Di waktu yang sama, di rumah yang sama—seseorang sudah menunggu tanpa benar-benar menyadari apa yang akan datang.
Alana Syena Baaz, berdiri diam di balik balkon depan kamarnya, di lantai dua. Pandangannya jatuh tepat ke arah gerbang yang baru saja terbuka. Ia sudah melihat mobil itu sejak beberapa menit lalu—bahkan sebelum mesin kendaraan itu benar-benar berhenti. Ia tahu siapa yang datang.
Tidak mungkin salah. Namun anehnya, ia tidak segera bergerak. Tangannya masih memegang cangkir, menyesap kopi hitam tanpa gula. Pandangannya lurus ke depan.
Rumah itu tidak pernah berubah, selalu tenang. Namun, di tengah ketenangan itu, kehadiran satu orang justru terasa seperti membuka kembali sesuatu yang selama ini sengaja ia biarkan tertutup.
Alana menoleh sedikit, ketika suara pintu terbuka. Pelayan pribadinya mendekat, langkahnya ringan nyaris tanpa suara. Ia berhenti di belakang Alana, menjaga jarak dengan sikap yang tetap sopan.
Alana berdiri di balkon depan kamarnya. Gaun tidur merah muda masih melekat ringan di tubuhnya. Rambutnya dibiarkan tergerai, jatuh lembut di bahu. Wajahnya polos, tanpa riasan.
Tingginya sekitar seratus lima puluh sentimeter.
Alis dan bulu matanya terbingkai rapi, membentuk garis halus yang menegaskan sorot matanya. Wajahnya cenderung bulat, dengan mata berbentuk almond dan bibir yang berada di antara—tidak terlalu penuh, juga tidak tipis.
“Nona, maaf mengganggu. Nona Zafia sudah datang. Ia menunggu di ruang tamu.”
“Katakan padanya, aku akan bersiap.”
“Baik, Nona. Apa ada hal lain yang ingin Nona sampaikan?”
“Tidak ada. Kamu bisa pergi.”
Pelayan pribadi itu mengangguk pelan, lalu melangkah menjauh, meninggalkan Alana seorang diri.
Alana tidak bergerak sama sekali. Matanya masih tertuju ke bawah balkon. Hari-hari yang telah ia lalui menjadi saksi bisu atas banyak hal yang telah terjadi. Mungkin hal-hal yang selama ini tidak ia pahami, tetapi teyal Alana rasakan. Alana tidak banyak mengingat semua hal yang terjadi. Tidak pula menyimpan setiap detail kecil, setiap percakapan, atau setiap kejadian yang pernah ia lewati.
Mungkin karena hidupnya terasa cukup aman, cukup tenang, sehingga ia tidak pernah merasa perlu menggenggam setiap kenangan dengan erat.
Namun, ada beberapa momen yang tetap tinggal. Momen-momen sederhana yang entah bagaimana mampu membuatnya tersenyum bahkan saat ia mengingatnya kembali.
Salah satunya, saat Alana masih kecil. Ia sering kali tertidur di sofa panjang di ruang keluarga, tepat di depan televisi yang masih menyala pelan. Cahaya dari layar memantul samar di wajahnya yang tenang. Ia sudah tertidur sejak hampir satu jam yang lalu, tubuh kecilnya meringkuk dengan posisi yang tidak benar-benar nyaman.
Suara langkah kaki mendekat, bergesek dengan lantai marmer warna cream. Ayahnya datang tanpa suara. Ia berhenti sejenak, menatap putrinya dengan sorot mata yang melembut. Lalu, dengan hati-hati, ia membungkuk dan mengangkat tubuh kecil putrinya ke dalam pelukannya. Ringan. Hangat. Seolah itu adalah hal yang sudah sangat biasa ia lakukan.
Alana adalah anak kelima dari empat bersaudara. Tiga dari ibu yang berbeda, dan satu kakak laki-laki dari ibu yang sama dengannya. Di antara mereka semua, Alana paling muda. Saat tubuhnya dipindahkan, selimut tebal mulai menyentuh badannya.
“Ayah…?” gumamnya pelan, matanya terbuka setengah.
“Tidurlah… sudah malam.”
Alana mengangguk kecil, meski matanya sudah hampir tertutup kembali. “Baik, Ayah…”
Hidup Alana tidak kekurangan apa pun. Orang tuanya memberikan seluruh yang dibutuhkan anaknya, baik kasih sayang, koneksi, dan dana. Ia tidak tumbuh dengan rasa haus akan validasi. Tidak mencari pengakuan. Tidak pula mengejar sesuatu yang sebenarnya sudah ia miliki sejak awal.
Tangki cintanya tidak pernah kosong. Begitu pula dengan dunianya yang serba cukup. Sejak kecil, Alana tidak pernah kekurangan apa pun. Hal-hal yang ia inginkan—baik yang sederhana maupun yang besar—selalu terasa mudah untuk ia dapatkan.
Setiap Minggu pagi, mereka selalu berkumpul di halaman samping rumah—sebuah taman luas yang dijadikan tempat bersantai. Di tengahnya berdiri sebuah gazebo kecil beratap bundar, diameternya sekitar tiga meter, kokoh ditopang pilar-pilar yang tersusun rapi. Di bawahnya, sebuah meja bundar diletakkan tepat di tengah, dikelilingi kursi-kursi yang tertata melingkar.
Rumput di sekelilingnya terpotong rapi seperti karpet hijau, masih menyisakan embun tipis yang berkilau di ujung-ujungnya. Angin pagi berembus lembut, membawa kesejukan yang menenangkan. Suasana di sana terasa ringan—jauh dari tekanan, seolah waktu berjalan lebih lambat di tempat itu.
Alana duduk di kursi itu bersama keluarganya. Tak lama kemudian, lima kucing gemuk kesayangannya datang menghampirinya. Kucing-kucing itu melangkah pelan ke arah Alana. Salah satu di antaranya mereka, ekornya terangkat ke atas. Namanya kiko, memiliki bulu halus warna putih sempurna. Ia selalu tahu ke mana dirinya harus pergi. Saat posisinya sudah dekat, kucing-kucing itu mengendus kaki mungil Alana, lalu saling berebut perhatian. Alana tersenyum kecil. Tangannya yang mungil mengangkat salah satu dari mereka—seekor kucing hitam berbulu tebal, bernama Xiao.
“Xiao…” Suaranya terdengar pelan. Alana mengusap lembut bagian lehernya. Untuk sesaat Xiao memejamkan mata, menikmati sentuhan itu.
Alana mengenakan celana jeans putih dan mantel panjang berwarna pink. Rambutnya dikepang rapi ke belakang, beberapa helai kecil terlepas dan bergerak pelan tertiup angin.