Ada tiga ruang perpustakaan di rumahku dengan desain yang berbeda. Klasik, modern dan perpaduan dari keduanya. Dan hampir setiap malam, aku selalu berada di salah satunya. Kak Lazam menjulukiku sebagai penghuni perpustakaan.
Lima tahun lalu, setelah Kak Lazam menikah, ia memutuskan untuk pisah rumah. Membuat rumah sendiri dan hidup bahagia bersama istri dan putri kecilnya.
Delapan tahun telah berlalu, kami hidup jauh dari keluarga Zaman—menghilang dari lingkaran mereka—membuat hidup kami perlahan terasa lebih tenang. Meskipun, beberapa kali tanpa sengaja kami masih bertemu dengan orang yang mengenal mereka. Kami belajar menjalani hari tanpa terlalu banyak bertanya, tanpa terus-menerus menghabiskan waktu memikirkan apa yang akan terjadi, harus bagaimana, atau hal-hal yang sejak awal tidak pernah kami inginkan.
Sudah satu jam, aku berada di perpustakaan ini. Dengan pelan, kedua tanganku menutup buku yang baru saja selesai kubaca. Sampul tebalnya mengeluarkan bunyi lirih ketika kutekan perlahan. Setelah melewati begitu banyak keraguan dan memikirkan semuanya dengan matang, akhirnya aku memutuskan untuk menelepon Adfan dan memberitahukan keputusan yang telah kuambil.
Tidak membutuhkan waktu lama sampai panggilanku diangkat. “Halo?” suara Adfan terdengar tenang dari seberang sana.
“Kapan kita bisa bertemu?”
“Besok pagi aku luang, Kalau Kakak nggak keberatan, kita bisa bertemu di rumahku saja.”
Aku terdiam sesaat sebelum mengangguk kecil, meski ia jelas tidak bisa melihatnya. “Baik. Besok pagi, aku akan pergi ke sana.”
“Kalau begitu, aku tunggu.”
Panggilan itu berakhir pelan. Aku menurunkan ponsel, lalu mengembalikan buku tadi ke rak semula dengan gerakan hati-hati. Udara di kamar terasa lebih dingin dari biasanya. Tanganku sedikit gemetar, entah karena gugup atau karena bayangan tentang apa yang mungkin akan terjadi setelah pertemuan itu.
Perasaanku campur aduk. Ada ragu, takut, sekaligus penasaran yang perlahan mengendap di dada. Aku harap, keputusan ini tidak akan membawaku pada sesuatu yang lebih menakutkan yang selama ini kubayangkan.
*****
Pagi datang lebih cepat dari biasanya. Aku masih mengantuk. Atau mungkin semalaman aku tidak benar-benar bisa tertidur pulas, memikirkan kemungkinan apa saja yang akan terjadi besok. Dan itu membebaniku. Langit masih berwarna pucat ketika aku sudah selesai bersiap. Udara dini hari terasa lembap setelah hujan turun semalaman. Akhir-akhir ini, hujan sering turun dari sore hingga malam hari, disertai kilatan petir yang menyambar langit. Cuaca lima tahun terakhir ini tidak bisa ditebak, selalu meleset dari musim yang seharusnya.
Saat keluar dari kamar, aroma tongseng ayam langsung memenuhi seluruh lantai utama rumah. Wangi santan, rempah, dan bawang goreng bercampur hangat dengan udara pagi yang masih dingin. Aku sengaja membawa tas selempang kecil, cukup untuk menyimpan dompet, ponsel, dan ipad.
Di dapur, Mama terlihat sibuk di depan kompor bersama Bibi Na, asisten rumah tangga kami, yang sudah lima tahun ini bekerja dengan kami. Suara sendok beradu dengan panci terdengar pelan, sesekali bercampur bunyi air mendidih dan televisi yang menyala lirih di ruang keluarga.
Siaran berita, salah satu acara yang tidak pernah absen ditonton Mama atau Ayah. Terlebih Ayah, tidak pernah ketinggalan informasi apa pun. Ia selalu mengikuti perkembangan terbaru, mendengarkan setiap kabar tentang kericuhan, konflik, dan segala hal yang terjadi hari ini.
“Kak Zaf, pagi-pagi sudah rapi. Kau mau pergi ke mana?”
“Aku ada janji. Mau bertemu seseorang, Ma.”
Mama mengernyit kecil. “Sepagi ini? Kenapa nggak makan dulu?”
“Nanti saja di luar,” jawabku singkat sambil mengambil kunci mobil di atas meja marmer di bawah meja televisi. Aku melangkah ke arah kulkas, mengambil dia apel. Lalu membawanya.
