Jiwa Tak Bertuan

FAKIHA
Chapter #11

10. Perang Hampir Usai

Aku bisa menghabiskan banyak waktu sendirian di perpustakaan pribadi hanya untuk membaca buku, atau berjalan menyusuri rak-rak Gramedia selama berjam-jam demi mencari buku yang ingin kubeli.

Waktu seolah berjalan lebih lambat saat aku tenggelam di antara rak-rak tinggi yang berjajar rapi di sekelilingku. Aroma khas kertas bercampur dingin pendingin ruangan menggantung samar di udara, sementara suara langkah orang-orang dan bunyi roda troli terdengar pelan, saling bersahutan dari lorong lain.

Tiga buku sudah masuk ke dalam paper bag yang kubawa. Aku terus berjalan menyusuri rak demi rak, membiarkan mataku mencari sesuatu yang terasa menarik untuk dibawa pulang, mengisi lebih banyak sudut perpustakaan rumahku.

Tanpa sengaja, pandanganku berhenti pada satu buku di rak kedua. Sampulnya maroon tua dengan judul Seni Membaca Waktu, cukup tebal dibanding buku-buku lain di sekitarnya. Aku melangkah pelan, mendekat, lalu mengambil buku itu.

Saat jemariku menyentuh punggung bukunya, gerakanku tertahan sesaat. Tubuhku tiba-tiba terdiam. Sesaat, aku memejamkan mata. Ada sesuatu yang terasa samar, namun cukup jelas untuk meninggalkan getaran asing di dadaku—sesuatu yang bahkan tidak bisa kujelaskan sekarang.

Aku menarik buku bersampul maroon itu perlahan dari sela rak, lalu membaca tulisan di sampulnya dengan lirih.

“Kerap kali waktu menyimpan sesuatu yang tak pernah kita duga. Dan semesta tidak pernah tergesa-gesa, namun selalu tahu kapan harus mempertemukan dua arah yang sejak awal ditakdirkan untuk saling menuju.”

Tanpa kuduga, pada waktu yang nyaris bersamaan, seorang pria asing yang berdiri di balik rak yang sama ikut membaca pelan kalimat yang sedang kubaca. Suaranya terdengar samar dari sisi seberang rak buku—rendah, tenang, dan nyaris menyatu dengan sunyinya toko itu.

Aku terdiam sesaat, mencerna semuanya.

Bukan karena kalimatnya, melainkan karena ada sesuatu yang kembali terasa—sebuah perasaan asing yang sejak tadi diam-diam mengusik. Rasanya, tubuhku lebih dulu mengenali sesuatu yang bahkan belum sempat dipahami oleh pikiranku sendiri.

Itu hanya kebetulan. Kebetulan yang tidak akan pernah terulang,

Cepat-cepat aku menepis semua pikiran itu sebelum tenggelam terlalu jauh dalam pikiran yang akan membuatku cemas.

Aku memasukkan buku bersampul maroon itu ke dalam paper bag, lalu berjalan menuju kasir dengan lima buku di dalamnya.

Antrian cukup panjang. Orang-orang berdiri berjejer, sebagian sibuk dengan ponselnya, sebagian lagi menatap kosong ke depan. Suara mesin kasir terdengar berulang, diselingi sapaan singkat dari kasir kepada pelanggan.

Aku menghela napas pelan beberapa kali, mencoba tetap sabar. Sekilas aku melirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Setengah enam. Sebentar lagi azan Magrib.

Tak lama kemudian, tibalah giliranku di depan meja kasir. Aku meletakkan paper bag yang kubawa dari rumah di atas meja, sementara jemariku tanpa sadar kembali melirik jam di pergelangan tangan. Entah kenapa, rasanya sore ini berjalan terlalu cepat, seolah waktu sedang terburu-buru meninggalkanku.

Kasir itu mulai memindai beberapa buku yang kupilih satu per satu. Suara bip dari mesin kasir terdengar pelan di tengah ramainya toko buku yang dipenuhi percakapan samar dan langkah kaki pengunjung.

