Jiwa Tak Bertuan

FAKIHA
Chapter #12

11. Keterlambatan

Langkahku terhenti ketika Adfan ikut berhenti di samping gazebo. Pagi ini udara terasa lebih dingin setelah semalaman hujan turun begitu deras. Aroma tanah basah bercampur dengan wangi dedaunan yang tertiup angin pelan dari halaman depan.

Rumah keluarga Zaman kini telah beralih menjadi salah satu aset warisan yang dimiliki oleh Tante Turiya, ibunya Fazer dan Adfan. Namun entah mengapa, suasananya terasa berbeda.

Puluhan tahun lamanya rumah keluarga Zaman selalu identik dengan putih vanila. Entah dari kapan seluruh dindingnya berubah menjadi kelabu gelap. Aku harap, yang berubah dari rumah keluarga Zaman hanyalah warna dindingnya saja—bukan isinya.

“Sekarang, posisi kita sudah aman dari keramaian. Kau bisa katakan apa yang ingin kau sampaikan, Adfan.”

Adfan yang sedari tadi diam membelakangiku akhirnya berbalik badan, berhadapan langsung denganku. Adfan adiknya Fazer. Usia kami berdua hanya selisih tiga tahun.

“Kakak sudah cukup lama meninggalkan rumah Zaman. Beberapa hal memang sudah berubah, dan aku tidak yakin kalau Kakak belum tahu semua hal yang sedang terjadi di rumah ini.”

“Kau bisa katakan tanpa berbelit, Adfan,” nada suaraku rendah. Aku sengaja menaruh kedua tangan di belakang.

Di waktu yang sama, Adfan menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menatapku lekat. “Kita semua saling diam agar tetap aman. Dan sudah menjadi rahasia umum bagi keluarga kita, keluarga Kakak paling keras menentang aturan keluarga Zaman. Dan kami semua tahu hal itu.”

Aku menghela napas kasar. “Lalu hal penting apa yang ingin kau sampaikan, sampai kita harus menjauh dari kerumunan?”

“Bergabunglah kembali dengan keluarga Zaman.”

Kalimat itu jatuh begitu saja, membuatku menatapnya seperkian detik tanpa percaya.

Apa aku salah dengar?

Apa maksud dari semua ini? Rasanya baru kemarin, kurang dari tujuh puluh dua jam, Kak Barka minta aku bergabung kembali dan minta bantuan suntikan dana untuk salah satu perushaan Zaman yang sedang kritis. Lalu sekarang, Adfan.

Apa sebenarnya yang sedang mereka rencanakan?

Memanfaatkan kedekatan emosional? Jelas hal itu bisa menjadi salah satu jawaban dari sekian yang memungkinkan.

Kami memang pernah sedekat itu. Sejak kecil, hampir tidak ada jarak di antara aku, Fazer, dan Adfan. Namun, semuanya mulai berakhir ketika Fazer belum lulus sekolah dasar, dan Adfan ketika memasuki bangku menengah pertama. Hubungan kami perlahan merenggang. Bahkan sebelum aku kehilangan orang terdekatku, jarak di antara kami sebenarnya sudah terbentuk sejak lama.

Sebenarnya, setelah keluargaku meninggalkan lingkaran itu, apa yang terjadi pada keluarga Zaman?

Apa mereka benar-benar sedang berada dalam kondisi kritis seperti yang Kak Barka katakan kemarin? Atau ini hanya bagian dari rencana lain—upaya menarik kembali sesuatu yang pernah hilang, lalu memanfaatkannya demi kepentingan mereka sendiri?

Aku tertawa getir mendengarnya. Aku sengaja melangkah, menghapus jarak kami, hanya disisakan setengah meter saja. “Bergabung kembali?" tanyaku.

Adfan mengangguk. "Kakak tidak salah dengar."

Aku tertawa getir. "Setelah semua hal yang terjadi, itu tidak mudah, Adfan. Dan kau sudah cukup dewasa untuk mengerti semua yang terjadi. Hal terbodoh yang kalian minta pada kakak adalah kembali ke tempat yang membuat diri Kakak ke tempat lama. Ke tempat yang sama saja kalian meminta kakak untuk menjeburkan diri ke neraka."

“Ya. Aku paham semuanya. Tapi itu berlebihan jika kakak mengatakan hal itu."

“Apanya yang berlebihan?"

Aku sengaja memberikan sedikit jeda, namun Adfan tidak menyela apa pun. "Kita sama-sama tahu apa yang sebenarnya terjadi. Berpura-pura diam saat melihat semuanya terjadi di depan mata, lalu bersikap seolah tidak ada apa-apa, itu melelahkan. Dan ya… bukan cuma keluargaku yang melakukannya. Mungkin keluargamu juga, bahkan kita semua. Kita sama-sama terpaksa berpura-pura di depan Kakek dan orang-orang lain, seakan tidak pernah ada perang dingin di antara kita.”

