Jika Suatu Hari Aku Mendengar Suaramu

GAZALI
Chapter #15

BAB 15 - Bahasa yang Tak Sampai

Pagi itu...

Langit masih diselimuti awan tipis.

Udara terasa sejuk ketika Yuna menuruni tangga rumah sakit menuju ruang pelatihan bahasa isyarat.

Buku kecil berwarna biru muda masih berada dalam pelukannya.

Sampulnya mulai sedikit tertekuk.

Sudut-sudut halamannya dipenuhi bekas lipatan.

Baru beberapa hari.

Namun buku itu sudah terlihat seperti teman yang selalu ia bawa ke mana-mana.

Yuna berhenti di depan pintu kelas.

Ia menarik napas pelan.

Lalu masuk.

Ruangan itu tidak terlalu besar.

Sekitar sepuluh orang duduk membentuk setengah lingkaran.

Sebagian besar adalah keluarga pasien.

Ada pula beberapa penyandang tuli yang sedang membantu proses belajar.

Di depan kelas...

Instruktur berdiri sambil tersenyum hangat.

"Selamat sore."

Suara itu mulai terdengar samar di telinga Yuna.

Namun ia masih bisa menangkap gerakan bibirnya.

Ia membalas dengan senyum kecil.

Pelajaran hari itu dimulai dari gerakan-gerakan sederhana.

Cara menyapa.

Cara memperkenalkan diri.

Cara mengucapkan terima kasih.

Cara bertanya kabar.

Semua dilakukan tanpa suara.

Hanya tangan.

Mata.

Dan ekspresi wajah.

Yuna memperhatikan dengan sungguh-sungguh.

Tangannya mulai mengikuti.

Masih kaku.

Masih canggung.

Jari telunjuknya beberapa kali salah arah.

Pergelangan tangannya terlalu tegang.

Instruktur menghampiri.

Dengan lembut membetulkan posisi jemarinya.

"Bukan dipaksa."

Katanya pelan.

"Biarkan tanganmu ikut berbicara."

Yuna mengangguk.

Ia mencoba lagi.

Lebih pelan.

Lebih rileks.

Kali ini gerakannya sedikit lebih baik.

Instruktur tersenyum.

"Itu."

Yuna ikut tersenyum.

Untuk pertama kalinya...

Ia merasa tangannya benar-benar sedang belajar sebuah bahasa.

Bahasa yang selama ini tidak pernah ia bayangkan akan dipelajari.

Bahasa...

Yang dulu sangat ia tolak.

 

Pelajaran terus berlangsung.

Satu gerakan.

Lalu gerakan berikutnya.

Sesekali peserta lain saling berlatih berpasangan.

Yuna masih berlatih sendiri.

Tangannya bergerak berulang-ulang.

Sampai otot-otot jarinya mulai terasa pegal.

Namun ia tidak berhenti.

Instruktur memperlihatkan satu kalimat baru.

Gerakannya lebih panjang.

Lebih rumit.

Yuna mencoba menirukan.

Pertama...

Salah.

Kedua...

Masih salah.

Ketiga...

Lebih baik.

Ia kembali mengulang.

Dan lagi.

Sampai akhirnya gerakan itu terasa mengalir.

Instruktur mengangguk puas.

"Kamu cepat belajar."

Yuna tersenyum malu.

Bukan karena merasa hebat.

Melainkan karena ia tahu...

Ada seseorang yang membuatnya ingin terus belajar.

 

Kelas selesai menjelang sore.

Peserta lain mulai merapikan buku.

Suara kursi bergeser memenuhi ruangan.

Yuna masih duduk.

Ia membuka buku catatannya.

Di setiap halaman...

Sudah ada gambar-gambar tangan yang ia salin sendiri.

Beberapa diberi tanda bintang.

Beberapa diberi catatan kecil.

Di sudut halaman terakhir...

Ia menulis perlahan.

Aku mencintaimu.

Tulisan itu tampak sederhana.

Namun tangannya berhenti cukup lama di sana.

Ia memandang kalimat itu.

Lalu menggambar lingkaran kecil di sekelilingnya.

Seakan takut kalimat itu hilang.

Atau...

Tak pernah sempat diucapkan.

 

Dalam perjalanan pulang...

Yuna terus membuka buku kecilnya.

Di dalam bus.

Di lampu merah.

Bahkan ketika berjalan menuju rumah.

Jari-jarinya bergerak pelan.

Mengulang satu gerakan.

Lalu gerakan berikutnya.

Beberapa orang sempat memperhatikannya.

Ia tidak peduli.

Yang memenuhi pikirannya hanya satu wajah.

Juno.

Ia membayangkan sore di taman.

Bangku di bawah pohon besar.

Burung-burung yang berebut remah roti.

Dan seorang laki-laki yang selalu memotret langit lebih dulu.

Tanpa sadar...

Ia tersenyum sendiri.

 

Malam mulai turun.

Lampu kamar menyala redup.

Yuna berdiri di depan cermin.

Buku bahasa isyarat terbuka di atas meja.

Halaman yang sama.

Kalimat yang sama.

Aku mencintaimu.

Ia mengangkat kedua tangannya.

Perlahan.

Satu gerakan.

Kemudian berikutnya.

Masih salah.

Ia menurunkannya lagi.

Menghela napas.

Lalu mencoba sekali lagi.

Jari-jarinya masih kaku.

Pergelangan tangannya kurang lentur.

Ekspresi wajahnya juga belum sesuai.

Ia tertawa kecil pada dirinya sendiri.

"Masih jelek..."

Bisiknya lirih.

Namun ia tidak menyerah.

Ia mengulang.

Lagi.

Dan lagi.

Jam dinding terus bergerak.

Di luar...

Suara kendaraan mulai berkurang.

Malam semakin sunyi.

Yuna masih berdiri di depan cermin.

Seolah sedang berbicara kepada seseorang yang tidak ada di sana.

Setelah berkali-kali mencoba...

Gerakannya mulai terasa lebih alami.

Ia berhenti.

Menatap bayangannya sendiri.

Lalu tersenyum.

"Kamu pasti bisa..."

Lihat selengkapnya