JILBABKU BUKAN MILIKKU

Arata Kaivan
Chapter #6

6. JALAN BAIK

Mataku terbuka perlahan, denyut tipis di sekitar pelipis. Aku bangkit, menatap bayangan wajahku di cermin. Kelopak mataku membengkak, garis sembap tebal akibat tangisan yang kutahan setengah mati sepanjang malam. Rasa sesak dari bentakan Ayah di dapur semalam masih menyisa, mengendap di ulu hati.

Aku melangkah menuju dapur, Ibu sudah berdiri di depan kompor. Tangannya bergerak membalik dadar telur. Beliau bersikap biasa saja, menyiapkan sarapan, menyuruhku mengambil piring, dan mengingatkanku untuk mencuci jilbab khimar putih yang kemarin dipakai ke majelis.

Namun, sikap Ibu jauh lebih dingin dari biasanya. Beliau meletakkan wajan dengan ketukan lebih keras. "Matamu bengkak," kata Ibu tanpa menoleh. "Kalau nanti ada yang datang, jangan kelihatan habis nangis. Malu dilihat orang."

Aku menghentikan gerakan tanganku. "Siapa yang datang, Bu?"

"Bu Haji Lina mungkin mampir agak siang nanti," sahut Ibu, nadanya datar.

Tubuhku menegang di atas kursi. Seleraku lenyap. Kedatangan Bu Haji Lina setelah acara besar kemarin jelas bukan sekadar kunjungan tetangga yang rindu mengobrol. Dia adalah perpanjangan tangan majelis, pembawa pesan dari dunia luar yang siap menguliti privasi rumah kami.

Ayah duduk di kursi utamanya, mengunyah pelan sarapannya, ponsel ibu diletakkan di sebelahnya, bergertak pendek terus menerus, rentetan notifikasi dari grup WhatsApp majelis taklim mendadak ramai sejak subuh.

Ibu menyuap nasi sedikit, lalu meraih ponselnya. Jempolnya bergerak cepat menggeser layar. Senyumny perlahan mekar.

"Lihat ini, Pak," Ibu menggeser posisi duduknya mendekati Ayah, memperlihatkan layar ponsel. "Bu Haji Lina kirim foto-foto acara semalam di grup pengurus inti."

Aku menunduk, mengorek nasi goreng di piringku tanpa gairah, kupingku menangkap setiap detail kata. Ibu menggeser layar lagi, memperlihatkan rangkaian foto Habib Rafiq saat menyampaikan ceramah di atas panggung, jemaah laki-laki yang menunduk takzim, barisan saf perempuan yang mengayunkan badan lambat mengikuti selawat.

"Ini foto kamu waktu salim sama Habib semalam, Via," Ibu membalik layar ponselnya tepat di depan wajahku. "Banyak ibu-ibu di grup yang muji. Lihat ini, komentarnya Bu RT, katanya wajahmu cocok jadi anak majelis. Adem, teduh, kelihatan banget didikan rumahnya jalan."

Aku menatap layar ponsel. Jantungku mencelos. Di dalam foto, aku terlihat sangat kaku di balik khimar putih, kepalaku dipaksa mendongak sedikit karena dorongan tangan Ibu dari belakang. Habib Rafiq memegang ujung telapak tanganku yang terlapisi kain, matanya menatap lurus ke arahku. Bagiku, foto itu adalah bukti visual dari momen yang mengganggu, sebuah rekaman bisu dari rasa takut dan ketidaknyamanan yang membuatku merinding semalaman. Tapi bagi dunia di luar sana, bagi ibu-ibu majelis, foto itu adalah piagam kehormatan. Sebuah sertifikat kesalehan yang sah.

"Itu fotonya hapus aja, Bu," ucapku datar.

Senyum Ibu lenyap. Beliau menarik kembali ponselnya. "Kenapa harus dihapus? Bagus kok. Semua orang di grup muji."

"Aku nggak suka difoto pas nggak sadar. Apalagi disebar di grup ramai-ramai gitu," aku mencoba memberikan alasan logis tanpa memicu kemarahan Ayah.

Ibu mendengus, kepalanya menggeleng. "Kamu ini makin hari makin aneh, Via. Foto bagus, aurat nutup rapat, dipuji orang-orang terpandang, malah dipermasalahin. Anak muda zaman sekarang seleranya aneh, sukanya foto yang aneh-aneh di internet, giliran foto majelis yang bawa berkah malah disuruh hapus."

Ayah berdehem keras dari kursinya, Ibu langsung menghentikan omongannya.

Selesai membereskan meja makan, aku mengunci diri di kamar. Udara siang terasa panas, kipas angin dinding di pojok kamarku berderit pelan. Aku duduk di tepi kasur, menggenggam ponsel. Aku membutuhkan seseorang untuk mendengar apa yang kurasakan, seseorang yang tidak akan menceramahiku tentang berkah dan setan.

Aku membuka ruang obrolan Rahma. Jemariku mengetik cepat di atas layar. "Ma, gue mau cerita. Kemarin di majelis, gue ketemu sama orang yang semua orang puja-puja. Tapi caranya dia ngelihatin gue aneh banget. Pas salim tangan gue dipegang lama, gue ngeri banget. Terus semalam nyokap bokap denger gue protes malah ngamuk, gue dibilang kemasukan setan. Gue kayak mau dijodohin sama orang yang bikin gue takut, Rah. Gue harus gimana?"

Aku menatap paragraf panjang itu di layar. Kursor berkedip-kedip di ujung kalimat.

Jemariku bergetar. Aku membaca ulang kalimat-kalimat itu, dan tiba-tiba semuanya terdengar salah. Jika aku menulis "Habib ngelihatin gue aneh," di mata orang lain, mungkin di mata Rahma akan terdengar seperti tuduhan yang terlalu besar dan tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang ulama yang nasabnya suci melakukan hal sepele yang kotor seperti itu? Dan jika aku menulis gue takut, aku takut Rahma akan menganggapku terlalu berlebihan, terlalu lebay, atau mengira aku hanya ketakutan biasa karena belum pernah dekat dengan laki-laki.

Aku menekan tombol hapus. Air mata frustrasi kembali mendesak di sudut kelopak mataku.

Lihat selengkapnya