Jiwa Tak Bertuan

FAKIHA
Chapter #4

3. Yang telat tidak selalu tertinggal

Rumahku tidak seluas rumah Kakek Muria atau keluarga Zaman, namun cukup membuat kami tinggal tanpa merepotkan siapa pun. Dengan luas bangunan 350 meter persegi. Ukurannya hanya seperenam dari luas bangunan rumah Kakek. Di belakang rumah kami memiliki sebidang tanah yang cukup luas yang di buat kebun buah, sayur dan bumbu-bumbuan.

Rumah itu selalu sama. Tidak sedikit pun berubah. Cat dinding warna putih, dengan nuansa modern, dan beberapa jendela besar warna hitam.

Hubunganku dengan Kak Lazam—kakakku juga tidak begitu dekat. Kami jarang berbicara. Kami hanya berbicara saat ada perlu saja. Kebiasaanku jarang mengobrol membuat diriku selalu canggung memulai pembicaraan terkecuali kepada orang terdekat.

Aku duduk di depan teras rumah. Alat kuas yang kupegang menari di atas kanvas. Aku suka sekali melukis. Walaupun belum sepenuhnya bagus.

“Zafia, apa kamu sudah makan?”

“Sudah Ma.”

“Mama sama Ayah berangkat kerja dulu. Kamu di rumah saja, ya!”

“Tapi hari ini ada les berkuda di rumah Kakek. Sejam lagi aku ke sana.”

Mama menghela napas. Helaan napas itu terdengar jelas di telingaku. Aku tidak bertanya mengapa.

“Baik, tapi jangan bikin ulah di sana. Kalau Kakek atau Nenek atau Tantemu siapa pun itu tanya Mama, bilang saja Mama lagi kerja.” Aku mengangguk.

“Kalau kamu pergi ke sana. Semua pintu kamu kunci, ya!” Aku mengangguk lagi. Aku mencium punggung tangan Mama dan Ayah. Setelah itu mereka pergi menggunakan mobil mereka.

Aku kembali melanjutkan lukisanku. Sampai setengah jam kemudian, aku membereskan semua alat lukisanku, memasukkannya satu persatu ke kamarku dengan rapi. Lalu berjalan ke pintu depan dan belakang untuk mengunci semua pintunya.

Aku pergi ke rumah Kakek menggunakan sepeda. Jaraknya tidak begitu jauh. Rumah kami hanya beda komplek, Rumah Kakek paling ujung komplek Mawar, Jl. Permata 7 No 10, aku hanya perlu menempuh sepuluh menit saja. Rumah itu paling besar di antara rumah-rumah sekelilingnya, dan satu-satunya rumah yang paling luas di perumahan kota kami.

Saat aku tiba di rumah kediaman rumah Kakek, Pak Laza langsung membukakan gerbang saat aku memencet bel. Gerbang besi hitam itu terbuka perlahan, memperlihatkan halaman luas dengan jalan setapak yang tersusun rapi menuju rumah utama.

“Selamat pagi, Nona Zafia.”

Aku terseyum, menekan rem stang sepeda yang kunaiki. “Selamat pagi, Pak. Apa semua sepupuku sudah datang?” tanyaku dengan ramah.

“Sepertinya belum. Tapi Tuan Muda Fazer sedang menunggu Nona di taman.”

“Baik, terima kasih.” Aku segera memasukan sepedaku ke dalam area parkir. Di sana aku melihat Tante Turiya atau kami semua menaggilnya Tante Riya, beliau baru saja keluar dari mobil putihnya.

“Pagi Tante Riya,” sapaku ramah. Itu ibunya Fazer keluar dari mobil. Tante Turiya tinggal bersama Kakek dan Nenek di atap yang sama.

“Pagi Za. Kamu cepat banget. Yang lain belum pada datang, loh.”

“Ya... sayang sekali." Aku menghela napas. "Tapi lebih cepat, lebih baik. Kalau gitu aku masuk duluan ya, Tante.”

“Silakan. Jangan lari-lari.”

“Ok Tante.” Aku tidak jadi lari. Aku berjalan cepat masuk ke rumah utama.

Begitu melewati pintu utama, udara di dalam terasa lebih sejuk. Langit-langit rumah tinggi, dengan lampu gantung yang menjuntai rapi, memantulkan cahaya hangat ke lantai marmer yang mengilap. Beberapa lukisan besar terpajang di dinding, sementara vas-vas bunga anggrek dan lily diletakkan di sudut-sudut ruangan.

“Zafia…” panggil Tante Rayana, kakaknya Mama. Aku menoleh. Ia membawa beberapa buah naga di keranjang buah.

“Buah naganya mau buat apa, Tante? Banyak banget?”

“Buat stok aja. Zafia sudah makan?”

“Sudah. Kalau gitu aku masuk dulu ya, Tante.”

“Ya, silakan.”

Tante Rayana satu-satunya orang di keluarga kami tidak memiliki anak. Kata Mama Tante Rayana pernah menikah, tapi tidak lama. Hanya setahun, lalu mereka pisah. Entah apa yang terjadi, aku masih terlalu kecil untuk tahu sesuatu.

Lihat selengkapnya