Udara pagi sisa hujan semalam meninggalkan genangan tipis di aspal gang kompleks. Jam baru menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit. Kompleks perumahanku baru ada riuh rendah tukang sayur keliling yang menjajakan dagangan, deru motor matik anak sekolah yang membelah kabut tipis, dan kepulan uap putih yang membubung dari panci besar di warung bubur ayam seberang ruko fotokopi.
Aku berjalan setengah berlari, mencengkeram erat tas kain di dadaku. Jilbab instan cokelat yang kupakai pagi ini jauh dari standar inspeksi Ibu yang biasanya tanpa cela. Ciputku agak miring, ujung kainnya tidak kusampirkan dengan simetris. Aku tidak peduli. Kepalaku terasa mau pecah, dan paru-paruku menuntut ruang napas di luar dinding rumah berbau karbol itu.
Di dekat tiang listrik depan ruko fotokopi, Rahma sudah berdiri, mengenakan jaket hoodie longgar, tangan kanannya memegang kantong plastik berisi bubur ayam dan teh hangat dalam cup plastik.
Rahma melihatku dari kejauhan, dahinya bertaut. "Vi, ini masih pagi banget. Lo ngajak gue ketemu kayak orang mau kabur dari rumah," Rahma mencoba mencairkan suasana pagi yang kaku.
Aku memaksakan senyuman di sudut bibirku, tetapi otot-wajahku menolak berkerja sama. Senyum itu runtuh sebelum sempat terbentuk. "Gue cuma... pengin ketemu langsung. Nggak bisa lewat chat."
Rahma menghentikan tawa kecilnya. Dia melangkah maju, menatap wajahku di bawah cahaya pagi. Matanya mengunci kelopak mataku yang membengkak tebal, sisa dari tangisan dan bentakan Ayah semalam suntuk di dapur.
"Mata lo kenapa?" tanya Rahma.
"Kurang tidur," jawabku pendek, mengalihkan pandangan ke aspal.
"Kurang tidur doang nggak bakal bikin muka lo kayak habis disidang keluarga, Vi," Rahma memotong cepat, dia terlalu mengenalku untuk bisa ditipu oleh alasan klise seperti itu.
Aku menunduk, meremas ujung jilbab cokelatku.
Rahma menghela napas panjang, suaranya melembut. Dia menepuk pundakku pelan, mengarahkan tubuhku menuju bangku plastik di depan warung bubur. "Oke. Duduk dulu. Lo mau bubur? Biar gue pesenin sekalian."
Aku menggeleng cepat, merasakan mual yang instan merayap di ulu hati mencium bau kuah kaldu. "Gue nggak bisa makan. Benar-benar nggak bisa menelan apa-apa."
Rahma meletakkan plastik buburnya di atas meja, lalu duduk di sampingku. Matanya menatapku lurus. "Berarti ini beneran serius. Cerita sama gue. Ada apa di rumah lo?"
Di atas bangku plastik, aku membeku. Lidahku mendadak kelu. Selama beberapa hari, suaraku selalu direbut, dipotong, dan diartikan ulang oleh keluarga dan majelis taklim sebagai kepatuhan yang konyol.
Suara derit mesin fotokopi yang baru dipanaskan dari ruko sebelah terdengar bersahutan dengan dentingan sendok yang beradu dengan mangkuk keramik dari meja seberang. Orang-orang berlalu lalang di sekitar kami, namun bagi diriku, seluruh keramaian itu terasa seperti gelembung kecil yang terpisah jauh.
"Gue... gue bingung harus mulai dari mana," suaraku. "Gue takut kalau gue cerita, lo bakal mikir gue ini berlebihan. Gue takut lo bakal mikir kalau gue yang salah paham atau berpikiran kotor."
Rahma menganggul, duduk diam di sampingku, memberikan ruang sunyi yang lapang bagi suaraku untuk merangkak keluar dengan selamat.
"Mulai dari hal yang paling gampang dulu. Rumah lo kenapa ribet seminggu ini?" tanya Rahma pelan, memancingku dengan pertanyaan dasar.
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir rasa sesak yang menyumbat paru-paruku. "Kemarin... kemarin gue dipaksa ikut acara majelis akbar di rumah Pak Mahmud."
"Oke, terus?"
"Ada tamu besar dari luar kota. Ulama muda, orang-orang di sana pada hormat banget sama dia. Luar biasa fanatik, Rah. Semua orang di kompleks, termasuk nyokap bokap gue, mendadak berubah jadi... kaku, tunduk banget seolah-olah laki-laki itu pembawa kunci surga," aku berhenti sejenak, menelan ludah.
"Ustaz?" tanya Rahma.
Aku ragu sejenak. "Habib."
Rahma menegakkan posisi duduknya, alisnya bertaut. "Terus? Apa hubungannya sama muka lo yang kayak gini?"
"Dia ngelihatin gue." Air mata yang kutahan sejak pagi terasa hangat di sudut kelopak mata. "Bukan lihat biasa. Gue nggak tahu cara jelasinnya ke lo. Tapi pas dia lihat gue, rasanya... rasanya aneh. Kayak gue ditelanjangi di depan ribuan jemaah perempuan yang lagi nunduk. Kalau gue jelasin ini ke nyokap, gue langsung dibentak, dibilang kemasukan setan karena berani mencurigai orang suci."
Rahma mencondongkan tubuhnya ke arahku. "Via, lo cerita aja semuanya ke gue. Gue nggak akan langsung nyalahin lo atau bilang lo lebay. Apa yang dia lakukan?"
"Pas selesai acara, nyokap paksa gue maju buat salim," suaraku mulai bergetar, ingatan tentang sentuhan itu membuat ulu hatiku kembali mual. "Gue udah lapisin tangan gue pakai kain jilbab tebal, sesuai aturan rumah. Tapi pas salim... tangan gue dipegang lama banget sama dia. Jarii gue ditekan pelan sebelum dilepas. Semua ibu-ibu yang ngeliat di sana, termasuk nyokap gue, malah senyum bahagia. Mereka nganggap sentuhan itu berkah luar biasa. Tapi gue... gue pengin banget narik tangan gue saat itu juga. Gue ngeri."
Rahma diam beberapa detik. Tatapan matanya lurus menatap plastik buburnya yang mulai dingin. "Dia memegang tangan lo lama? Sengaja?"
Aku mengangguk, air mata jatuh ke atas pangkuan rokku.
"Sekarang... orang rumah lo gimana?"
Aku tertawa tanpa suara. "Mereka senang. Senang banget. Mereka merasa itu pintu berkah tertinggi yang pernah mampir ke rumah gue."
Untuk pertama kalinya sejak nama laki-laki itu masuk dan mengacaukan isi kepalaku, aku berhasil mengucapkan pengalaman traumatis itu dengan suaraku sendiri tanpa ada yang merebut maknanya.
"Siapa nama lengkapnya?" tanya Rahma, suaranya beralih menjadi tajam dan menyelidik.
Matahari pagi mulai naik, mengusir kabut tipis, menggantinya dengan hawa hangat yang mulai membakar aspal gang. Jalanan di depan ruko fotokopi semakin ramai.
"Namanya siapa, Via? Nama lengkapnya yang tertulis di spanduk majelis kemarin?" Rahma mengulangi pertanyaannya, matanya menatapku tanpa berkedip.