“Lumayan ramai hari ini,” ucapnya basa-basi sambil memasukkan buku-buku itu ke dalam paper bag milikku.

Aku hanya tersenyum kecil. “Iya, mungkin karena akhir pekan.”

Ia mengangguk singkat, lalu kembali fokus pada layar di depannya. “Totalnya tiga ratus dua puluh sembilan ribu.”

Aku langsung mengambil salah satu kartu ATM dari dalam dompet dan menyerahkannya tanpa banyak berpikir. Beberapa detik kemudian, mesin EDC mengeluarkan bunyi pelan setelah transaksi berhasil.

“Sudah masuk, Kak.” Kasir itu menyerahkan kartuku kembali, lalu merapikan bagian atas paper bag sebelum mendorongnya perlahan ke arahku. “Terima kasih sudah berbelanja.”

Aku menerima paper bag itu dan mengangguk kecil. “Terima kasih kembali.”

Sebelum berbalik pergi, mataku sempat sekali lagi melirik jam. Sore memang belum benar-benar habis, tetapi langit di luar mulai berubah jingga perlahan.

******

Salat Magrib aku kerjakan di mushola Gramedia. Setelahnya, mobil melesat membelah jalan raya menuju rumah. Langit di luar telah berubah gelap, sementara gedung-gedung di sepanjang jalan memancarkan gemerlap cahaya lampu. Malam ini jalanan tidak terlalu ramai, hanya deretan lampu kendaraan yang memantul samar di kaca depan mobil sepanjang perjalanan. Aku tiba di rumah tepat ketika azan Isya berkumandang.

Mobil kuarahkan masuk perlahan ke garasi, lalu terparkir rapi di samping mobil putih milik Kak Lazam. Aku sempat memandanginya beberapa detik. Apa dia akan menginap? Sejak menikah, dia hampir tidak pernah lagi bermalam di rumah ini.

Rumah kami jauh lebih besar dibanding rumah lama, dan letaknya cukup jauh dari rumah Kakek. Jarak itu membuat suasana terasa lebih lega, seolah kami akhirnya punya ruang untuk bernapas tanpa bayang-bayang masa lalu yang terus mengikuti. Rumah ini juga tidak terlalu ramai. Hanya ada tiga pelayan, satu tukang kebun, dan satu satpam yang bekerja tetap di sini.

Aku turun dari mobil sambil membawa beberapa paper bag berisi makanan, kue, dan buku yang kubeli di depan Gramedia. Aroma makanan hangat dari salah satu kantong masih samar tercium.

Begitu masuk ke dalam rumah, aku langsung mengucapkan salam.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.”

Suara itu datang dari arah dapur, disusul kemunculan Bibi Na yang sedang membawa nampan berisi teh susu rempah. Aroma kayu manis dan cengkeh yang bercampur teh langsung menyebar pelan di udara.

“Selamat malam, Nona Zafia.”

“Selamat malam, Bibi Na.” Aku tersenyum kecil sambil memindahkan paper bag ke tangan kiri. Dan dari tangan kananku, aku memberikan salah satu paper bag berisi makanan untuknya dan yang lain. “Ini untuk Bibi dan yang lain. Ngomong-ngomong, apa Kak Lazam mau menginap?”

Bibi Na menggeleng pelan. “Kalau itu saya kurang tahu, Nona. Tapi dari sedari tadi semuanya kumpul di ruang keluarga. Nona Adzala juga ikut.”

“Oh ya?” Aku spontan tersenyum lebih lebar. “Akhirnya anak kecil itu datang juga.”

Sudah cukup lama aku tidak bertemu dengannya. Aku rasa seperti biasa, Kak Vezha tidak ikut.

"Bibi, tolong sajikan teh rempah untukku di meja ruang keluarga. Terima kasih."

"Baik, Nona."

Lihat selengkapnya