Jiwa Tak Bertuan

FAKIHA
Chapter #9

8. Titik Utama

Kejutan selalu datang tanpa pemberitahuan. Seharusnya, aku sudah tidak asing lagi dengan hal-hal seperti ini. Belum lama Tante Walleya meninggalkan Elleza Cafe, tempat duduknya pun masih terasa hangat. Dan posisiku masih sama, belum berubah sedikit pun, duduk menyilangkan kaki. Kejutan tidak pernah habis begitu saja. Kabar kurang menyenangkan kembali datang, Kak Barka ingin menemuiku. Apa yang terjadi pada hari ini, kenapa satu persatu anggota keluarga Zaman mulai mendatangiku?

Fazha juga masih berdiri di hadapanku. Ia bertanya, memastikan untuk kesekian kalinya. "Zafie, kau mau menemuinya atau nggak?" Suara Fazha terdengar samar, tenggelam oleh suara pengunjung di cafe ini.

"Sebentar."

Fazha mengerutkan dahinya. Matanya membulat sempurna. Seperti biasa, ia mengatakan sesuatu tidak sabaran. "Kenapa kau membuang waktu untuk berpikir, Zafie? Kau hanya akan menemui keluargamu, bukan simulasi menemui malaikat maut."

"Aku tahu."

Perasaanku mulai tidak enak. Aku memutar permukaan gelas dengan acak. Cemas. Aku ingin menjauhkan perasaan tidak enak ini. Sayangnya, ini bukan sekadar perasaan lewat, melainkan, sesuatu yang akan terjadi.

Jujur saja, kalau bisa menghilang, aku akan melakukannya. Sayangnya, aku hanya bisa menjauhkan diri dari mereka. Dan aku tidak mungkin melakukan tindakan berani seperti memutus tali silaturahmi, itu adalah ide buruk yang dilarang agama. Dan aku juga tidak mungkin berpura-pura tidak bisa menemuinya dengan alasan, perutku sakit atau kepalaku stress tujuh keliling. Itu alasan terbodoh yang tidak mungkin aku gunakan.

Aku melihat dari kejauhan, Kak Barka duduk di pojok meja dekat dinding, meja pelanggan. Matanya tertuju ke arahku. Aku harus menemuinya. Dia sendirian. Mengenakan kemeja hitam yang di singsat sampai bawah siku. Dipadukan celana dan sepatu hitam. Penampilannya sangat formal, seperti keluarga Zaman pada umumnya.

Aku memejamkan mata, perlahan menarik napas.

"Zafie... kau dengar aku?" Faza melambaikan tangannya tepat di depan wajahku. Aku menghela napas, menatapnya tajam.

"Pendengaranku cukup baik untuk menangkap suara lengkinganmu itu, Nona Fazha Revzea." Senyum Faza perlahan menghilang. Ia mematung di tempat.

Pada akhirnya, aku menghampiri meja Kak Barka dan mengabaikan ocehan Fazha yang masih terdengar dari belakang. Dengan sisa tenaga yang kupunya, aku tetap tersenyum.

"Selamat siang, Kak Barka."

"Siang juga, Zaf." Ia menunjuk kursi di depannya. "Duduklah."

Aku menarik kursi di meja yang sama dengan Kak Barka. Ia membalas dengan senyum tipis, tidak benar-benar hangat. Kami tidak pernah dekat. Sejak kecil selalu ada jarak yang tidak terlihat, tapi cukup tebal untuk membatasi kami.

Kak Barka dikenal sebagai sosok yang cerdas, dengan analisis yang nyaris selalu tepat. Ia juga punya ketertarikan pada hewan-hewan yang tidak jinak—ular, buaya, serigala, dan beberapa hewan buas lain yang ia pelihara di kediamannya di ibu kota. Sudah lima tahun sejak ia menetap di sana, dan sejak itu kabarnya jarang terdengar.

Yang justru menggangguku bukan itu.

Bagaimana mereka bisa tahu aku di sini? Seharusnya tidak ada yang sampai keluar dari lingkaran ini. Atau… mereka menggunakan jaringan IT keluarga untuk melacak kami.

Kalau itu benar, ini sudah terlalu jauh.

“Sudah lama kita tidak bertemu. Apa kabarmu, Zafia?” suaranya memecah pikiranku.

Aku mengangguk kecil. “Baik. Kakak sendiri?”

“Sedikit rumit.”

Aku hanya mengangguk lagi. Itu cukup menjelaskan segalanya. “Dari mana Kakak tahu aku di sini?”

“Dari rekanku.” Ia bersandar sedikit. “Kemarin dia datang memesan kopi ratusan cup untuk acara. Dia bilang melihatmu di sini. Aku datang untuk memastikan.”

Aku mengangguk pelan. “Lalu… kenapa Kakak datang sendiri?”

Tatapannya menguat. “Ada yang perlu kita selesaikan.”

“Kita?” ulangku pelan. “Kalau semuanya sudah selesai, apa lagi yang perlu dibahas? Keluargaku sudah lama tidak punya urusan dengan Zaman.”

“Benar.” Ia berhenti sejenak. “Tapi kalian masih bagian dari keluarga ini. Mau sejauh apa pun menjauh, tetap tidak bisa diputus sepenuhnya.”

“Kalau begitu, langsung saja,” potongku, tidak ingin berputar.

Kak Barka menghela napas singkat. “Bisnis keluarga Zaman yang dipegang Om Karlam sedang jatuh. Beliau juga sakit. Perusahaan butuh suntikan dana besar.”

Ia menatapku lebih dalam. “Dan keluarga berharap bisa dibantu. Apalagi sebagian aset yang kamu gunakan dalam bisnismu juga masih terkait dengan nama Zaman.”

Aku menatapnya tanpa berkedip. "Aku memang pernah meminjam modal untuk usahaku dari empat persen itu. Tapi setahun kemudiannya, aku langsung mengganti seluruhnya. Jadi aku pikir, hasil yang sekarang aku miliki tidak ada kaitan apa pun dengan keluarga Zaman."

Lihat selengkapnya