Jiwa Tak Bertuan

FAKIHA
Chapter #5

4. PION YANG BERUBAH

Tahun berganti. Beberepa pion pindah tempat. Begitu juga dengan papan permainannya. Saat kematian Kakek datang, duka menyelimuti semuanya. Orang-orang berkumpul di rumah kediaman Kakek. Semuanya memakai pakaian muslim menutup aurat warna hitam. Lalu mengantarkan di tempat peristirahatan terakhir, namun hanya laki-laki yang lebih dulu mengantar. Perempuan akan datang setelah prosesi penguburan selesai.

Kematian Kakek bukanlah akhir dari segalanya—melainkan awal dari kehidupan keluarga kami yang sebenarnya, yang perlahan memperlihatkan wajahnya tanpa lagi tersembunyi. Wajah-wajah lama yang disembunyikan selama puluhan tahun itu mulai memperlihatkan aslinya.

Saat itu, usiaku masih sepuluh tahun—sudah memahami arti kehilangan. Semua orang serempak mengenakan pakaian hitam. Wajah mereka terlihat datar. Mata-mata mereka begitu sembab. Udara terasa berat, seperti menahan sesuatu yang tidak terlihat.

“Zafia…" Aku menoleh saat Tante Rayana memanggilku. Ia duduk di sebelahku. "Sedari tadi, Tante lihat kamu belum makan apa pun.”

“Aku belum lapar, Tante. Mama ke mana?”

“Mama kamu sedang membantu mengambilkan minum untuk semua orang, bersama Tante Riya.”

Aku mengangguk kecil. Ada banyak hal yang ingin kutanyakan. Tentang Kakek. Tentang apa yang sebenarnya terjadi. Tapi kata-kata itu tertahan. Aku takut—takut pertanyaanku justru melukai Mama atau Ayah atau beberapa anggota keluarga yang lainnya.

"Tante kenapa diam saja? Apa Tante butuh sesuatu?" tanyaku hati-hati. Tante Rayana menggeleng pelan.

Sepanjang yang kuperhatikan, Tante Rayana tidak benar-benar terlihat seperti anaknya Kakek dan Nenekku yang lain. Ia seperti orang lain. Maksudku, bukan tentang wajah yang dimilikinya, melainkan akses, fasilitas, dana, dan koneksi tidak mendapat sebaik anak-anak yang lainnya.

"Kamu mulai besar. Dan Tante nggak yakin kalau kamu nggak tahu apa pun," katanya. Aku tidak mengerti arah pembicaraan ini.

"Apa maksud Tante?" tanyaku, bingung. Tante Rayana menyilangkan kakinya. Mengambil cangkir di depan meja kami, lalu menyesapnya. Cangkir itu masih ia pegang, lalu jemarinya memutari permukaan cangkir itu. Matanya menatap lurus ke depan.

"Menjadi bagian dari keluarga Zaman bukanlah suatu kebanggaan, Zafia. Ada tanggung jawab yang harus dipikul dan tekanan besar yang perlu kita tahan. Dan sini, kegagalan bukan sekadar cela—melainkan hukuman. Siapa pun yang dianggap gagal, nasibnya nggak akan pernah baik-baik saja." Aku mulai menangkap maksud di balik kata-katanya.

Tante Rayana menaruh cangkir di meja menghasilkam bunyi cukup nyaring. Untungnya, tidak ada anggota keluarga kami berada di ruang ini.

Aku tahu aku masih terlalu muda untuk memahami semuanya. Namun, anak-anak dalam keluarga kami tidak diberi pilihan untuk tidak tahu. Kami dibesarkan untuk mengerti lebih cepat, bersikap bijak lebih awal, seolah masa kecil bukan sesuatu alasan untuk tidak mengerti apa pun.

"Kamu masih muda. Lakukan yang terbaik. Keluarga ini tidak memberi ruang bagi kegagalan. Dan jika kamu berani melawan, itu berarti pengkhianatan. Belajar lebih keras bukan pilihan, tapi kewajiban—meski melelahkan." Tante Rayana berhenti sejenak, mengambol napas. "Zafia, kamu tahu kenapa hidup Tante tidak sebaik saudara-saudara Tante yang lain?" Aku hanya bisa menggeleng pelan.

