“Zafia…” telingaku berdenging, tajam dan memekakkan. Suara Tante Syena menyusup tiba-tiba, memecah kesunyian di kepalaku, membuyarkan jejak ingatan yang sedari tadi menguasai isi kepalaku. Dalam sekejap, semuanya lenyap begitu saja.
“Iya, Tante?” responku sedikit terlambat. Aku membuka mata perlahan, menarik napas pendek, berusaha menenangkan raut yang sempat kosong.
“Kau baik-baik saja?” Tante Syena menepuk pelan pipiku menggunakan air dingin. Aku mengangguk, kali ini lebih sadar, meski gerakannya masih tertahan. “Tante pikir kau kenapa-napa. Dari tadi kau memejamkan mata, badanmu juga diam seperti membeku. Tante panggil berkali-kali, tapi sama sekali kau tidak menyahut. Apa yakin, kau baik-baik saja?” tanya Tante Syena, nadanya penuh cemas.
Aku kembali mengangguk, lebih mantap. Bibirku sempat mengatup sebelum akhirnya menjawab, “Aku baik-baik saja, Tante.”
Tante Syena langsung menuntunku ke ruang tamu. “Tolong ambilkan minum untuk Zafia,” titahnya pada asisten pribadinya yang sedari tadi mengekori kami.
“Tidak jauh, lewat sayap kanan, lalu lurus—di sana ruang tamunya.”
“Baik, Tante.”
Aku melangkah mengikuti, meski pikiranku belum sepenuhnya kembali. Tatapanku sempat mengabur, lalu kupaksa fokus ke depan. Kenapa reaksiku sejauh ini? Seharusnya tidak. Bahkan… aku sama sekali tidak mendengar saat Tante Syena memanggilku.
Tidak lama, kami tiba di ruang tamu. Tante Syena memberikan minum padaku. Dengan gerakkan lambat aku langsung meminumnya. Aku kembali menarik napas dalam-dalam. Sedikit tenang.
Ruang tamu ini terasa hangat oleh cahaya sore yang masuk melalui jendela-jendela tinggi berbingkai kayu gelap. Tirai tipis berwarna krem bergerak pelan tertiup angin, sementara aroma teh chamomile yang baru diseduh samar tercium dari meja kecil di sudut ruangan. Beberapa kue tersaji di piring saji yang bertingkat. Buah-buahan dan lainnya memenuhi meja tamu. Sofa panjang berwarna abu muda dengan lapisan kain lembut tampak rapi. Beberapa foto keluarga terpajang di dinding, membekukan momen-momen yang tak bisa lagi diulang.
“Syukurlah kamu baik-baik saja. Tante pikir kamu kenapa-napa.”
“Maaf, aku membuat Tante cemas.” Tante Syena menggeleng pelan.
Alana belum juga turun. Waktu berlalu cepat, sampai aku merasa benar-benar aman. Tidak terasa sepuluh menit berlalu, aku duduk di sofa panjang membentuk huruf L. Sebelumnya, salah satu pelayan mereka mengatakan bahwa Alana sedang bersiap. Aku masih menunggunya di ruang tamu bersama ibunya Alana, Tante Syena.
Kami mulai berbincang setelah aku benar-benar membaik. "Maaf Zaf... kebiasaan Alana selalu datang lama untuk bersiap. Dia pasti baru bangun tidur."
"Nggak apa-apa Tante. Justru aku yang minta maaf, aku datang ke sini malah merepotkan Tante dan membuat Tante cemas."
Tante Syena menggeleng pelan. Beliau mengambil beberapa kue ke atas piring ukuran sedang warna putih untukku. "Sama sekali nggak. Silakan, dimakan,” tawarnya. “Tante senang banget, akhirnya kamu bisa berkunjung ke sini. Alana sering bercerita tentang kamu."
"Oh ya?" Aku tidak percaya.
"Iya... dia selalu antusias menceritakan kamu." Aku tersenyum canggung. Aku harap, Alana tidak melebihkan ceritanya. "Tante senang, akhirnya setelah beberapa waktu, temannya Alana mau berkunjung lagi."
Aku menyerngit kecil. "Memangnya nggak ada yang mau berkunjung lagi?"
Sependek pengetahuanku, teman Alana sangat banyak, ia sering menceritakan teman-temannya yang beberapa kali datang ke rumahnya.
Tante Syena mengangguk, anggun. "Baru beberapa bulan Alana lulus kuliah, semua langsung lost kontak. Mungkin mereka sibuk kali, ya?"
"Mungkin saja."
"Setelah lulus kuliah, Alana lebih banyak menghabiskan waktu di kamarnya sendiri. Dia jarang keluar rumah. Semua pekerjaannya dikerjakan di rumah," jelas Tante Syena. Aku mengangguk, mengerti.
"Mungkin, Alana lebih nyaman di rumah, Tante.”
Wajahnya langsung berubah sendu. "Sangat nyaman. Saking nyamannya dia enggan meninggalkan kamarnya."
“Apa ada sesuatu yang ingin Tante katakan?” Aku menatapnya sejenak sebelum melanjutkan. “Tapi kalau Tante ragu, sebaiknya jangan.”
Tante Syena memegang tanganku, lalu mengusap lembut punggung tanganku. "Alana mempercayaimu sebagai sahabatnya. Dan Tante rasa, Tante juga bisa mempercayaimu sebagai orang kepercayaannya Alana. Sekarang, kau bekerja di mana, Zafia?"
"Aku nggak bekerja di tempat orang lain atau keluarga, Tante. Aku lebih memilih bekerja di tempatku sendiri. Ya... usaha kecil-kecilan."
Tante Syena tersenyum, lalu mengusap lembut pundakku yang tertutup hijab. “Itu bagus, Zafia. Apa pun usaha yang kita rintis sendiri—meski hasilnya datang perlahan dan tidak terlalu besar—akan terasa jauh lebih memuaskan untuk dinikmati.”
Aku membalas senyuman itu. Awalnya, aku pikir sebelum datang ke sini, Tante Syena tidak akan menyambutku dengan hangat—seperti puluhan orang yang pernah kutemui sebelumnya. Tapi setelah benar-benar bertemu dengannya, aku mulai sadar, tidak semua orang akan memperlakukanku dengan dingin. Rasa waspada dalam diriku kadang berubah jadi ketakutan, membuatku terlalu cepat menilai buruk setiap orang baru yang hadir. Terkadang, satu hal baik bisa merubah pikiran seseorang. Begitu pula sebaliknya.
"Tante, boleh aku mencoba kue lumpurnya? Kelihatannya sangat menggiurkan."
"Silakan, ambil saja. Kamu harus mencobanya." Senyum Tante Syena melebar. "Kue lumpur itu Tante yang buat sendiri. Tadi pagi Alana bilang kalau kamu akan datang, jadi Tante sengaja membuatnya."
Aku menatapnya, sedikit terkejut. "Untuk aku?"
"Iya." Tante Syena mengangguk. "Kata Alana, kamu suka sekali kue lumpur. Kebetulan Tante bisa membuatnya, jadi sekalian saja."
Dadaku terasa hangat mendengarnya.
"Tante... terima kasih banyak. Sebenarnya Tante tidak perlu repot-repot seperti ini."
Itu bukan basa-basi. Aku sungguh mengatakannya dengan jujur. Mungkin bagi orang lain ini hal yang sederhana, tetapi bagiku perhatian kecil seperti ini terasa sangat berharga.