Sebagian orang sepakat dengan pendapat tentang rumah tidak selalu lahir dari kehangatan, sebagaimana tidak semua keluarga tumbuh dari rasa memiliki. Dan aku adalah salah satu orang dari sekian milyar manusia di bumi ini yang sepakat dengan pendapat itu.
Sejak ribuan tahun lalu, manusia membangun dinding dan atap, mereka selalu berharap di dalamnya tumbuh ketenangan. Namun waktu mengajarkan hal yang berbeda—bahwa yang membuat sebuah rumah tetap berdiri bukanlah batu atau kayunya, melainkan siapa yang bertahan di dalamnya.
Di antara mereka bertahan karena cinta atau sisanya lebih buruk, mereka mempertahankan sesuatu karena tidak memiliki pilihan lain.
Seperti kisah orang-orang yang tidak kita kenal, namun sering kita dengar. Tentang orang-orang yang menjaga rumahnya dengan sepenuh jiwa, meski dunia di dalamnya perlahan runtuh. Dan di sisi lain, ada pula mereka yang hidup dalam rumah itu namun setiap langkahnya terasa seperti menumpang.
Menariknya, ini kisah tentang keduanya. Tentang orang-orang yang bertahan… dan yang mencoba untuk tetap hidup di dalamnya.
Setelah turun dari mobil, aku hanya berdiri beberapa saat di depan gerbang yang menjulang tinggi. Dari celah-celahnya, tampak bangunan megah yang berdiri jauh di dalam area rumah. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di kediaman Alana, seseorang yang sudah kukenal selama tujuh tahun terakhir. Kami berteman cukup dekat sejak lulus SMP.
Jari-jemariku sempat menggantung di udara sebelum akhirnya menekan tombol interkom di samping gerbang.
Tak lama kemudian, gerbang terbuka sedikit, memperlihatkan seorang pria paruh baya di baliknya. Tubuhnya tegap dan tinggi. Kacamata yang dikenakannya berpadu dengan seragam hitam.
"Selamat sore. Dengan siapa, dan ada keperluan apa?"
"Selamat sore, Pak. Saya Zafia Zenriya, sahabat Alana. Sebelumnya kami sudah membuat janji bertemu."
Pria itu mengangguk pelan. "Baik, Nona. Mohon tunggu sebentar. Saya akan memberi tahu Nona Alana bahwa Anda sudah datang."
Aku mengangguk pelan. Pria paruh baya itu mengambil ponsel dari saku celananya, menghubungi seseorang. Tidak lama panggilan itu tersambung.
“Tolong katakan pada Nona Alana, seorang perempuan seusia Nona Alana yang bernama Zafia Zenriyaa datang ingin menemuinya.”
Dari seberang terdengar pelan dengan jawaban singkat. “Baik. Tunggu beberapa menit. Akan saya sampaikan padanya.” Panggilan terjeda. Menyambungkan ke panggilan yang lain. Tidak menunggu lama. Wanita di seberang telpon tadi langsung mengabari Pak satpam kembali.
“Nona Alana mengizinkan Anda untuk masuk. Tolong antarkan dia masuk ke dalam!”
“Dimengerti.” Sambungan terputus. Pria itu kembali menatapku. Tersenyum tipis.