Tahun berganti. Beberapa pion pindah tempat. Begitu juga dengan papan permainannya. Saat kematian Kakek datang, duka menyelimuti keluarga kami.. Orang-orang berkumpul di rumah kediaman Kakek. Semuanya memakai pakaian muslim menutup aurat warna hitam. Lalu mengantarkan di tempat peristirahatan terakhir, namun hanya laki-laki yang lebih dulu mengantar. Perempuan akan datang setelah prosesi penguburan selesai.
Kematian Kakek bukanlah akhir dari segalanya—melainkan awal dari kehidupan keluarga kami yang sebenarnya, yang perlahan memperlihatkan wajahnya tanpa lagi tersembunyi. Wajah-wajah lama yang disembunyikan selama puluhan tahun itu mulai memperlihatkan aslinya.
Saat itu, usiaku genap sepuluh tahun—sudah memahami arti kehilangan. Semua orang serempak mengenakan pakaian hitam. Wajah mereka terlihat datar. Mata-mata mereka begitu sembab. Udara terasa berat, seperti menahan sesuatu yang tidak terlihat.
“Zafia…" Aku menoleh saat Tante Rayana memanggilku. Ia duduk di sebelahku. "Sedari tadi, Tante lihat kamu belum makan apa pun.”
“Aku belum lapar, Tante. Mama ke mana?”
“Mama kamu sedang membantu Tante Riya membuatkan minum.”
Aku mengangguk kecil. Ada banyak hal yang ingin kutanyakan. Tentang Kakek. Tentang apa yang sebenarnya terjadi. Tapi kata-kata itu tertahan. Aku takut—takut pertanyaanku justru melukai Mama atau Ayah atau beberapa anggota keluarga yang lainnya.
"Tante kenapa diam saja? Apa Tante butuh sesuatu?" Tante Rayana menggeleng pelan.
Sepanjang yang kulihat, Tante Rayana seperti tidak benar-benar terlihat seperti anaknya Kakek dan Nenekku yang lain. Maksudku, seperti orang lain. Bukan tentang wajah yang dimilikinya. Melainkan hal lain seperti akses, fasilitas, dana, dan koneksi ia tidak mendapat sebaik anak-anak yang lainnya.
"Kau mulai tumbuh besar, Zafia. Dan Tante nggak yakin kalau kau nggak tahu apa pun."
Jantungku seperti berdegup sedikit lebih pelan. Aku langsung bisa menebak ke mana pembicaraan ini mengarah. Namun yang mengejutkanku bukan pertanyaan itu, melainkan orang yang mengatakannya.
Dengan santai Tante Rayana menyilangkan kakinya. Mengambil cangkir di depan meja kami, lalu menyesapnya. Cangkir itu masih ia pegang, lalu jemarinya memutari permukaan atas cangkir itu. Matanya menatap lurus ke depan.
"Sudah menjadi rahasia umum menjadi bagian dari keluarga Zaman, bukanlah suatu hal besar yang bisa kita banggakan, Zafia."
Aku sedikit heran, kenapa Tante Rayana tiba-tiba membicarakan hal ini? Percayalah, aku tidak sedang merendahkan dirinya. Hanya saja, aku sedikit terkejut. Aku sering mendengar dari keluarga kami atau orang luar, jika Tante Rayana tidak terlalu mengerti apa yang terjadi pada keluarga kami. Maksudku. dia tidak sering libatkan karena tidak terlalu kompeten.
Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Atau… sebenarnya mereka sedang saling bermain di papan yang sama dengan peran yang aman? Aku harap ini hanya pikiranku saja. Tapi jika iya, ini sangat di luar logika kami semua.
Lalu Tante Rayana kembali bersuara. “Ada tanggung jawab besar yang harus dipikul dan tekanan besar yang perlu kita hadapi. Dan sini, kegagalan bukan sekadar cela—melainkan hukuman. Siapa pun yang dianggap gagal, nasibnya nggak akan pernah baik-baik saja." Aku mendengarnya cukup serius. Benarkah yang sedang berbicara denganku ini Tante Rayana. Rasanya seperti mimpi yang sulit dipercaya.
Tante Rayana yang aku kenal tidak seperti ini. Dia seperti tidak setanggap biasanya. Jika ini adalah peran di baliknya, maka Tante Rayana akan dianggap sebagai jadi ancaman untuk mereka, karena ia tahu banyak rahasia di rumah ini.
