Jiwa Tak Bertuan

FAKIHA
Chapter #7

6. Pertanyaan sama, di waktu yang berbeda

Selama beberapa detik, aku terdiam, mencermati semuanya. Rasanya mustahil kita bisa mempertanyakan hal yang sama. Beberapa tahun lalu pertanyaan ini pernah kuajukan pada diri sendiri, dan di waktu berbeda, tanpa disangka, Alana mempertanyakan hal yang sama.

“Sepanjang yang aku pahami, status sosial itu tidak pernah benar-benar bisa dibeli, Na,” aku menjelaskan yang aku tahu. Aku berjalan lurus, menaruh pedang anggar yang kupakai tadi ke tempatnya. Aku berdiri memunggungi Alana. Menatap puluhan pedang anggaran yang tertata rapi di lemari penyimpanan kaca. Tanganku ku lipat di belakang.

“Uang bisa membuka pintu… tapi nggak selalu mengundang kita masuk.” Ada jeda kecil sebelum aku melanjutkan. “Kalau kita bukan bagian dari lingkaran itu sejak awal, akan selalu ada batas yang nggak terlihat—tapi nyata. Dan orang-orang di dalamnya… tahu persis siapa yang benar-benar milik mereka, dan siapa yang hanya sekadar lewat.”

“Koneksi juga bukan sesuatu yang bisa dibentuk dalam satu atau dua pertemuan. Itu dibangun dari waktu, dari kepercayaan, dari posisi yang sudah diakui, Na.”

Aku berbalik badan, posisi kami saling berhadapan. “Status sosial bukan soal terlihat tinggi… tapi tentang diakui tanpa harus menjelaskan diri.”

“Lalu bagaimana denganku? Sekarang, posisi kami jauh lebih buruk,” tanyanya, seolah mencari sesuatu untuk berpijak—entah jawaban atau sekadar pembenaran.

Aku menatapnya sejenak. “Ada apa dengan semuanya, Na?” suaraku pelan, hati-hati. “Dari luar… aku nggak melihat ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan, atau… aku memang nggak bisa melihat apa pun?”

Alana mengangguk pelan. “Sangat rumit… dan sangat buruk.”

Aku tertegun. Kalimat itu terdengar sederhana, tapi cara dia mengucapkannya membuat sesuatu di dalam dadaku ikut menegang.

“Ayah sedang sakit. Lumayan parah… sudah tiga tahun ini,” ucap Alana pelan. “Dan tiga tahun itu… cukup untuk mengubah segalanya.”

Aku meraih bahunya. Mengusapnya pelan. Tanpa banyak pikir. Alana memejamkan mata, seolah menahan sesuatu yang sudah terlalu lama ia simpan sendiri.

Alana masih memejamkan matanya. “Zaf… kerumitan itu nggak selalu langsung terlihat. Apalagi kalau yang runtuh itu bukan bangunannya… tapi sistem di dalamnya.”

Aku terdiam. Mendengarkan. “Perusahaan Ayah mulai goyah sejak beliau sakit,” Alana menjeda kalimatnya. Ia membuka matanya. Lalu, ia berjalan ke arah lemari penyimpanan senjata anggar itu, menaruhnya pelan. Pandangannya kosong ke depan lemari penyimpanan senjata anggar.

“Awalnya masih bisa ditahan, karena manajemennya jalan. Tapi lama-lama…keputusan-keputusan besar nggak lagi sekuat dulu.”

Aku mengangguk tipis. Masuk akal. Seperti yang aku tahu, dalam banyak kasus—bahkan dari yang pernah aku pelajari—ketergantungan pada satu figur kunci dalam bisnis keluarga memang jadi titik paling rentan. Saat figur itu melemah, stabilitas ikut terguncang.

“Cash flow mulai terganggu. Beberapa aset memang sudah dialihkan kepemilikannya menjadi enam bagian. Bagian Bunda dan Ayah disatukan, sementara lima sisanya dibagi untuk kami berlima sebagai anak-anaknya.” Ia menarik napas pelan. “Sejauh ini… kami masih bisa mengendalikannya. Setidaknya, itu yang kami pikirkan.”