"Karena Tante dianggap bodoh. Berbeda dengan mereka yang selalu menjadi kebanggaan. Saudara-saudara Tante mampu mengumpulkan puluhan prestasi setiap tahun, sementara Tante tidak pernah sekali pun. Itu tamparan memalukan untuk Mama dan Ayah memiliki Tante. Dan karena hal itu mereka punya alasan memarahiku dan melabeli Tante sebagai orang yang tak berguna."

Aku menatapnya tanpa berkedip, terdiam dalam keterkejutan. Rasanya sulit menerima kenyataan yang ia ucapkan begitu tenang.

"Sejak itu, hidup Tante dipersempit. Koneksi, akses, dana, hingga fasilitas perlahan diambil. Tante lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, mengerjakan pekerjaan sehari-hari. Bahkan untuk bertemu orang-orang penting pun, Tante tidak lagi diizinkan."

"Apa alasannya?"

"Jelas, mereka tidak akan pernah membiarkan anak yang mereka anggap gagal itu muncul di depan publik. Sekali saja itu terjadi, segalanya akan hancur. Aib yang selama ini mereka tutupi akan terbuka—bahwa mereka memiliki anak yang dianggap tak berguna seperti Tante, yang hanya akan mempermalukan keluarga Zaman. Dan inilah takdir Tante kini: tanpa suami, tanpa anak, tanpa apa pun yang mereka miliki. Bahkan harapan pun seakan tak tersisa. Itulah luka paling menyakitkan yang harus Tante tanggung."

"Beberapa orang menganggap Tante bukan sekadar bodoh, melainkan idiot. Tidak waras. Dan panggilan dengan kata-kata yang terlarang untuk diucapkan. Tapi tidak apa-apa. Itu adalah menu makanan keseharian Tante selama Tante hidup." Aku memejamkan mata.

Ternyata ada yang lebih tragis dari kehidupan mama, ibuku sendiri. Aku pikir Mama yang paling menderita ketika mendengar seluruh ceritanya, Tapi ternyata ada yang lebih mengenaskan, yaitu Tante Rayana. Selama ini ia diam tanpa banyak bicara karena lukanya teramat berat sampai ia lebih memilih diam. Jelas, di rumah ini tidak ada yang memahami dirinya.

"Waktu sudah berlalu. Satu persatu orang terdekat kita sudah diambil oleh pemiliknya. Itu bukan harga yang mereka bayar, melainkan keharusan waktu yang sudah berakhir berada di dunia ini." Aku mengangguk paham.

Ada rasa khawatir yang menyergap diriku, apa aku bisa bertahan dalam lingkungan ini, atau aku akan berakhir sama seperti Tante Rayana. Aku harap, nasib baik masih berpihak padaku.

Setelah itu, Tante Rayana pergi meninggalkanku.

Tidak lama, Fazer datang. Langkahnya pelan, tidak seperti biasanya. Matanya terlihat sembab. Ia duduk di senbelahku. Saat kabar duka kematian Kakek Muria datang, Fazer satu-satu anak yang suara tangisannya paling keras.

“Kamu nggak nangis, Za?” tanyanya polos. Kami duduk di ruang keluarga. Aku melihat semua orang sedang menangis kehilangan sosok Kakek yang selama ini menemani kami. Beberapa orang sibuk berlalu lalang.

Dua pelayan perempuan menghampiri kami, membawa makanan berat untuk mengisi perut kami yang sedari tadi kosong. Aku mengucap terima kasih. “Aku sedih… aku mau menangis. Tapi air mataku nggak bisa keluar.”

Fazer mengernyit. “Aneh. Aku nggak pernah kayak gitu.”

“Itu juga yang aku pikirkan.”

Fazeer mengeluarkan sebatang cokelat dari sakunya, lalu memberikannya padaku. Aku menerimanya, jemariku menyentuh bungkus yang sedikit hangat.

“Terima kasih.”

Lihat selengkapnya