Pagi datang bersama cahaya yang masuk melalui celah jendela.
Kamar itu masih sama.
Dinding putih.
Lemari kayu di sudut ruangan.
Meja kerja yang dipenuhi lensa kamera.
Dan sebuah tas kamera yang telah berhari-hari terdiam di rak paling atas.
Juno berdiri cukup lama di depannya.
Tangannya tidak segera bergerak.
Tatapannya hanya menempel pada tas hitam yang dulu hampir selalu menemaninya ke mana pun.
Debu tipis mulai menempel di permukaannya.
Tanda bahwa benda itu telah lama ditinggalkan.
Juno mengembuskan napas pelan.
Bayangan percakapannya dengan Yudi semalam kembali memenuhi kepalanya.
Video Yuna.
Gerakan tangan yang masih kaku.
Jari-jari yang berulang kali salah posisi.
Tatapan penuh tekad.
Kalimat yang terus terngiang.
"Dia belajar... karena ingin tetap bisa berbicara denganmu."
Juno memejamkan mata.
Perlahan ia mengangkat tas itu dari rak.
Debunya beterbangan tipis.
Tangannya mengusap permukaannya perlahan.
Seolah sedang meminta maaf kepada sahabat lama yang pernah ia tinggalkan.
Resleting berbunyi lirih.
Kamera itu masih berada di tempatnya.
Hitam.
Dingin.
Namun terasa begitu akrab di telapak tangannya.
Juno menggenggamnya erat.
Sudah terlalu lama...
Ia menjauh dari dunia yang pernah membuatnya merasa hidup.
Perlahan kamera itu kembali menggantung di lehernya.
Beban yang dulu terasa berat...
Kini justru membuat dadanya sedikit lebih ringan.
Menjelang sore...
Juno melangkah keluar rumah.
Langkahnya masih ragu.
Namun tidak lagi mundur.
Angin menyapu wajahnya ketika ia menyusuri jalan menuju taman.
Tempat yang selama ini ia hindari.
Tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.
Gerbang taman masih berdiri seperti biasa.
Cat hijaunya mulai memudar.
Seorang petugas kebersihan sedang menyapu daun-daun kering.
Beberapa anak kecil berlarian mengejar gelembung sabun.
Semuanya tampak sama.
Tidak ada yang berubah.
Yang berubah...
Hanya seseorang yang sedang berdiri di depan gerbang itu.
Juno menarik napas panjang.
Lalu melangkah masuk.
Suara langkahnya terdengar pelan di jalan setapak.
Pohon besar itu masih berdiri kokoh.
Dahannya menaungi bangku kayu yang sudah mulai kusam dimakan usia.
Bangku yang pernah menjadi tempat dua orang saling mengenal tanpa banyak kata.
Juno berhenti.
Matanya mencari tanpa sadar.
Bangku itu...
Kosong.
Dadanya berdenyut pelan.
Jam tangannya menunjukkan pukul empat lewat sedikit.
Masih terlalu awal.
Atau mungkin...
Sudah terlambat.
Ia tidak tahu.
Yang ia tahu...
Tempat itu tetap membuatnya ingin tinggal lebih lama.
Perlahan ia mengangkat kameranya.
Klik.
Seekor burung pipit sedang bertengger di pagar.
Klik.
Dua ekor merpati berebut remah roti di tanah.
Klik.
Daun-daun yang bergoyang diterpa angin sore.
Sudah lama ia tidak mendengar suara rana kamera.
Bunyi sederhana itu...
Entah mengapa...
Membuat sesuatu di dalam dirinya ikut bergerak.
Ia berjalan beberapa langkah.
Memotret lagi.
Seekor kupu-kupu yang hinggap di bunga.
Bayangan ranting di atas tanah.
Langit yang mulai berubah warna.
Semuanya sama seperti dulu.
Namun kini...
Setiap kali menekan tombol rana...
Yang ia cari bukan lagi gambar yang indah.
Melainkan keberanian.
Keberanian untuk kembali.
Ia berhenti di depan bangku.
Tangannya menyentuh sandaran kayu yang mulai kasar.
Di sinilah...
Yuna pernah tertawa ketika melihat hasil fotonya sendiri.
Di sinilah...
Mereka pernah berbagi roti untuk burung-burung.
Di sinilah...
Yuna memperkenalkan nama aslinya.
Dan di sinilah...
Ia memilih pergi tanpa bertanya.
Juno duduk perlahan.
Bangku itu mengeluarkan bunyi pelan.
Angin sore berembus.
Beberapa burung mulai turun mendekati tanah.
Mereka tetap datang.
Seolah tidak pernah menyadari bahwa seseorang pernah menghilang dari tempat itu.
Juno membuka layar kameranya.
Foto-foto lama masih tersimpan.
Langit.
Pepohonan.
Burung.
Dan...
Senyum Yuna.
Ia berhenti pada satu foto.
Yuna sedang menengadah ke langit.
Rambutnya diterbangkan angin.
Matanya menyipit karena cahaya matahari sore.
Ia bahkan tidak sadar sedang dipotret.
Juno menatap foto itu cukup lama.