Tante Rayana menaruh cangkir di meja menghasilkan bunyi cukup nyaring. Untungnya, tidak ada anggota keluarga kami berada di ruang ini. Bisa-bisa langsung diberi peringatan. Ruangan yang kami tempati sangat sepi. Hanya beberapa orang yang bekerja di rumah ini yang sesekali lewat.
Aku tahu aku masih terlalu muda untuk memahami semuanya. Namun, anak-anak dalam keluarga kami tidak diberi pilihan untuk tidak tahu. Kami dibesarkan untuk mengerti lebih cepat, bersikap bijak lebih awal, seolah masa kecil bukan suatu alasan untuk tidak mengerti apa pun. Dan seharusnya kami tidak menyepelekan Tante Rayana, biar bagaimanapun dia tetap memiliki darah keluarga Zaman.
"Kamu masih muda. Lakukan yang terbaik. Keluarga ini tidak memberi ruang bagi kegagalan. Dan jika kamu berani melawan, itu berarti pengkhianatan. Belajar lebih keras bukan pilihan, tapi kewajiban—meski melelahkan, Zafia.” Tante Rayana berhenti sejenak, mengambil napas. "Zafia, kamu tahu kenapa hidup Tante tidak sebaik saudara-saudara Tante yang lain? Bahkan lebih buruk dari ibumu?” Aku menggeleng pelan.
"Karena Tante dianggap bodoh. Berbeda dengan mereka yang selalu menjadi kebanggaan. Sedari kecil sampai dewasa, saudara-saudara Tante mampu mengumpulkan puluhan prestasi setiap tahun, sementara Tante tidak pernah sekali pun. Itu tamparan memalukan untuk Mama dan Ayah memiliki Tante. Dan karena hal itu, mereka punya alasan untuk memarahi dan melabeli Tante sebagai orang yang tidak berguna."
Aku menatapnya tanpa berkedip, terdiam dalam keterkejutan. Rasanya sulit menerima kenyataan jika seluruh kalimat yang baru aku dengar dari Tante Rayana.
"Sejak itu, hidup Tante dipersempit. Koneksi, akses, dana, hingga fasilitas perlahan diambil. Tante lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, mengerjakan pekerjaan sehari-hari. Bahkan untuk bertemu orang-orang penting pun, Tante tidak lagi diizinkan."
"Apa alasannya?”
"Jelas, mereka tidak akan pernah membiarkan anak yang mereka anggap gagal itu muncul di depan publik. Sekali saja itu terjadi, segalanya akan hancur. Aib yang selama ini mereka tutupi akan terbuka—bahwa mereka memiliki anak yang dianggap tak berguna seperti Tante, yang hanya akan mempermalukan keluarga Zaman. Dan inilah takdir Tante kini: tanpa suami, tanpa anak, tanpa apa pun yang mereka miliki. Bahkan harapan pun seakan tak tersisa. Itulah luka paling menyakitkan yang harus Tante tanggung seumur hidup."
"Beberapa orang menganggap Tante bukan sekadar bodoh, melainkan idiot. Tidak waras. Dan panggilan dengan kata-kata yang terlarang untuk diucapkan. Tapi tidak apa-apa. Itu adalah menu makanan keseharian Tante selama Tante hidup."
Aku memejamkan mata.
Selama ini aku selalu mengira Mama adalah orang yang paling menderita di antara keenam saudaranya.
Ternyata aku salah.
Dalam hitungan detik, semua pemikiranku runtuh setelah mendengar kenyataan yang jauh lebih menyakitkan. Beliau memilih diam selama bertahun-tahun karena luka yang disimpannya terlampau dalam. Tidak ada seorang pun di rumah ini yang benar-benar memahami dirinya.
"Waktu sudah berlalu. Satu persatu orang terdekat kita sudah diambil oleh pemiliknya. Itu bukan harga yang mereka bayar, melainkan keharusan waktu yang sudah berakhir berada di dunia ini." Aku mengangguk paham.
Ada rasa khawatir yang menyergap diriku. Apa aku bisa bertahan dalam lingkungan ini, atau aku akan berakhir sama seperti Tante Rayana? Pertanyaan itu langsung lintas di kepalaku. Aku harap, nasib baik masih berpihak padaku.
Setelah itu, Tante Rayana pergi meninggalkanku.
Tidak lama, Fazer datang. Langkahnya pelan, tidak seperti biasanya. Matanya terlihat sembab. Ia duduk di sebelahku. Saat kabar duka kematian Kakek Muria datang, Fazer satu-satu anak yang suara tangisannya paling keras di antara seluruh keluarga Zaman.