Selama empat hari terakhir, aku terus pulang pergi ke kantornya Alana. Membantu tim IT miliknya, menyelamatkan beberapa data dan sistem yang sempat bermasalah.
Dan satu hal yang paling aku sukai dari Alana, ia tidak pernah meminta bantuan dengan mengatasnamakan kedekatan. Baginya, bantuan tetaplah sesuatu yang harus dihargai dengan layak. Baginya, ucapan terima kasih tidaklah cukup. Ia membayarku dengan harga profesional. Mungkin itu alasan kenapa banyak orang menghormatinya—Alana tahu bagaimana cara menghargai tenaga, waktu, dan kemampuan seseorang tanpa membuat orang itu merasa direndahkan.
Hal yang paling tidak aku sangka justru datang setelah semuanya selesai. Saat kami keluar dari ruangan Alana, kami berpapasan dengan seorang pria paruh baya yang usianya mungkin sekitar enam puluh tahunan. Rambutnya masih didominasi warna hitam dengan sedikit uban samar di bagian samping. Garis-garis halus di wajahnya terlihat tipis, justru membuat rautnya tampak lebih tegas dan berwibawa. Tubuhnya tinggi, berdiri tegap dengan tuksedo hitam gelap yang jatuh rapi di badannya.
Jam tangan perak di pergelangan tangannya tidak terlihat sederhana. Beberapa karyawan yang melewati kami bahkan menundukkan kepala singkat sebagai bentuk hormat.
“Selamat pagi, Nona Baaz,” sapanya ramah. Suaranya berat dan tenang, khas seseorang yang sudah terlalu terbiasa memegang banyak urusan besar.
“Selamat pagi, Pak Shabaz.” Alana tersenyum kecil. “Sudah lama saya nggak melihat Anda. Apa Anda sudah lama di sini?”
“Sekitar setengah jam yang lalu. Saya baru bertemu kakakmu, Beyaz.” Ia berhenti sejenak sebelum kembali bertanya, “Apa kabarmu, Nak?”
“Kabarku baik. Bagaimana dengan Anda?”
“Cukup baik.”
Alana kemudian menoleh ke arahku, tatapannya memberi isyarat halus jika ia akan mengenalkanku.
Aku mengangguk kecil sebagai balasan. Dari caranya berbicara dan bagaimana orang-orang memperlakukannya, aku bisa menebak pria paruh baya ini bukan orang sembarangan. Kemungkinan besar salah satu kerabat lama atau relasi bisnis penting keluarga Baaz.
“Pak Shabaz, perkenalkan ini sahabat saya, Zafia Zenriya. Seorang pengusaha muda yang bergerak di bidang kuliner,” jelas Alana.
Aku tersenyum tipis sebelum meletakkan tangan kananku di depan dada sebelah kiri, memberi salam dengan sopan. “Zafia Zenriya. Suatu kehormatan bisa bertemu dan berkenalan dengan Anda, Pak Shabaz.”
Pak Shabaz membalas senyumku pelan. Tatapannya tenang, tapi cukup teliti memperhatikan lawan bicara. “Senang bertemu denganmu juga, Nona Zenriya.”
Ia terdiam cukup lama. Matanya menyipit tipis, seperti sedang meraba ingatan yang tertinggal jauh di belakang pikirannya. Beberapa detik pandangannya menetap di wajahku sebelum akhirnya bergeser pelan.
“Maaf… wajahmu terasa tidak asing.”
Nada itu menggantung, seperti ia sedang mencari kepastian dari ingatannya sendiri, bukan benar-benar meminta jawaban.
Aku menggeleng pelan. “Sepertinya belum pernah.”
Nama itu kembali disebut pelan olehnya. “Zenriya…” Ada jeda kecil setelahnya, seolah ia mencoba menautkan sesuatu yang belum selesai di kepalanya.
Aku tersenyum tipis. Sudah sering orang berhenti di bagian ini—seakan nama itu selalu meninggalkan ruang tanda tanya yang tidak perlu diucapkan.
“Bukan nama belakang keluarga.”
Ia mengangguk perlahan, tetap dengan sorot yang belum sepenuhnya lepas dari rasa ingin tahu itu.
Namun sebelum keheningan menjadi terlalu panjang, Alana lebih dulu mengambil alih percakapan. Nada suaranya tenang, seolah sengaja menjaga arah pembicaraan tetap di permukaan.
“Zafia membangun bisnis kulinernya sendiri tanpa modal keluarga besar,” ucapnya ringan. “Mungkin Anda pernah mendengar keluarga Zaman. Dulu cukup berpengaruh, dan sampai sekarang beberapa bisnisnya masih berjalan. Zafia salah satu cucu dari keluarga itu.”
Perubahan itu datang perlahan. Tatapan pria itu kembali padaku, lebih lama dari sebelumnya. Alisnya terangkat sedikit, seperti ada potongan ingatan yang baru saja tersambung di kepalanya.
“Benarkah.”
Bukan pertanyaan, lebih seperti konfirmasi yang jatuh pelan tanpa tekanan. Aku mengangguk.
Ekspresinya berubah. Bukan sekadar terkejut, tapi seperti seseorang yang baru menyadari ia sedang berhadapan dengan nama yang pernah tersimpan di sudut ingatan lama. Posturnya sedikit menegang, lalu melunak kembali.
“Tiga puluh tahun lalu…” suaranya melambat, “aku pernah bekerja sama dengan keluarga Zaman. Pak Muria Zaman.”
Ia berhenti sejenak, pandangannya kembali padaku seperti menyusun ulang posisi. “Garis yang mana…”
Kalimat itu tidak pernah benar-benar selesai, hanya tertahan di udara. Aku menghela napas pelan, lalu menjawab singkat tanpa membuka ruang lebih jauh dari yang perlu.
“Ibuku anak keenam dari Kakek Muria.”
Pak Shabaz langsung mengangguk pelan, seperti potongan ingatan lama di kepalanya mulai tersusun kembali.
“Tebakanku tidak salah.” Bibirnya tertarik membentuk senyum kecil. “Wajar saja, kalau wajahmu tidak asing. Aku pernah bertemu denganmu saat kamu masih kecil. Saat kakekmu wafat, aku datang ke sana bersama keluarga.” Aku terkejut mendengarnya. Sementara itu, tatapan Pak Shabaz melembut beberapa detik sebelum kembali melanjutkan, “Akhirnya aku bertemu kembali dengan salah satu kerabat lama. Senang bertemu lagi denganmu, Nona Zafia.”
Aku hanya bisa tersenyum tipis. Tidak tahu harus menjawab apa lagi. Rasanya selalu mengejutkan, setiap orang yang kutemui selalu memiliki hubungan dengan keluargaku.
“Setelah Pak Muria tidak ada, tidak satu pun keluarga Zaman kembali menjalin bisnis dengan kami,” lanjutnya pelan. “Aku sendiri tidak tahu apa alasannya.” Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan nada lebih ringan. “Kebetulan putraku seusia kalian, memiliki beberapa bisnis. Salah satunya bergerak di bidang kuliner. Jadi, kalau kamu tidak keberatan, mungkin kita bisa kembali menjalin kerja sama, meskipun di bidang yang berbeda.”
Aku menatap kartu nama yang sudah lebih dulu ia keluarkan dari saku dalam jasnya.