Jika Suatu Hari Aku Mendengar Suaramu

GAZALI
Chapter #21

BAB 21 - Jika Suatu Hari Aku Mendengar Suaramu

Sore datang perlahan.

Cahaya matahari menembus sela-sela dedaunan.

Langit belum benar-benar jingga.

Masih ada warna biru yang bertahan di ufuk barat.

Juno berdiri cukup lama di depan cermin kamarnya.

Kamera telah kembali tergantung di lehernya.

Benda itu terasa begitu akrab.

Seperti sahabat yang pernah ia tinggalkan, lalu akhirnya ia temukan kembali.

Di dalam tas kain kecil yang ia bawa...

Tersimpan sebuah buku.

Buku dengan sampul biru muda.

Sudut-sudut halamannya mulai terlipat.

Di setiap lembar...

Ada gambar telapak tangan.

Arah jari.

Panah kecil.

Dan puluhan catatan yang ia tulis sendiri.

Beberapa halaman bahkan penuh coretan.

Ada gerakan yang berkali-kali ia ulang.

Ada yang ia lingkari.

Ada pula yang ia beri tanda bintang.

Semalaman...

Ia hampir tidak tidur.

Duduk di lantai kamar.

Membuka video yang dikirim Yudi.

Menghentikannya.

Mengulang.

Menghentikannya lagi.

Lalu mencoba mengikuti gerakan tangan Yuna.

Berkali-kali.

Sampai bahunya pegal.

Sampai matanya memerah.

Namun...

Ia tetap tersenyum.

Untuk pertama kalinya...

Belajar sesuatu tidak terasa melelahkan.

Karena setiap gerakan yang ia pelajari...

Selalu membawanya kembali kepada satu wajah.

Yuna.

Juno membuka halaman terakhir.

Di sana hanya ada satu gambar.

Dua tangan.

Gerakan yang masih terlihat kaku karena berkali-kali ia hapus lalu ia gambar kembali.

Di bawahnya...

Tulisan tangannya sendiri.

Aku mencintaimu.

Ia mengusap tulisan itu pelan.

Kemudian menutup bukunya.

Hari ini...

Ia ingin meminta maaf.

Bukan lewat pesan.

Bukan lewat foto.

Bukan lewat keheningan.

Melainkan dengan keberanian.

Ia menarik napas panjang.

Lalu melangkah keluar rumah.

Jalan menuju taman masih sama.

Warung di tikungan masih dipenuhi pelanggan.

Penjual balon masih berdiri di dekat lampu merah.

Anak-anak kecil berlarian sambil membawa gelembung sabun.

Semua terlihat begitu biasa.

Namun...

Bagi Juno...

Sore itu terasa berbeda.

Setiap langkah membuat dadanya semakin berdebar.

Ia tidak tahu...

Apakah Yuna masih datang ke taman.

Apakah Yuna masih menunggunya.

Atau...

Apakah semuanya sudah terlambat.

Beberapa kali tangannya menggenggam tali kamera.

Lalu melepaskannya lagi.

Ia mengingat perkataan Yudi.

"Kalau masih ada yang ingin kamu katakan..."

"Jangan tunggu sampai hanya penyesalan yang bisa bicara."

Kalimat itu terus berputar di kepalanya.

Membuat langkahnya semakin cepat.

Ia hampir berlari.

Daun-daun kering berderak di bawah sepatunya.

Napasnya mulai memburu.

Ketika gerbang taman akhirnya terlihat...

Juno berhenti sejenak.

Dadanya naik turun.

Ia memandang ke arah dalam taman.

Pohon besar itu masih berdiri.

Burung-burung masih beterbangan.

Angin sore masih membawa aroma rumput yang baru dipotong.

Semuanya...

Masih sama.

Perlahan...

Ia melangkah masuk.

Semakin dekat.

Semakin dekat.

Lalu...

Langkahnya berhenti.

Bangku itu...

Kosong.

Juno mematung.

Matanya menyapu seluruh taman.

Ke kanan.

Ke kiri.

Ke jalan setapak.

Ke dekat kolam.

Tidak ada Yuna.

Bangku yang selama ini selalu dipenuhi dua orang...

Kini hanya ditemani bayangan pepohonan.

Dadanya terasa sesak.

Namun...

Beberapa detik kemudian...

Ia melihat sesuatu.

Sebuah amplop kecil.

Terletak rapi di atas bangku.

Ujungnya bergerak pelan tertiup angin.

Juno berjalan mendekat.

Tangannya mulai gemetar.

Ia mengambil amplop itu perlahan.

Kertasnya masih hangat.

Seolah belum lama diletakkan di sana.

Di bagian depan...

Hanya ada satu tulisan.

Dengan huruf yang sangat ia kenal.

Untuk Juno.

Jantungnya berdetak semakin keras.

Ia membalik amplop itu.

Tidak ada nama pengirim.

Tidak ada apa-apa lagi.

Hanya tulisan sederhana.

Namun...

Juno tahu.

Ini tulisan Yuna.

Ia mengenali bentuk setiap hurufnya.

Huruf "J" yang sedikit miring.

Huruf "o" yang selalu bulat sempurna.

Tangannya bergetar ketika membuka lipatan amplop.

Pelan.

Sangat pelan.

Seolah ia takut...

Apa pun yang ada di dalamnya akan mengubah segalanya.

Selembar kertas putih muncul dari dalam amplop.

Juno membukanya.

Matanya mulai membaca.

Tak ada satu kata pun yang diperlihatkan kepada dunia.

Lihat selengkapnya