Jiwa Tak Bertuan

FAKIHA
Chapter #6

5. Permata Phoenix

Ruang tamu itu terasa hangat oleh cahaya sore yang masuk melalui jendela-jendela tinggi berbingkai kayu gelap. Tirai tipis berwarna krem bergerak pelan tertiup angin, sementara aroma teh chamomile yang baru diseduh samar tercium dari meja kecil di sudut ruangan. Beberapa kue tersaji di piring saji yang bertingkat. Buah-buahan dan lainnya memenuhi meja tamu. Sofa panjang berwarna abu muda dengan lapisan kain lembut tampak rapi. Beberapa foto keluarga terpajang di dinding, membekukan momen-momen yang tak bisa lagi diulang.

Alana belum juga turun. Aku sudah duduk di sofa panjang membentuk huruf L ini dari sepuluh menit yang lalu. Sebelumnya, salah satu pelayan mereka mengatakan bahwa Alana sedang bersiap. Aku masih menunggunya di ruang tamu bersama ibunya Alana, Tante Syena.

Kami banyak berbincang. "Maaf Zaf... kebiasaan Alana selalu lama untuk bersiap. Dia pasti baru bangun tidur."

"Nggak apa-apa Tante. Justru aku yang minta maaf, aku datang ke sini malah merepotkan Tante."

"Sama sekali nggak. Tante senang, akhirnya kamu bisa berkunjung ke sini. Alana sering bercerita tentang kamu."

"Oh ya?" tanyaku ragu.

"Iya... dia selalu antusias menceritakan kamu." Aku tersenyum canggung. Aku harap, Alana tidak melebihkan ceritanya. "Tante senang, akhirnya temannya Alana mau berkunjung lagi."

"Memangnya nggak ada yang mau berkunjung lagi?"

"Baru beberapa bulan Alana lulus kuliah, semua langsung lost kontak. Mungkin mereka sibuk kali, ya?" Aku mengangguk, mendengarkan semuanya. Fase ini memang fase paling rawan terkena fase sibuk. Setelah lulus sekolah maupun kuliah, beberapa orang akan menyibukkan kehidupan barunya. Waktu luang akan semakin menilis, itulah usia dewasa yang sesungguhnya.

"Setelah lulus kuliah, Alana lebih banyak menghabiskan waktu di kamarnya sendiri. Dia jarang keluar rumah. Semua pekerjaannya dikerjakan di rumah," jelas Tante Syena.

"Mungkin, Alana lebih nyaman di rumah, Tante?"

"Sangat nyaman, saking nyamannya dia enggan meninggalkan kamarnya." Tante Syena tersenyum, lalu menundukkan kepala. Wajahnya tidak seceria tadi.

"Apa ada sesuatu yang ingin Tante katakan? Tapi kalau Tante ragu, sebaiknya jangan," tawarku.

Tante Syena memegang tanganku, lalu mengusap lembut punggung tanganku. "Alana mempercayai kamu sebagai sahabatnya. Dan Tante rasa, Tante juga bisa mempercayai kamu sebagai orang kepercayaannya Alana. Sekarang, kamu bekerja di mana Zafia?"

"Aku nggak bekerja di tempat orang lain atau keluarga, Tante. Aku lebih memilih bekerja di tempatku sendiri. Ya... usaha kecil-kecilan."

Tante Syena tersenyum, lalu mengusap lembut pundakku yang tertutup hijab.

“Itu bagus, Zafia. Apa pun usaha yang kita rintis sendiri—meski hasilnya datang perlahan dan tak terlalu besar—akan terasa jauh lebih memuaskan untuk dinikmati.”

Aku membalas senyuman itu. Awalnya, aku pikir sebelum datang ke sini, Tante Syena tidak akan menyambutku dengan hangat—seperti puluhan orang yang pernah kutemui sebelumnya. Tapi setelah benar-benar bertemu dengannya, aku mulai sadar kalau tidak semua orang akan memperlakukanku dengan dingin. Rasa waspada dalam diriku kadang berubah jadi ketakutan, membuatku terlalu cepat menilai buruk setiap orang baru yang hadir. Terkadang, satu hal baik bisa merubah pikiran seseorang. Begitu pula sebaliknya.

"Tante, boleh aku mencoba kue lumpurnya. Keliatannya sangat menggiurkan."

"Silakan. Tante sampai lupa menawari karena kebanyakan ngobrol. Kamu harus coba. Tante tadi pagi sengaja membuat ini buat kamu."

Aku terkejut mendengarnya. "Buat aku?"

"Iya buat kamu. Alana sebelumnya bilang, Zafia suka banget sama kue lumpur. Kebetulan Tante bisa buatnya, jadi Tante buatkan ini khusus untuk kamu."

"Tante... terima kasih. Tapi, ini sangat merepotkan. Aku jadi nggak enak hati. Tapi terima kasih banyak atas jamuannya." Itu bukan sekadar kalimat basa-basi, tapi Aku mengatakan yang sebenarnya. Mungkin menurut orang lain hal ini cukup sederhana, tapi bagiku ini sangat berharga.

"Sama sekali nggak direpotkan. Tante seneng banget, bisa lihat kamu di sini." Lalu Tante Syena mentap ke depan, tangga.

"Nah... itu dia.. anaknya baru datang." Aku langsung menoleh ke arah tangga saat Tante Syena mengatakan hal itu.

Lihat selengkapnya