JILBABKU BUKAN MILIKKU

Arata Kaivan
Chapter #5

5. HABIB RAFIQ

Acara di halaman luar telah selesai, panggung pembicaraan yang sesungguhnya baru saja dipindahkan ke dalam ruang tamu utama rumah Pak Mahmud. Hanya ada beberapa orang terpilih yang diizinkan masuk ke ruangan ber-AC yang dingin ini. Pak Mahmud beserta istrinya, Ayah, Ibu, dan aku yang diposisikan duduk di sebuah kursi kayu kecil di sudut ruangan dekat meja sajian teh.

Habib Rafiq duduk di sofa utama, penampilannya tetap terlihat sangat tenang dan berwibawa setelah meminum seteguk teh melati hangat dari cangkir keramik berbingkai emas.

"Jarang ada anak perempuan seusia ini yang masih keliatan teduh pembawaannya," ujar Habib Rafiq, matanya melirik ke arahku. "Zaman sekarang, kebanyakan anak muda seusia dia sudah sibuk cari panggung di luar rumah, menuntut kebebasan yang akhirnya malah merusak kesucian mereka sendiri."

Ibu memajukan posisi duduknya, wajahnya sangat tersanjung pujian tersebut. "Alhamdulillah, Habib. Kami berusaha menjaga. Via ini dari kecil memang anak rumahan, tidak pernah kami izinkan keluyuran tanpa keperluan yang jelas."

Ayah ikut mengangguk setuju. "Anak perempuan memang amanah besar, Habib. Tanggung jawabnya sampai ke akhirat. Makanya adab dan kepatuhan selalu kami tempatkan di atas segala-galanya di rumah."

Habib Rafiq mengalihkan pandangan matanya ke arahku. "Amanah yang baik harus jatuh ke tangan yang tepat, Pak Hasan. Jika mutunya sudah terjaga sejak dari rumah, maka tugas kita adalah memastikan bahwa kelak dia diserahkan kepada seseorang yang tahu bagaimana cara menjaganya agar tetap berada di jalan ketaatan yang lurus."

Aku menunduk semakin dalam, meremas jemariku di balik saku rok kurung. Aku merasa diriku sedang dibicarakan seperti sebuah benda koleksi yang baik, barang pecah belah berharga yang ditemukan di sebuah toko antik tersembunyi.

"Via," Ibu menyenggol lenganku halus dari kursinya. "Kamu ke belakang dulu ke dapur, bantu Jeng Mahmud siapIN piring buah tambahan buat Habib. Jangan diam saja di sini."

Aku berdiri dengan cepat, merasa sangat lega karena bisa keluar dari ruangan yang atmosfernya terasa begitu menekan dan mencekik leherku itu.

Suasana di dapur rumah Pak Mahmud masih terasa sangat sibuk oleh kepulan uap teh panas dan tumpukan piring kotor bekas jemaah luar tadi. Beberapa ibu-ibu majelis taklim inti berdiri melingkar di dekat wastafel, mengeringkan cangkir sambil mencuci sendok.

Aku melangkah masuk, membawa nampan kosong dari ruang tamu.

"Habib tadi nanya Via, ya?" tanya Ibu Pak Mahmud, suaranya berbisik, matanya melirik ke arah Ibu yang baru ikut masuk ke dapur beberapa detik setelahku.

"Iya, Jeng Mahmud," Bu Haji Lina tersenyum penuh arti. "Kalau orang baik melirik, itu tanda bagus. Saya lihat sendiri tadi pas salim di depan panggung, Habib megang tangan Via lama. Pandangan matanya juga beda, nggak kayak melihat jemaah biasa. Kalau orang baik melirik begitu, itu tanda bagus sekali buat keluarga Jeng Hasan."

Ibu tersenyum lebar, mencoba menahan tawanya. "Jangan ngomong begitu dulu, Bu."

Senyum Ibu mengatakan sebaliknya. Ekspresinya merasa usahanya menyetrika khimar putih membuahkan hasil investasi sosial yang sangat menguntungkan bagi posisi keluarga kami di tengah komunitas.

"Aku ambil piring ke belakang dulu," suaraku serak, memotong bisik-bisik mereka, tidak sanggup lagi mendengarkan bagaimana mereka mengaitkan namaku dengan nama laki-laki itu seolah-olah aku sudah resmi menjadi barang miliknya.

Aku meletakkan nampan kosong di meja, lalu bergegas membalikkan badan berjalan menuju pintu halaman belakang.

Lihat selengkapnya