Alana menunduk sebentar, suaranya menurun. “Sayangnya, tanpa kami sadari… selalu ada celah di dalamnya.”

“Korupsinya besar, Zaf. Hampir sepuluh triliun. Dari keluarga pihak Ibu. Mereka adalah orang-orang yang selama ini bekerja di beberapa perusahaan kami. Mereka sudah lama di dalam, jadi punya akses ke banyak hal. Awalnya kami nggak curiga, karena yang mereka pegang itu bukan perusahaan utama… lebih ke cabang dan aset pendukung.”

Ia menarik napas sebentar. “Mereka mulai dari sana. Pelan-pelan. Laporan keuangan diubah sedikit demi sedikit, dana dipindahkan bertahap, pakai nama pihak ketiga. Jadi semuanya terlihat normal. Nggak ada yang langsung mencurigakan.”

Suaranya menurun. “Selama itu… kami pikir semuanya masih terkendali. Bahkan saat arus kas mulai terasa aneh, kami kira itu cuma efek dari kondisi Ayah yang sedang sakit.”

Ia menatapku sekilas. “Tapi ternyata… itu sudah berjalan cukup lama.” Ia melanjutkan tanpa terburu-buru. “Waktu kami sadar, mereka sudah siap. Semua jalur yang bisa dilacak… sudah bersih. Mereka menghilang. Satu keluarga. Tanpa jejak.”

Kedua tangannya ia lipat di belakang. “Hampir lima puluh persen dari bagian yang dipegang Ayah dan Bunda ikut terseret. Termasuk bagianku dan Kak Beyaz. Karena kami pegang lini yang mereka masuki tadi. Sementara perusahaan ketiga kakakku yang lain aman… mereka terlalu ketat menjaga sistemnya, jadi nggak gampang ditembus.”

Ia menghela napas. “Setelah itu… semuanya mulai jatuh satu per satu. Beberapa aset sudah lebih dulu dijual diam-diam sebelum kami sempat menahan. Karyawan lama mulai keluar, mungkin karena mereka tahu ada yang nggak beres… atau karena mereka nggak lagi merasa aman.”

Suaranya makin pelan. “Dan yang paling terasa… relasi bisnis mulai berubah. Cara mereka bicara beda. Mereka jadi lebih hati-hati. Beberapa bahkan menarik diri.”

Ia diam sebentar, lalu melanjutkan. “Itu yang paling berat. Bukan cuma karena uangnya hilang… tapi karena kepercayaan ikut hilang.”

Ia menunduk. “Dan Ayah… nggak kuat menahannya. Kondisinya makin drop… sampai akhirnya terkena stroke.”

“Dan kamu tahu apa yang paling terasa?” Alana tertawa hambar.

Aku mengangguk mengerti, menjawabnya pelan. “Bukan kehilangan uangnya. Tapi kehilangan posisi.”

Sunyi sebentar. “Itu yang paling menyakitkan, Zaf,” tambahnya. “Orang-orang yang dulu mendekat… sekarang mulai menjaga jarak. Cara mereka bicara berubah. Cara mereka melihat kita juga berubah.” Aku memahami itu. Lebih dari yang ia kira.

“Status sosial itu memang bukan sesuatu yang bisa dibangun dalam semalam,” kataku akhirnya. “Dan… bukan sesuatu yang sepenuhnya berdiri di atas uang.”

Alana berbalik badan, menatapku. "Dalam banyak kasus,” lanjutku pelan, “status sosial terbentuk dari kombinasi panjang—reputasi, konsistensi, jaringan, dan persepsi publik. Bahkan menurut beberapa kajian ekonomi sosial, social capital sering kali lebih menentukan daripada sekadar financial capital.”

Aku berhenti sejenak, memastikan ia masih mengikuti.

“Uang bisa membuka pintu,” kataku lagi, “tapi tidak selalu membuat seseorang diterima di dalamnya.”

Alana tersenyum tipis. Pahit. “Dan kalau pintu itu mulai tertutup…” katanya lirih.

Lihat selengkapnya