Yudi memandangi denah sederhana yang masih berada di tangannya.
Kertas itu mulai kusut karena terus diremas tanpa sadar.
Angin sore berembus pelan.
Ia sempat melangkah beberapa meter.
Lalu berhenti.
Satu pertanyaan terus mengganggu pikirannya.
Ia berbalik.
Kembali memasuki studio foto.
Bel pintu kembali berbunyi.
Pemilik studio yang sedang membersihkan bingkai foto menoleh.
"Eh, balik lagi, Mas?"
Yudi tersenyum canggung.
"Maaf, Pak..."
"Boleh saya tanya sesuatu?"
"Tentu."
Yudi kembali membuka foto Juno di ponselnya.
"Bapak bilang Mas Juno sering ke sini..."
"Iya."
"Orangnya seperti apa?"
Pemilik studio tidak langsung menjawab.
Ia memandang foto Juno cukup lama.
Tatapannya berubah pelan.
Seolah sedang mengingat banyak hal.
"Mas Juno itu..."
"...anak baik."
"Pendiam."
"Kalau datang..."
"...selalu senyum."
"Jarang bikin repot."
Yudi mengangguk pelan.
"Lalu..."
"Kenapa Bapak tadi bilang dia sudah lama tidak datang?"
Pria itu menghela napas.
"Cukup lama."
"Hampir dua minggu."
"Biasanya..."
"Setiap beberapa hari sekali pasti mampir."
"Cetak foto."
"Ngobrol sebentar lewat tulisan."
"Terus pulang."
"Belakangan..."
"...menghilang."
Yudi mengernyit.
"Ngobrol... lewat tulisan?"
Pemilik studio tersenyum kecil.
"Iya."
"Mas Juno memang begitu."
"Dia memilih diam."
Yudi terdiam.
"Maksud Bapak?"
Pria itu meletakkan kain lapnya.
Kemudian duduk di kursi kayu dekat etalase.
Ia memberi isyarat agar Yudi ikut duduk.
"Mas..."
"Sejak saya kenal..."
"...saya belum pernah mendengar suaranya."
Yudi menatap pria itu.
"Bukan karena dia tidak bisa bicara."
"Tidak."
"Beberapa orang memang salah paham."
"Padahal bukan."
Ia menggeleng pelan.
"Dia bisa."
"Hanya..."
"...tidak mau."
Yudi semakin bingung.
"Tidak mau?"
Pria itu mengangguk.
"Dulu..."