Jika Suatu Hari Aku Mendengar Suaramu

GAZALI
Chapter #20

BAB 20 - Sore Terakhir

Langit sore tampak redup.

Cahaya matahari masuk melalui jendela ruang tamu.

Membelah lantai menjadi dua warna.

Yuna duduk sendiri di depan meja kecil.

Di hadapannya...

Selembar kertas putih.

Sebuah pulpen.

Dan sebuah amplop cokelat yang masih kosong.

Tangannya menggenggam pulpen cukup lama.

Beberapa kali ujungnya menyentuh kertas.

Lalu berhenti.

Dihapus.

Ditulis lagi.

Dihapus lagi.

Tidak mudah merangkum begitu banyak sore ke dalam beberapa kata.

Apalagi jika kata-kata itu mungkin menjadi yang terakhir.

Yuna memandang ke luar jendela.

Angin menggoyangkan daun mangga di halaman.

Seekor burung hinggap sebentar.

Lalu terbang lagi.

Ia tersenyum tipis.

Sore selalu datang.

Burung selalu kembali.

Hanya satu orang...

Yang tak pernah lagi muncul.

Perlahan...

Yuna mulai menulis.

Terima kasih...

Sudah membuatku kembali mencintai sore.

Hanya itu.

Tidak ada pertanyaan.

Tidak ada keluhan.

Tidak ada alasan.

Kadang...

Ucapan terima kasih lebih berat daripada kata perpisahan.

Ia membaca kalimat itu sekali lagi.

Kemudian melipatnya dengan hati-hati.

Memasukkannya ke dalam amplop kecil.

Lalu menyimpannya di dalam tas kain yang selama ini selalu ia bawa ke taman.

Hari ini...

Ia memutuskan sesuatu.

Jika sore ini Juno tetap tidak datang...

Ia akan berhenti menunggu.

Bukan karena berhenti peduli.

Melainkan karena ia tidak ingin terus berharap kepada seseorang yang mungkin memang sudah memilih pergi.

 

"Yun."

Suara Yudi terdengar pelan dari ruang tengah.

Yuna menoleh.

Kakaknya berdiri di ambang pintu.

Di tangannya masih ada segelas teh hangat.

Ia berjalan mendekat.

Lalu duduk di kursi seberang.

Beberapa saat...

Mereka hanya saling diam.

Tatapan Yudi jatuh pada amplop yang sedikit terlihat dari dalam tas kain Yuna.

"Kamu mau ke taman?"

Yuna mengangguk pelan.

"Mungkin..."

"...untuk terakhir kalinya."

Jawaban itu membuat Yudi menarik napas panjang.

Ia menunduk.

Seolah sedang mengumpulkan keberanian.

"Ada sesuatu..."

"...yang belum sempat kuceritakan."

Yuna memandang kakaknya.

"Apa, Mas?"

Yudi tidak langsung menjawab.

Ia mengusap kedua telapak tangannya.

Kemudian berkata perlahan.

"Beberapa hari lalu..."

"...aku mencari Juno."

Yuna membeku.

Matanya membesar.

"Kamu... bertemu dia?"

Yudi mengangguk.

"Ya."

Ruangan mendadak terasa jauh lebih sunyi.

Yuna menunggu.

Jantungnya berdegup semakin cepat.

"Dia baik?"

Yudi tersenyum tipis.

"Dia sehat."

"Lalu..."

Ia berhenti sejenak.

"Dia juga masih menyimpan semua fotomu."

Yuna menundukkan kepala.

Air matanya mulai menggenang.

Yudi melanjutkan.

"Aku juga akhirnya tahu..."

"...kenapa dia tiba-tiba menghilang."

Yuna perlahan mengangkat wajahnya.

"Hari ketika kita di rumah sakit..."

"...dia melihat kita."

Ingatan Yuna langsung kembali ke pagi itu.

Hari ketika ia memutuskan belajar bahasa isyarat.

Hari ketika Yudi memeluknya.

"Hari itu..."

"Dia berada di seberang jalan."

"Dia melihat aku memelukmu."

"Tapi dia terlalu jauh."

"Dia tidak mendengar apa pun."

"Yang dia lihat hanya..."

"...seorang laki-laki memeluk perempuan yang dia sukai."

Yuna menutup mulutnya.

Dadanya mendadak sesak.

"Itu sebabnya..."

"...dia pergi."

"Bukan karena berhenti menyayangimu."

"Tapi karena dia merasa..."

"...tidak lagi punya tempat."

Air mata Yuna jatuh.

Satu tetes.

Lalu yang kedua.

Selama ini...

Ia terus menyalahkan dirinya.

Mengira telah melakukan sesuatu yang membuat Juno kecewa.

Ternyata...

Semuanya berawal dari satu pemandangan yang dilihat tanpa penjelasan.

"Tapi..."

Lihat selengkapnya