Jiwa Tak Bertuan

FAKIHA
Chapter #8

7. Empat Persen

Empat persen warisan yang diberikan Kakek kepada Mama bukan sekadar angka. Melainkan, peringatan keras, atas harga yang harus dibayar. Mereka menyebutnya kesalahan berat. Kakek sengaja memangkas persen bagian Mama. Seharusnya, Mama menerima sepuluh persen, sama seperti saudara perempuan yang lainnya.

Bagi Ayah, keputusan itu jelas tidak adil. Terlalu timpang untuk diabaikan begitu saja. Sayangnya, selain diam dan menerima, Ayah tidak bisa mengajukan protes apa pun.

Waktu berjalan semestinya. Kami melalui semuanya. Cara pandang semua orang mulai berubah. Nama Zaman tidak tersemat dalam keluarga kami. Begitu juga dengan lingkungan sekolahku. Mereka yang selalu berteman denganku, serempak menjauh dan merundungku karena aku bukan lagi bagian dari kalangan mereka. Tidak ada yang bisa kulakukan selain diam, menahan semuanya.

Tidak lama. Ayah memutar otak agar harta empat persen itu tidak habis sia-sia. Menggunakannya dengan benar. Satu-satunya keputusan paling tepat yaitu menjauh dari lingkaran yang sejak awal memang tidak pernah memberi ruang untuk kami.

Mungkin kalian sedang bertanya, kesalahan berat apa yang membuat Kakek marah dan hanya memberikan empat persen pada putri kandungnya sendiri? Jawabannya sangat sederhana, pembangkangan.

Pembangkangan dalam keluarga kami bukan masalah sederhana. Melawan atau menentang, itu bisa muncul hanya dari satu hal—berpikir berbeda. Tidak sejalan dengan cara pandang keluarga Zaman yang lain, sudah cukup untuk diberi label itu. Dan label itu, sekali melekat, tidak pernah benar-benar hilang.

Saat aku berusia empat belas tahun, Ayah dan Mama memutuskan berhenti bekerja di pabrik. Mereka memulai sesuatu dari awal, bisnis. Menggunakan sebagian harta empat persen itu sebagai modal awal. Bagi keluarga besar Mama, jumlah itu cukup kecil dari bagian yang lain. Dan itu cukup untuk mencederai hati Mama.

Kami membangun semuanya tanpa membawa nama keluarga Zaman, selain harta hak Mama. Lagi pula, untuk apa? Menggunakan nama mereka tidak akan mengubah apa pun. Jika sejak awal kami tidak dianggap, maka membawa nama itu hanya akan membuang waktu—tanpa pernah benar-benar membuat kami menjadi bagian dari mereka.

Acgas Cafe, usaha pertama kami, berdiri di atas sisa harga diri yang nyaris direnggut. Tempat itu menjadi saksi bisu bagaimana kami belajar bangkit perlahan, dari luka yang tidak pernah benar-benar dibicarakan.

Tujuh tahun lalu, saat rumah kami akhirnya berdiri—cukup besar, di kawasan Sulfat, Malang. Jaraknya cukup jauh dari tempat mereka tinggal, cukup layak untuk disebut rumah—konflik itu kembali pecah. Tidak kecil. Tidak sederhana. Perang dalam keluarga yang menyeret banyak orang ke dalamnya. Dan seperti biasa… tidak ada satu pun yang benar-benar berdiri di pihak kami.

Semuanya seolah mengarah pada satu pusat—Tante Wale. Kami tahu benar siapa dalang di balik kekacauan itu, dan selalu, dialah orangnya. Ia selalu tahu bagaimana cara bermain tanpa harus mengotori tangannya. Tapi, kami sudah tidak ingin ikut campur lagi.

Tante Wale pandai memanipulasi lawannya. Siapa pun akan mempercayai kata dustanya. Ucapannya terdengar seperti kebenaran, padahal perlahan melilit seperti ular—diam, tapi mematikan.

