab.

Matanya perlahan memerah.

Sudah bertahun-tahun...

Ia menyimpan rasa bersalah.

Melihat adiknya terus berharap pada sesuatu yang perlahan menghilang.

Melihatnya terus menolak kenyataan.

Hari ini...

Untuk pertama kalinya...

Yuna memilih melangkah.

Bukan mundur.

 

Di sisi lain kota...

Juno berjalan menyusuri trotoar.

Tas kamera menggantung di bahunya.

Hari itu...

Lihat selengkapnya