Jiwa Tak Bertuan

FAKIHA
Chapter #2

1. Garis Yang Sama

Aku menarik napas perlahan saat kakiku melangkah masuk ke dalam rumah itu.

Aneh.

Baru saja kami melintasi ambang pintu, rasanya waktu tak lagi bergerak maju—melainkan terseret perlahan ke belakang. Aku memejamkan mata, dan dalam gelap itu, serpihan-serpihan ingatan mulai menjelma, tampak begitu nyata seolah kembali hidup.

Tujuh belas tahun lalu.

Saat semuanya masih terlihat baik-baik saja. Saat kehidupan berjalan seperti seharusnya… meski di baliknya, ada begitu banyak hal yang bergerak tanpa terlihat.

Aku—atau mungkin lebih tepatnya, diriku yang jauh lebih kecil, baru berusia lima tahun—melangkah pelan menyusuri lorong rumah besar kediaman keluarga Zaman, kakek dan neneku.

Mantel abu-abu yang kupakai terasa sedikit kebesaran di tubuhku. Celana putihku menyentuh lantai di setiap langkah kecilku. Rambutku diikat kuda, rapi di bagian atas, sementara ujungnya melengkung lembut. Wajah bundar, mata berbentuk almond, alis tipis serta bibir agak tebal, dan tinggi badan 110 sentimeter.

Di tanganku, aku memeluk sebuah buku cerita bergambar. Baru sebulan ini, aku bisa membaca. Sebelumnya, sangat buruk. Aku tidak mengenal huruf alfabet.

Sampai suatu hari, seorang anak perempuan—lebih tua lima tahun dariku—mengejek dan menertawakanku. Ia membandingkanku dengan anak-anak lain yang sudah lancar membaca, sementara aku… bahkan belum tahu alfabet.

Aku masih ingat rasanya. Bukan sedih. Melainkan ada sesuatu yang tertusuk di dalam diriku. Sejak saat itu, aku belajar sendiri. Tanpa diajari siapa pun. Tanpa ditemani. Aku hanya mengandalkan hafalan huruf yang pernah kudengar, dan mencoba menyusunnya satu per satu. Mengeja. Mengulang. Sampai akhirnya… aku mengerti.

Aku cepat memahami sesuatu. Orang-orang mungkin mengira aku lambat. Padahal, aku hanya tidak pernah diberi kesempatan untuk mulai. Karena itu, aku lebih suka berada di rumah kakek dan nenekku, meskipun tidak selalu.

Setidaknya saat berada sana, aku belajar banyak hal. Bersama sepupu-sepupuku. Membuatku merasa tidak sendirian.

Meski tidak ada yang benar-benar seumuran denganku, usiaku yang paling kecil di antara mereka. Aku merasa beruntung bisa menyesuaikan diri. Di keluarga itu, kecerdasan bukan pilihan. Itu kewajiban yang tidak pernah diucapkan… tapi harus dimiliki.

Langkahku melambat saat melewati pintu perpustakaan. Aku tahu ruangan itu. Ruangan yang membuat siapa pun masuk ke dalam ruangan itu akan menjadi tenang dan serius.

Aku tahu siapa yang ada di dalamnya. “Zafia Zenriya.” Kakek memanggilku. Aku berhenti. Jantungku berdetak lebih cepat, tanpa alasan yang benar-benar kupahami. Aku menoleh ke sumber suara.

“Iya, Kakek…” jawabku pelan.

Aku berusaha tersenyum ramah, seperti biasa.

“Kemarilah.”

Aku mengangguk kecil, lalu melangkah masuk. Kakek duduk di sofa besar yang melingkar mengitari meja di perpustakaan utama, sebuah buku tebal terbuka di tangannya. Wajahnya tegas, sorot matanya tajam. Kacamata minus bertengger di pangkal hidungnya. Suaranya berat dan meninggi—selalu terdengar seperti perintah yang tak bisa ditolak.

Aku takut padanya. Namun, aku tak pernah benar-benar tahu alasannya. Di dalam ruangan itu, aku tidak sendirian. Ada empat orang di perpustakaan: Kak Marifa dan Kak Barka—sepupuku dari pihak ibu—keduanya berusia sepuluh tahun, serta Fazeer yang baru delapan tahun. Aku mengambil tempat duduk di samping Fazeer.

Kami semua duduk rapi, menghadap ke satu arah yang sama—ke arah Kakek. Suasana hening. Terlalu hening. Kakek menutup bukunya perlahan, lalu menatap kami satu per satu. Sepertinya mereka bertiga sudah berada di ruangan ini sejak tadi. Aku yang datang terlambat.

“Dengarkan baik-baik,” katanya. “Apa yang Kakek sampaikan, cukup sekali.” Kami semua langsung duduk lebih tegak. Tidak ada yang berani berbicara.

“Ada dua pedagang buah di sebuah desa di kaki gunung…” Kami mulai mendengarkan, tanpa menyela.

“Di desa itu hidup dua pedagang buah. Yang satu selalu memilih buah paling indah untuk dipajang di depan tokonya. Mengilap, segar, warnanya cerah. Orang-orang selalu membeli darinya karena terlihat meyakinkan.”

Kakek berhenti sejenak.

“Pedagang yang satu lagi berbeda. Buahnya tidak selalu terlihat sempurna. Ada yang kulitnya sedikit lecet, ada yang warnanya tidak terlalu cerah. Tapi ia selalu berkata jujur, mana yang manis, mana yang mulai rusak.”

Kak Marifa menopang dagunya dengan telapak tangan, menyimak dengan wajah serius.

Lihat selengkapnya