Sore itu datang seperti sore-sore sebelumnya.
Langit masih biru pucat.
Angin bertiup pelan melewati pepohonan.
Burung-burung mulai berdatangan ke taman kota, seolah sudah mengetahui waktu mereka untuk berkumpul.
Dari balik jendela rumah, Yudi kembali melihat kebiasaan yang sama.
Yuna keluar dari kamarnya.
Tas kain krem menggantung di bahu kirinya.
Di tangannya, ada sebungkus roti yang sudah mulai dikenalnya.
Tidak pernah berubah.
Sudah hampir dua minggu.
Setiap sore, adiknya selalu melakukan hal yang sama.
Pergi.
Duduk di taman.
Pulang ketika matahari tenggelam.
Tidak pernah sekali pun ia melewatkan hari.
Yudi menatapnya cukup lama.
Ada sesuatu yang berbeda dari langkah Yuna sekarang.
Lebih pelan.
Lebih tenang.
Namun justru terasa lebih berat.
Seolah setiap langkah membawa harapan yang mulai kehilangan tempat untuk pulang.
Pintu rumah tertutup perlahan.
Yuna berjalan menyusuri trotoar.
Yudi mengambil jaket tipis yang tergantung di dekat pintu.
Hari itu...
untuk pertama kalinya...
ia memutuskan mengikuti adiknya.
Bukan untuk mengawasi.
Hanya...
ingin memahami.
Ia menjaga jarak.
Tidak terlalu dekat.
Tidak terlalu jauh.
Yuna sama sekali tidak menyadari dirinya sedang diikuti.
Sesekali gadis itu menundukkan kepala.
Sesekali membuka ponsel.
Lalu memasukkannya kembali ke dalam tas.
Tidak ada senyum.
Tidak ada ekspresi kecewa.
Wajahnya datar.
Namun justru itu yang membuat hati Yudi semakin sesak.
Orang yang benar-benar lelah...
sering kali tidak lagi menangis.
Mereka hanya tetap berjalan.
Gerbang taman terlihat di depan.
Yuna memperlambat langkah.
Matanya langsung mencari satu tempat.
Bangku kayu di bawah pohon besar.
Bangku yang selama ini selalu menjadi tujuan akhirnya.
Bangku itu masih ada.
Cat hijaunya mulai memudar.
Daun-daun kering berserakan di bawahnya.
Yuna menghampiri.
Duduk perlahan.
Lalu mengembuskan napas panjang.
Dari kejauhan, Yudi memilih berdiri di balik batang pohon mahoni.
Cukup dekat untuk melihat.
Cukup jauh agar tidak diketahui.
Yuna membuka bungkus roti.
Tangannya mematahkan roti kecil-kecil.
Remah pertama dilempar ke rumput.
Tidak sampai lima detik...
burung-burung pipit mulai berdatangan.
Lalu burung gereja.
Lalu beberapa merpati.
Mereka mengenal gadis itu.
Atau mungkin...
mengenal kebiasaannya.
Yuna tersenyum tipis.
Senyum yang hanya muncul sebentar.
Kemudian hilang lagi.
Tangannya terus melempar remah roti.
Pelan.
Teratur.
Seperti sebuah ritual yang tidak pernah berubah.
Namun...
setiap beberapa menit sekali...
kepalanya menoleh.
Ke arah jalan setapak.
Ke arah pintu masuk taman.
Lalu kembali lagi.
Bangku di sebelahnya...
tetap kosong.
Yudi mengikuti arah pandang itu.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya pasangan lansia yang sedang berjalan pelan.
Seorang anak kecil berlari mengejar gelembung sabun.
Dan seorang petugas kebersihan yang menyapu daun-daun kering.
Tidak ada lelaki dengan kamera.
Tidak ada sosok yang sedang ditunggu Yuna.
Namun gadis itu...
tetap menunggu.
Tanpa sadar...
ia menyisakan ruang kosong di bangku sebelahnya.
Tidak pernah meletakkan tas di sana.
Tidak pernah menaruh roti.
Seolah tempat itu memang masih milik seseorang.
Yudi menunduk.
Dadanya terasa semakin berat.
Matahari mulai condong ke barat.
Cahaya jingga perlahan menyelimuti taman.
Yuna berhenti melempar roti.
Ia membuka tas kainnya.
Mengambil ponsel.
Lalu...
membuka sebuah folder galeri.
Yudi sedikit memiringkan tubuh agar bisa melihat layar itu dari kejauhan.
Di bagian atas...
tertulis satu nama.
Sore.
Jarinya menggeser foto demi foto.
Langit.
Awan.
Burung-burung yang sedang terbang.
Daun-daun yang diterpa cahaya matahari.
Bangku taman.
Lalu...
foto-foto hasil bidikan seseorang.
Komposisinya indah.
Penuh cahaya senja.
Penuh kesunyian yang hangat.
Yuna berhenti pada satu foto.
Foto langit yang dipenuhi burung-burung pulang.
Ia menatapnya cukup lama.
Tidak bergerak.
Hanya memandang.
Lalu tersenyum kecil.
Senyum yang begitu tipis hingga hampir tidak terlihat.
Yudi mengingat sesuatu.
Beberapa minggu lalu...
ia pernah melihat Yuna tersenyum seperti itu.
Saat sebuah nama muncul di layar ponselnya.
Juno.
Nama itu kembali terlintas di benaknya.
Siapa sebenarnya lelaki itu?
Apa yang membuat adiknya terus datang ke taman setiap hari?
Apa yang membuatnya tetap membuka foto-foto lama...
meski tidak pernah ada kiriman baru?
Angin bertiup pelan.
Beberapa helai daun jatuh di pangkuan Yuna.
Ia bahkan tidak menyadarinya.
Matanya masih terpaku pada layar.
Jarinya mengusap foto itu perlahan.
Seolah sedang menyentuh kenangan.
Lalu ia berpindah ke foto berikutnya.
Foto burung kecil yang sedang bertengger di dahan.
Kemudian...
foto dirinya sendiri.
Sedang memejamkan mata.
Sedang tersenyum.
Sedang memberi makan burung.
Yudi terdiam.
Foto-foto itu...
diambil diam-diam.
Namun tidak terasa mengganggu.
Justru...