Jika Suatu Hari Aku Mendengar Suaramu

GAZALI
Chapter #17

BAB 17 - Jejak yang Tertinggal

Sore itu langit mulai berubah keemasan ketika Yudi menghentikan motornya di depan gerbang taman.

Sudah lebih dari dua minggu.

Bangku di bawah pohon besar itu selalu kosong.

Namun Yuna masih datang.

Masih membawa tas kain.

Masih membawa sebungkus roti.

Masih duduk di tempat yang sama.

Seolah seseorang hanya terlambat beberapa menit.

Bukan menghilang.

Yudi berdiri cukup jauh.

Memandangi adiknya yang sedang melempar remah-remah roti.

Burung-burung kecil kembali berkumpul.

Suasananya tetap sama.

Hanya satu yang berbeda.

Tak ada lagi pemuda berkamera yang biasanya duduk di bangku sebelah.

Yudi mengepalkan tangan.

Ia tidak bisa terus membiarkan semuanya seperti ini.

Jika benar Juno pergi karena sebuah kesalahpahaman...

Maka seseorang harus menemukannya.

 

Keesokan harinya...

Yudi kembali datang ke taman.

Kali ini bukan untuk mengawasi Yuna.

Melainkan bertanya kepada orang-orang yang mungkin pernah melihat Juno.

Ia menghampiri petugas kebersihan yang sedang menyapu daun-daun kering.

"Pak, saya mau tanya."

"Bapak pernah lihat pemuda yang sering membawa kamera ke taman ini?"

Petugas itu berpikir sejenak.

"Lumayan sering."

"Yang suka motret burung?"

Yudi mengangguk cepat.

"Iya, Pak."

"Sudah lama enggak kelihatan."

Petugas itu menggaruk tengkuk.

"Anaknya pendiam."

"Tapi sopan."

"Kalau lewat selalu senyum."

Yudi tersenyum tipis.

"Lalu... Bapak tahu dia tinggal di mana?"

Petugas itu menggeleng.

"Enggak tahu."

"Tapi..."

Ia berpikir lagi.

"Kayaknya dia sering cetak foto."

"Di studio foto dekat lampu merah sana."

Yudi mengikuti arah telunjuk pria itu.

Sebuah ruko kecil tampak di ujung jalan.

Papan namanya mulai pudar dimakan usia.

Studio Cahaya.

Yudi mengucapkan terima kasih.

Lalu segera menuju ke sana.

 

Studio foto itu kecil.

Berada di sudut jalan.

Etalasenya dipenuhi bingkai foto berbagai ukuran.

Foto keluarga.

Foto wisuda.

Foto bayi.

Dan beberapa foto pemandangan.

Bel pintu berbunyi pelan ketika Yudi masuk.

Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun mengangkat kepala dari meja kerjanya.

Wajahnya ramah.

"Selamat sore."

"Selamat sore, Pak."

Yudi membalas sambil mengeluarkan ponselnya.

Ia membuka sebuah foto.

Foto Juno yang diam-diam pernah diambil Yuna saat mereka sedang memberi makan burung.

Yudi memperlihatkan layar itu.

"Pak..."

"Apa Bapak kenal orang ini?"

Pria itu menyesuaikan letak kacamatanya.

Ia memperhatikan foto tersebut beberapa detik.

Lihat selengkapnya