Jika Suatu Hari Aku Mendengar Suaramu

GAZALI
Chapter #14

BAB 14 — Bangku yang Kosong

Pagi datang dengan langit yang cerah.

Sinar matahari menembus jendela ruang pelatihan.

Menyisakan garis-garis cahaya di lantai kayu yang mengilap.

Yuna duduk di baris depan.

Di atas mejanya terbuka sebuah buku catatan.

Di sampingnya...

buku kecil tentang bahasa isyarat yang beberapa hari terakhir selalu ia bawa ke mana pun.

Instruktur berdiri di depan kelas.

Dengan senyum hangat.

Ia mengangkat kedua tangannya.

Hari itu mereka mempelajari salam-salam sederhana.

Cara memperkenalkan diri.

Cara mengatakan "terima kasih."

Cara mengatakan "sampai jumpa."

Setiap gerakan tampak mudah ketika diperagakan.

Namun ketika Yuna mencoba menirukannya...

jemarinya masih sering keliru.

Jari telunjuk bergerak terlalu cepat.

Pergelangan tangan terlalu kaku.

Ekspresi wajahnya pun masih canggung.

Instruktur tersenyum.

Lalu memperagakan kembali dengan lebih pelan.

Yuna mengangguk.

Ia mengulang lagi.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Sampai akhirnya gerakan itu mulai terlihat lebih alami.

Yudi yang duduk di belakang memperhatikan adiknya.

Sesekali ia mengacungkan ibu jari.

Yuna membalas dengan senyum kecil.

Sudah lama ia tidak melihat senyum kakaknya setenang itu.

Pelajaran terus berlanjut.

Huruf demi huruf.

Kata demi kata.

Bahasa yang dulu terasa asing...

perlahan mulai menjadi sesuatu yang ingin ia kuasai.

Bukan karena dokter menyuruhnya.

Bukan pula karena Yudi memaksanya.

Melainkan karena ada seseorang yang terus hadir di pikirannya.

Juno.

Di sela latihan...

tanpa sadar ia membayangkan sebuah sore.

Bangku taman.

Burung-burung yang berebut remah roti.

Dan Juno yang tersenyum sambil mengangkat kameranya.

Bagaimana kalau nanti...

ia datang.

Lalu tanpa mengeluarkan suara sedikit pun...

ia menyapa Juno dengan bahasa isyarat pertama yang berhasil dipelajarinya?

Apakah Juno akan bingung?

Atau justru tertawa?

Membayangkan wajah lelaki itu membuat Yuna ikut tersenyum sendiri.

Instruktur memperhatikan.

"Ada yang lucu?"

Yuna tersadar.

Ia cepat-cepat menggeleng.

Pipi gadis itu memerah.

Yudi yang melihat dari belakang hanya terkekeh pelan.

Ia tahu.

Adiknya sedang memikirkan seseorang.

 

Pelajaran berakhir menjelang sore.

Peserta lain mulai merapikan buku.

Kursi-kursi bergeser pelan.

Yuna memasukkan buku catatan ke dalam tas kainnya.

Buku bahasa isyarat ia letakkan paling atas.

Seolah takut tertinggal.

Sebelum keluar ruangan...

ia membuka kembali halaman yang baru dipelajari.

Matanya berhenti pada satu gerakan.

Sampai jumpa.

Ia mencoba mempraktikkannya sekali lagi.

Lalu tersenyum puas.

"Nanti sore..."

gumamnya dalam hati.

"Aku mau menunjukkannya."

 

Begitu keluar dari rumah sakit...

langit sudah mulai berubah warna.

Matahari perlahan turun.

Jam di ponselnya menunjukkan pukul setengah lima.

Yuna segera melangkah.

Hampir berlari.

Tas kain bergoyang di bahunya.

Hari ini...

ia terlambat beberapa menit.

Biasanya...

Juno sudah lebih dulu duduk di bangku.

Menunggu sambil memainkan kamera.

Mungkin...

hari ini juga begitu.

Langkah Yuna semakin cepat.

Ia melewati gerbang taman.

Aroma rumput yang baru dipotong menyambutnya.

Burung-burung kecil beterbangan rendah.

Angin sore meniup lembut ujung rambutnya.

Matanya langsung mencari satu tempat.

Bangku di bawah pohon besar.

Bangku yang selama beberapa minggu terakhir selalu menjadi tempat mereka bertemu.

Ia melihatnya.

Jelas.

Namun...

kosong.

Yuna berhenti melangkah.

Dadanya yang tadi berdebar karena berlari mulai tenang.

Ia tersenyum kecil.

"Mungkin aku yang terlambat."

Atau...

mungkin Juno sedang memotret di sudut taman yang lain.

Bukankah sering kali ia berjalan mengelilingi taman lebih dulu?

Yuna duduk.

Tas kain diletakkan di samping.

Buku bahasa isyarat masih berada di dalamnya.

Ia mengeluarkan sebungkus roti.

Merobeknya sedikit demi sedikit.

Remah-remah jatuh ke rerumputan.

Tak lama kemudian...

burung-burung mulai berdatangan.

Beberapa melompat kecil.

Beberapa lagi turun dari dahan.

Lihat selengkapnya