Mama tidak bertanya lagi. “Hati-hati di jalan.”
Aku mengangguk pelan, mencium punggung tangan Mama sebelum melangkah keluar rumah.
******
Saat aku keluar dari rumah dengan mobil, udara pagi di Araya terasa setengah terbangun. Jalanan kompleks belum terlalu ramai, hanya ada beberapa kendaraan yang melintas dan petugas kebersihan yang sibuk menyapu dedaunan basah di pinggir trotoar. Lampu-lampu jalan sebagian bahkan masih menyala redup ketika mobil putihku keluar perlahan dari gerbang rumah.
Semakin jauh meninggalkan kawasan perumahan, suasana kota mulai berubah. Deretan ruko sudah membuka rolling door, aroma kopi dari kedai-kedai kecil bercampur dengan asap kendaraan yang mulai memenuhi jalan raya utama. Lampu lalu lintas berkedip bergantian di persimpangan besar, sementara suara klakson dan deru mesin perlahan membangunkan pagi.
Aku menggenggam setir lebih erat. Sekitar setengah jam kemudian, aku sampai di kawasan rumah keluarga Zaman. Semakin dekat ke tempat itu, semakin terasa sesak yang memenuhi dadaku. Jujur saja, aku belum benar-benar siap kembali menginjakkan kaki di rumah ini. Romah yang selalu membawa terlalu banyak kenangan, terlalu banyak percakapan yang belum selesai, dan terlalu banyak luka yang selama ini sengaja kuhindari.
Dan kalau Ayah sampai tahu aku datang ke sini pagi-pagi begini, kemungkinan besar hidupku akan berubah menjadi sidang keluarga selama seminggu penuh.
Mobilku berhenti tepat di depan gerbang utama rumah Zaman yang menjulang tinggi dengan pagar besi hitam berornamen emas tua. Lambang keluarga Zaman terpahat besar di bagian tengah gerbang, masih sama seperti terakhir kali kulihat beberapa tahun lalu.
Belum sempat aku mematikan mesin mobil, seorang satpam keluar dari pos penjagaan lalu berjalan menghampiri. Gerakannya sopan, tapi jelas penuh kehati-hatian. Ia mengetuk pelan kaca jendela mobilku.
Aku segera menurunkan jendela.
“Selamat pagi, Nona. Maaf, boleh saya tahu ingin bertemu dengan siapa?”
“Adfan Nan Zaman,” jawabku tenang. “Tolong sampaikan kalau kakak sepupunya, Zafia Zenriya, sudah tiba.”
Pria itu sempat terlihat terdiam sepersekian detik, seolah memastikan dirinya tidak salah dengar. Setelah itu ia mengangguk cepat.
“Baik, Nona. Mohon tunggu sebentar.”
Ia mundur beberapa langkah lalu berbicara melalui alat komunikasi kecil di dekat pos penjagaan.
“Tolong sampaikan pesan kepada Tuan muda Adfan, kakak sepupunya, Nona Zafia Zenriya sudah tiba di gerbang utama.”
Aku menunggu dalam diam sambil memperhatikan halaman depan rumah yang masih basah oleh sisa hujan semalam. Air menggenang tipis di sela batu-batu pijakan, memantulkan cahaya matahari pagi yang mulai naik perlahan.
Tak lama kemudian, pria itu kembali mengangguk kecil, seolah mendapat jawaban dari seseorang di seberang sana.
“Baik.”
Ia kembali menghampiri mobilku. “Silakan masuk, Nona. Tuan Adfan sedang menunggu di lantai dua, tepatnya di perpustakaan dua.”
“Terima kasih.”
Gerbang besar itu terbuka perlahan.
Aku melajukan mobil dengan kecepatan sedang memasuki area utama rumah keluarga Zaman. Jalan menuju bangunan utama berbentuk melingkar luas, cukup untuk tiga mobil berjalan berdampingan tanpa saling mengganggu. Air mancur besar di tengah halaman masih menyala, suara gemericik airnya samar terdengar hingga ke dalam mobil.
Rumah itu masih sama—besar, mewah, dan terlalu tenang. Aku mengarahkan mobil ke area depan pelataran sayap utama rumah. Beberapa pelayan yang sedang merapikan halaman langsung menundukkan kepala begitu mobilku berhenti.
Seorang pria berseragam hitam segera menghampiri ketika aku turun dari mobil. “Nona Zafia, biar mobilnya aku parkirkan. Kau bisa langsung masuk saja.”