Tidak semua rumah lahir dari kehangatan, sebagaimana tidak semua keluarga tumbuh dari rasa memiliki.
Sejak dahulu, manusia membangun dinding dan atap, berharap di dalamnya tumbuh ketenangan. Namun waktu mengajarkan hal yang berbeda—bahwa yang membuat sebuah rumah tetap berdiri bukanlah batu atau kayunya, melainkan siapa yang bertahan di dalamnya.
Ada yang bertahan karena cinta.
Ada yang bertahan karena tidak punya pilihan.
Seperti kisah-kisah lama yang pernah dituturkan—tentang orang-orang yang menjaga rumahnya dengan sepenuh jiwa, meski dunia di dalamnya perlahan runtuh. Dan di sisi lain, ada pula mereka yang hidup dalam rumah yang utuh, namun setiap langkahnya terasa seperti menumpang.
Menariknya, ini kisah tentang keduanya.
Tentang mereka yang bertahan… dan mereka yang mencoba pulang, meski tak pernah benar-benar memiliki tempat itu.
Untuk beberapa detik, setelah turun dari mobil, aku hanya berdiri di depan gerbang yang menjulang tinggi. Menatap bangunan megah di sela-sela gerbang yang menutupi seluruh bangunan rumah itu. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di rumah Alana—seseorang yang telah kukenal selama tujuh tahun. Tepatnya, kami berteman cukup dekat selama lima terakhir ini. Jari-jemariku sempat menggantung di udara, cukup ragu, sebelum akhirnya menekan tombol interkom di samping gerbang.
Tak lama kemudian, pintu gerbang terbuka sedikit, memperlihatkan sosok pria paruh baya di baliknya. Tubuhnya tegap, tinggi, dengan kulit cokelat yang terawat. Ia mengenakan kacamata dan seragam rapi. Usianya mungkin telah melewati lima puluh tahun. Sorot matanya tajam, wajahnya tegas, dan suara lumayan berat.
Pria paruh baya itu bertanya dengan sopan. “Selamat sore. Dengan siapa dan ada perlu apa?"
Aku tersenyum, menjawabnya dengan ramah. “Selamat sore, Pak. Saya Zafia Zenriya, sahabatnya Alana. Saya ingin bertemu dengannya—sebelumnya saya sudah membuat janji.”
“Sebentar, Nona.”
Aku mengangguk pelan. Di balik gerbang, pria itu terlihat menunduk sedikit, lalu mengambil ponsel dari saku celananya. Ia berbicara melalui alat komunikasi di tangannya. Suaranya terdengar jelas, meski tidak terlalu keras.
“Nona, seorang perempuan seusia Anda bernama Zafia datang ingin menemui Anda.”
Dari seberang terdengar pelan dengan jawaban singkat.