Setelah usiaku memasuki legal, tepatnya berusia delapan belas tahun, aku meminta modal dari ibuku untuk membangun bisnis kuliner, Elleza Cafe. Modal itu berasal dari hasil putih dari empat persen. Setelah berhasil mendirikan bisnis kecil, Mama dan Ayah pisahkan harta itu, jadi benar-benar hasilnya putih. Dan uang empat persen itu benar-benar dipisah dan tidak pernah kami pakai lagi. Kami menyimpannya. Persiapan akan terjadi masalah besar. Dan konfliknya dsri suatu yang sama.

Elleza Cafe, milikku, berdiri dengan konsep modern tiga lantai. Lantai pertama terbuka dengan dinding kaca tinggi, memperlihatkan cahaya sore yang masuk hangat, berpadu dengan interior minimalis bernuansa putih dan kayu terang. Aroma kopi selalu mengendap di udara, bercampur dengan suara mesin espresso dan percakapan pelan para pengunjung.

Lantai dua lebih tenang—deretan meja dengan lampu gantung kecil yang redup, cocok untuk bekerja atau sekadar menyendiri. Sementara lantai tiga rungan yang di buat untuk acara privat dan eksklusif. Bisa juga digunakan sebagai tempat untuk pertemuan penting. Atau… hal-hal yang tidak ingin didengar orang lain.

Dua tahun setelah Elleza Cafe berdiri, perkembangannya melesat cepat. Dan aku mengembalikan seluruh modal itu kepada orang tuaku. Untuk pertama kalinya… aku benar-benar berdiri di atas kakiku sendiri.

Dua tahun terakhir ini aku belum bertemu siapa pun dari keluarga besar itu. Dan aku tidak pernah berpikir…

Pintu diketuk dari luar.

Tanganku masih sibuk menelusuri laporan pemasukan yang dikirimkan oleh sekretarisku. Aku berada di lantai tiga, ruang kerjaku. Dinding kaca yang menghadap ke jalan terlihat memastikan sore hari mulai turun, cahaya matahari berubah keemasan, memantul di permukaan meja marmer di hadapanku.

“Masuk.”

Pintu terbuka perlahan.

Seorang wanita berhijab masuk dengan langkah rapi. Ia mengenakan jas abu-abu bermotif kotak-kotak dengan rok panjang senada. Aku menoleh sedikit.

“Bu Zafia..." Suaranya menggantung di udara.

Peremluan itu bernama Maza, setahun lebih muda dariku. Panggilan “Ibu” itu masih terasa asing di telingaku—rasanya sedikit menyentil usiaku yang baru dua puluh tiga tahun. Sayangnya, panggilan itu termasuk paling sopan dalam dunia kerja.

"Katakan!"

"Seorang tamu datang ingin menemuimu. Apa kau ingin menemuinya?”

“Siapa?” Tanganku langsung berkeringat dingin, jantungku berdetak lebih cepat dari normalnya.

“Bu Waleya.”

Jemariku langsung berhenti. Seolah ada sesuatu yang menarik napasku secara tiba-tiba.

“Tolong ulangi?” Seharusnya, nama Waleya cukup banyak di kota ini.

“Nama lengkapnya, Waleya Sinaan Zaman. Katanya, beliau keluarga Anda, tante dari pihak ibu.” Aku menelan ludah. Aku tidak salah dengar.

“Ia berada di lantai tiga, paling ujung. Di ruangan khusus.”

Aku memejamkan mata. Sudah terlalu lama nama itu tidak disebut. Dan sekarang… tiba-tiba muncul di tempat yang seharusnya aman. Ini bukan kebetulan.

“Terima kasih. Aku akan menemuinya. Tolong hubungi writers yang ada di lantai tiga untuk menyajikan minuman dan makanan ringan.”

“Baik, aku siapkan.”

Lihat selengkapnya