Adfan menundukkan kepala, memilih menghindari tatapanku dengan diam yang terasa berat. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya, seolah sedang menahan sesuatu agar tidak lepas begitu saja. Embusan angin pagi membuat daun-daun di halaman bergerak pelan, tetapi suasana di antara kami justru terasa semakin sesak.

Aku menatapnya lekat, mencoba mencari jawaban dari wajahnya yang sulit ditebak.

“Jadi… rencana apa yang sebenarnya yang sedang kalian buat saat nantinya aku bergabung kembali dengan kalian?” Suaraku terdengar pelan, namun nadaku tetap terdengar tajam. “Aku harap, apa pun itu tidak akan membuat keluargaku jatuh ke dalam kesulitan lebih besar lagi.”

Adfan mengangkat wajahnya perlahan. Sorot matanya tampak ragu untuk beberapa detik sebelum akhirnya menatap lurus ke arahku.

“Sesuatu yang besar. Membuka kembali celah lama yang selama ini tertutup… tanpa menimbulkan kecurigaan.”

Keningku berkerut. Dadaku mulai terasa tidak nyaman mendengar cara bicaranya yang terdengar terlalu hati-hati.

“Siapa yang kau maksud?”

Adfan terdiam sesaat. Ia menarik napas panjang, lalu menoleh ke arah rumah sebelum kembali menatapku. Tatapannya kali ini terlihat lebih dalam, seolah memastikan aku benar-benar memahami maksudnya tanpa perlu penjelasan lebih jauh.

“Seseorang yang tidak perlu kita sebut namanya. Kak Zafia pasti tahu siapa orang yang aku maksud.”

“Setelah semua hal terjadi, bagaimana aku bisa mempercayai apa yang kau katakan?"

Adfan menjawabnya dengat penuh keyakinan. "Karena sekarang, kita berada di garis yang sama."

"Mustahil, kalian berbalik mencurigainya?” tanyaku, menatap Adfan tidak percaya. “Dari dulu kalian selalu berada di pihak yang sama untuk mencapai titik yang sama. Kalian satu kubu. Jadi bagaimana mungkin sekarang justru berbalik ingin menyerangnya?”

Adfan terdiam beberapa saat. Tatapannya turun ke lantai rerumputan hijau yang kami pijak. Namun dari wajahnya, aku tahu ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang berani ia jelaskan.

“Karena terlalu banyak hal besar terjadi… dan semuanya mengarah kepadanya.”

Aku menyilangkan tangan di depan dada, menahan rasa kesal yang mulai naik sedikit demi sedikit. “Sejak kapan kalian mulai mencurigainya?”

“Dua tahun terakhir ini.”

Aku tertawa pendek, hambar. “Perkembangan yang cukup terlambat untuk menyadarinya.”

Adfan menghela napas pelan, lalu menatapku lagi. Sorot matanya terlihat lebih serius dibanding sebelumnya.

“Mungkin memang terlambat. Tapi masih ada waktu untuk memperbaiki yang tersisa. Dan kami butuh seseorang yang punya keahlian besar sepertimu, Kak.”

Aku memicingkan mata menatapnya. “Pujian yang kasar. Jadi kamu meminta Kakak kembali hanya untuk mencari sesuatu tentang dia? Data? Bukti? Atau apa?”

Adfan mengangguk tanpa ragu. “Semuanya.”

Jawaban singkat itu justru membuat dadaku terasa semakin sesak. “Dan kenapa harus aku?” tanyaku pelan. “Bukankah kalian punya banyak orang-orang yang lebih bisa dipercaya di keluarga kita, misalnya Kak Barka?”

Adfan tersenyum tipis, tetapi sorot matanya tetap serius. “Karena tidak ada yang benar-benar bisa kami percaya sepenuhnya.” Ia berhenti sejenak.

"Termasuk Kak Barka?"

Adfan menggeleng kepala. “Kakak tahu kenapa sejak kecil semua orang selalu mengandalkan Kak Zafia, kan? Kakak paling tenang saat semua orang panik. Kakak juga selalu bisa membaca sesuatu lebih cepat dibanding kami.”

Aku mengalihkan pandangan, malas mendengar pujian yang terasa seperti jebakan. “Dan kalian baru sadar itu sekarang?”

“Kami sadar sejak dulu,” sahutnya cepat. “Makanya aku ada di sini. Aku orang terakhir yang diminta membujuk kakak supaya mau kembali bergabung.”

Aku menatapnya beberapa detik tanpa bicara. “Kalau aku setuju… apa bayarannya?”

Adfan menegakkan tubuhnya sedikit. “Nama keluarga Zaman yang seharusnya menjadi hak kakak akan kembali menjadi bagian kakak.”

Aku tertawa kecil, hambar. “Aku tidak butuh itu.”

“Jangan langsung menolaknya. Koneksi keluarga kita masih besar. Nama itu masih punya pengaruh.”

Lihat selengkapnya