Jiwa Tak Bertuan

FAKIHA
Chapter #3

2. Tempat Yang Sama

Di waktu yang sama, di rumah yang sama—seseorang sudah menunggu tanpa benar-benar menyadari apa yang akan datang.

Alana Syena Baaz, berdiri diam di balik balkon depan kamarnya, di lantai dua. Pandangannya jatuh tepat ke arah gerbang yang baru saja terbuka. Ia sudah melihat mobil itu sejak beberapa menit lalu—bahkan sebelum mesin kendaraan itu benar-benar berhenti. Ia tahu siapa yang datang.

Tidak mungkin salah. Namun anehnya, ia tidak segera bergerak. Tangannya masih memegang cangkir, menyesap kopi hitam tanpa gula. Pandangannya lurus ke depan. Sementara napasnya tertahan pelan, seolah ada sesuatu yang belum siap ia hadapi.

Rumah itu terlalu tenang untuk sore ini. Dan di tengah ketenangan itu, kehadiran satu orang justru terasa seperti membuka kembali sesuatu yang selama ini sengaja ia biarkan tertutup.

Alana menoleh sedikit, ketika suara pintu terbuka.

Pelayan pribadinya mendekat, langkahnya ringan nyaris tanpa suara. Ia berhenti di belakang Alana, menjaga jarak dengan sikap yang tetap sopan.

Alana berdiri di balkon depan kamarnya. Gaun tidur berwarna merah muda masih melekat di tubuhnya, sederhana namun rapi. Rambutnya dibiarkan tergerai, jatuh lembut di bahunya. Wajahnya polos, tanpa riasan—tenang, namun menyimpan sesuatu yang tak sepenuhnya bisa dibaca.

“Nona, maaf mengganggu. Nona Zafia sudah datang. Ia menunggu di ruang tamu.”

“Katakan padanya, saya akan bersiap.”

“Baik, Nona. Apa ada hal lain yang ingin disampaikan?”

“Tidak ada. Kamu bisa pergi.”

Pelayan pribadi itu mengangguk pelan, lalu melangkah menjauh, meninggalkan Alana seorang diri.

Alana tidak bergerak sama sekali. Matanya masih tertuju ke bawah balkon. Hari-hari yang telah ia lalui menjadi saksi bisu atas banyak hal yang telah terjadi. Mungkin hal-hal yang selama ini tidak ia pahami, tetapi tetap ia rasakan. Alana tidak banyak mengingat semua hal yang terjadi. Tidak pula menyimpan setiap detail kecil, setiap percakapan, atau setiap kejadian yang pernah ia lewati.

Mungkin karena hidupnya terasa cukup aman… cukup tenang… sehingga ia tidak pernah merasa perlu menggenggam setiap kenangan dengan erat.

Namun, ada beberapa momen yang tetap tinggal. Momen-momen sederhana yang entah bagaimana… mampu membuatnya tersenyum bahkan saat ia mengingatnya kembali.

Salah satunya, saat Alana masih kecil. Ia sering sekali tertidur di sofa panjang di ruang keluarga, tepat di depan televisi yang masih menyala pelan. Cahaya dari layar memantul samar di wajahnya yang tenang. Ia sudah tertidur sejak hampir satu jam yang lalu, tubuh kecilnya meringkuk dengan posisi yang tidak benar-benar nyaman.

Langkah kaki mendekat. Ayahnya datang tanpa suara. Ia berhenti sejenak, menatap putrinya dengan sorot mata yang melembut. Lalu, dengan hati-hati, ia membungkuk dan mengangkat tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. Ringan. Hangat. Seolah itu adalah hal yang sudah sangat biasa ia lakukan.

Alana memiliki empat saudara, tiga dari ibu yang berbeda, dan satu kakak laki-laki dari ibu yang sama dengannya. Di antara mereka semua, Alana paling muda seklaigus yang paling sering tertidur di tempat yang bukan tempat tidurnya sendiri mengingat usianya masih terlalu belia.

Saat tubuhnya dipindahkan, selimut tebal mulai menyentuh badannya.

“Ayah…?” gumamnya pelan, matanya terbuka setengah.

“Tidurlah… hari sudah malam,” jawab ayahnya lembut.

Alana mengangguk kecil, meski matanya sudah hampir tertutup kembali. “Baik, Ayah…”

Hidup Alana tidak kekurangan apa pun. Orang tuanya memberikan seluruh yang dibutuhkan anaknya, baik kasih sayang, koneksi, dan dana. Ia tidak tumbuh dengan rasa haus akan validasi. Tidak mencari pengakuan. Tidak pula mengejar sesuatu yang sebenarnya sudah ia miliki sejak awal.

Tangki cintanya tidak pernah kosong. Begitu pula dengan dunianya yang serba cukup. Sejak kecil, Alana tidak pernah kekurangan apa pun. Hal-hal yang ia inginkan—baik yang sederhana maupun yang besar—selalu terasa mudah untuk ia dapatkan.

Setiap Minggu pagi, mereka selalu berkumpul di halaman samping rumah—sebuah taman luas yang dijadikan tempat bersantai. Di tengahnya berdiri sebuah gazebo kecil beratap bundar, diameternya sekitar tiga meter, kokoh ditopang pilar-pilar yang tersusun rapi. Di bawahnya, sebuah meja bundar diletakkan tepat di tengah, dikelilingi kursi-kursi yang tertata melingkar.

Rumput di sekelilingnya terpotong rapi seperti karpet hijau, masih menyisakan embun tipis yang berkilau di ujung-ujungnya. Angin pagi berembus lembut, membawa kesejukan yang menenangkan. Suasana di sana terasa ringan—jauh dari tekanan, seolah waktu berjalan lebih lambat di tempat itu.

Alana duduk di kursi itu bersama keluarganya. Tak lama kemudian, lima kucing gemuk kesayangannya datang menghampiri. Kucing-kucing itu melangkah pelan ke arah Alana. Salah satu di antaranya ekor terangkat, seolah sudah tahu ke mana mereka harus pergi. Saat posisinyanusdah dekat, kucing-kucing itu mengendus kaki mungil Alana, lalu saling berebut perhatian. Alana tersenyum kecil. Tangannya yang mungil mengangkat salah satu dari mereka—seekor kucing putih berbulu tebal, namanya kiko.

“Kiko…” gumamnya pelan. Ia mengusap lembut bagian lehernya. Kiko memejamkan mata, menikmati sentuhan itu.

Lihat selengkapnya