JILBABKU BUKAN MILIKKU

Oleh: asep Pranata

Blurb

Seorang perempuan muda yang baru lulus sekolah tumbuh dalam keluarga biasa yang terobsesi terlihat agamis. Di luar rumah, keluarganya dikenal santun, taat, dihormati lingkungan, dan dekat dengan majelis. Tapi di dalam rumah, agama bukan menjadi sumber kasih sayang, melainkan alat kontrol, alat gengsi, dan alat untuk membungkam.

Silvia berjilbab sejak lama. Tapi semakin dewasa, dia merasa jilbab itu bukan lagi ruang iman yang personal. Jilbab itu menjadi papan nama keluarga. Menjadi bukti bahwa orang tuanya berhasil mendidik anak. Menjadi simbol yang harus selalu bersih, walaupun rumahnya sendiri busuk oleh tekanan, kemunafikan, dan kekerasan emosional.

Puncaknya, keluarga menjodohkannya dengan seorang laki-laki yang disebut "Habib". Bukan karena laki-laki itu benar-benar baik, tapi karena gelarnya membuat keluarga MC merasa naik derajat. Mereka tidak mencari calon suami untuk anaknya. Mereka mencari kehormatan sosial.

Ternyata, "Habib" itu palsu.

Saat Silvia sadar dirinya akan dijadikan alat reputasi untuk terakhir kalinya, dia kabur. Dikejar oleh orang-orang yang merasa sedang membela agama, padahal sebenarnya sedang membela kebohongan. Dalam pelarian itu, dia bersembunyi di tempat yang ternyata membawa calon-calon LC ke dunia hiburan malam.

Dan dari situlah hidupnya berbelok.

Ia masuk ke dunia yang selama ini diajarkan sebagai dunia paling kotor. Tapi justru di sana, ia menemukan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan di rumah.

Kejujuran tentang kebusukan.

Dunia LC tetap gelap. Tetap transaksional. Tetap berbahaya. Tetap penuh eksploitasi. Tapi orang-orang di sana tidak berpura-pura suci. Mereka tidak membungkus nafsu dengan nasihat. Tidak membungkus uang dengan dalil. Tidak membungkus kontrol dengan kata "demi kebaikanmu".

Di rumah, kebusukan memakai peci, gamis, majelis, dan nama baik.
Di dunia malam, kebusukan berdiri telanjang dan mengaku dirinya busuk.

Lihat selengkapnya