keheningan ruang tamu terasa mencekik leher. Ibu menatapku tajam, jemarinya meremas kain gamisnya. Bu Haji Lina menarik napas panjang.
"Nak Via..." ujar Bu Haji Lina, nada suara sangat tenang, lembut. "Hati perempuan itu memang lembut, sangat peka. Tapi kadang... saking lembutnya, pikiran anak muda yang belum banyak pengalaman agama itu mudah salah menangkap isyarat baik dari orang berilmu tinggi."
"Tapi kalau rasa takut yang aku rasain ini beneran nyata gimana, Bu Haji? Kalau firasat aku nggak salah?" tanyaku lagi, mencoba bertahan di tengah kepungan orang dewasa.
"Kalau gitu, bawa rasa takut itu ke dalam doa di sepertiga malam, Nak. Jangan dibawa ke dalam prasangka buruk yang merusak berkah," timpal Bu Haji Lina. "Setan itu paling nggak suka melihat ada jalan baik yang mau terbuka untuk anak perempuan saleha, makanya ditiupkan rasa takut dan curiga yang nggak-nggak ke dalam pikiranmu supaya kamu menolak berkah. Jangan kalah sama bisikan setan, Nak Via."
"Via! Cukup! Jaga lisanmu!" potong Ibu. suaranya bergetar menahan amarah. "Nggak sopan kamu ngomong begitu di depan Bu Haji!"
Ayah memajukan tubuhnya. "Kamu tahu kamu lagi ngomongin siapa, Via? Kamu lagi ngomongjn dzurriyah, ulama yang hidupnya dipakai untuk belajar kitab dan dakwah. Berani-beraninya kamu nuduh perasaan pribadimu yang kotor itu sebagai kebenaran di depan kami?"
Aku menunduk, wajahku memerah. Jemariku mengepal di balik saku rok kurung, kukuku meninggalkan bekas putih yang perih di telapak tangan. Aku tahu, jika aku diam sekarang, sisa seluruh hidupku akan resmi dipindahkan dari kepemilikan Ayah ke tangan laki-laki asing itu dalam hitungan minggu.
"Aku baru lulus sekolah, Yah, Bu," suaraku bergetar. "Aku... aku belum mau memikirkan urusan ta'aruf atau pernikahan sekarang. Aku masih mau kuliah dulu tahun ini. Aku mau daftar mandiri minggu ini."
Ibu mendengus, melambaikan tangan di udara. "Kuliah itu bisa nanti-nanti, Via! Pendidikan tinggi buat anak perempuan itu nomor sekian, yang paling utama itu menyelamatkan akhiratmu dulu dengan menerima jalan baik yang sudah jelas mutunya di depan mata!"
"Tapi kalau aku menikah dulu, nanti semua hal jadi beda, Bu!" aku mencoba berargumen, suaraku pecah, air mata frustrasi mengembang di kelopak mata. "Aku nggak mau hidupku langsung dipindahin gitu saja dari rumah Ayah ke rumah suami tanpa aku punya kesempatan buat belajar mandiri dan nentuin pilihanku sendiri!"
Ayah memukul meja, stoples kacang goreng bergetar. Pandangan matanya menembus langsung ke dalam ulu hatiku. "Kamu ngomong seolah-olah menikah dengan orang baik yang paham agama itu musibah besar buat hidupmu, Via!" cetus Ayah. "Banyak perempuan di luar sana menangis berdoa malam-malam supaya dilirik orang berilmu seperti Habib Rafiq, kamu yang jalannya dipermudah malah bertingkah seolah-olah sedang kami jerumuskan ke dalam jurang!"
"Aku cuma belum mau, Yah... aku belum siap..." kataku lirih, air mataku mengalir melewati pipiku, membasahi jilbabku.
Ibu berdiri. "Anak perempuan yang baik dan beradab nggak akan pernah menolak jalan baik yang sudah dipilih orang tuanya cuma karena alasan egois belum siap, Via! Kesiapan itu dibangun lewat kepatuhan, bukan lewat banyak nawar perintah!"
Kunjungan itu akhirnya selesai tepat pukul dua siang setelah Bu Haji Lina pamit pulang dengan senyum maklum yang dipaksakan.