Mereka bertemu sore itu tanpa rencana, tanpa janji, dan tanpa kesiapan untuk apa yang akan menyusul setelahnya.
Di bangku kayu dekat sungai kecil di pinggir kota, sungai yang pernah disebut nenek Jinni dengan nada terlalu serius untuk sekadar dongeng, Jinni duduk dengan kedua tangan saling menggenggam.
Air mengalir pelan di hadapan mereka, membawa suara yang konstan, seolah sedang menceritakan sesuatu yang tak mampu diucapkan manusia.
Juno berdiri beberapa langkah di belakangnya, ragu untuk duduk terlalu dekat.
“Ini sungai yang dimaksud nenekmu?” tanyanya akhirnya.
Jinni mengangguk pelan. “Iya.”
“Apa yang sebenarnya dia lihat?”
Jinni menggeleng. “Nenek bilang… sungai ini pernah mengambil sesuatu dariku.”
Juno menatap aliran air itu lebih lama. Ada perasaan aneh menjalar di dadanya, dingin, berat, tapi juga akrab.
“Mengambil apa?”
Jinni menunduk. “Dia tidak bilang. Tapi setiap kali nenek bicara soal sungai, dia selalu bilang satu hal.”
“Apa?”
“Kalau aku bertemu seseorang yang membuat dadaku terasa sesak tanpa alasan… itu berarti ada kenangan yang belum kembali.”
Juno memejamkan mata sejenak.
Karena itulah yang ia rasakan sejak pertama melihat Jinni.
Sesak tanpa sebab.
Mereka duduk berdampingan, tapi ada jarak tipis yang tak berani mereka lewati. Senja turun perlahan, mewarnai air sungai dengan cahaya keemasan yang rapuh.
“Aku akan pergi,” ujar Juno tiba-tiba.
Jinni menoleh cepat. “Pergi ke mana?”
“Dipindahkan tugas. Ke kota lain.”
Nada suaranya datar, tapi matanya tidak.
“Kapan?”
“Besok pagi.”
Hening.
Angin menggeser daun-daun kering di tanah, dan suara sungai terdengar lebih keras dari sebelumnya.
“Oh,” hanya itu yang keluar dari bibir Jinni.
Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia bahkan tidak tahu apa haknya untuk menahan.
“Kamu tidak kaget?” tanya Juno pelan.
“Aku kaget,” jawab Jinni jujur. “Tapi… aku juga merasa ini akan terjadi.”
Juno menatapnya lama. “Kenapa?”
“Karena setiap kali sesuatu terasa dekat denganku… ia selalu pergi.”
Kata-kata itu menghantam Juno lebih keras dari yang ia duga.
Ia ingin mengatakan banyak hal. Bahwa ia ingin tinggal. Bahwa ia ingin mencari tahu masa lalu itu bersama Jinni.
Bahwa ada perasaan yang tumbuh terlalu cepat, terlalu dalam, di waktu yang salah.