Sejak tadi aku lebih banyak diam memperhatikan orang-orang di meja yang sama denganku, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tatapan Kak Barka kosong, jelas dia sedang memikirkan banyak kemungkinan. Adfan, dia membuka dokumen lama yang tidak kunjung menemukan apa pun. Lalu, Kak Tashbiya hanya mengaduk-aduk kopinya sampai dingin.
Zaras nyaris tidak bergerak dari depan monitornya. Suara ketikan keyboard bersahutan memenuhi perpustakaan pribadi keluarga Zaman yang terasa semakin pengap setelah dua jam kami berkutat di ruangan itu. Cahaya monitor memantul samar di atas meja bundar besar yang dipenuhi tumpukan dokumen lama, arsip digital, serta beberapa map kecokelatan yang tampak telah berusia puluhan tahun.
Aku menatap tiga monitor di hadapan kami yang dipenuhi data perusahaan lama milik Kakek Muria Zaman. Arsip saham, perpindahan aset, laporan keuangan, hingga struktur kepemilikan perusahaan memenuhi layar seperti potongan puzzle yang belum menemukan bentuk utuhnya.
Bargha membuka file demi file dari laptop lain dengan fokus yang nyaris tak berubah. Sesekali ia dan Zaras saling bertukar dokumen digital tanpa banyak bicara. Hanya suara klik mouse dan dengung pendingin ruangan yang terdengar samar di antara kami.
Tangan Bargha berhenti di atas touchpad. “Maaf... sepertinya ada kekeliruan.”
Otomatis kami duduk lebih tegap. Bahkan Kak Barka yang sejak tadi bersandar di kursi langsung maju mendekati tempat duduk Bargha dan Zaras.
“Bagaimana?”
Zaras mengangkat kepalanya menatap Kak Barka yang berdiri membungkuk di sampingnya. “Nama Walleya Sinan Zaman tidak masuk ke daftar pemindahan aset perusahaan mana pun.”
Kak Barka mengernyit. “Maksudmu?”
“Anda tidak salah dengar, Pak. Secara hukum beliau hanya tercatat sebagai ahli waris sebagian aset pribadi milik Karlam Zaman. Tidak ada catatan kepemilikan perusahaan atas nama beliau pada periode itu.”
“Tidak mungkin.” Kak Barka menyangkalnya mentah-mentah. Ia mengepal tangan kanannya. Rahang wajahnya terlihat mengeras.
Zaras segera memperbesar beberapa file di monitor utama. Deretan akta perusahaan, dokumen penjualan saham, hingga legalitas perpindahan kepemilikan muncul satu per satu.
“Semua perusahaan lama dijual dan ditandatangani langsung oleh Pak Muria sendiri.” Zaras berhenti sejenak, memberi waktu agar kalimatnya meresap. “Bukan oleh pihak lain. Mungkin ada kurangnya komunikasi antara Pak Muria dan anak-anaknya atau tidak dibicarakan secara terbuka. Sehingga semuanya berkembang menjadi kesalahpahaman dan asumsi-asumsi liar. Itu sangat disayangkan, apalagi sampai berujung pada tuduhan.”
Ruangan mendadak terasa dingin.
“Jadi sekarang, lima belas perusahaan yang bergerak di bidang tekstil, peternakan, distribusi bahan pangan, hingga usaha perhiasan memang sudah berpindah tangan sejak tahun 2000,” lanjut Zaras. “Dan penjualan itu terjadi jauh sebelum pembacaan hak waris keluarga.”
Aku menatap layar tanpa berkedip. Nama Kakek Muria muncul berulang kali sebagai penandatangan utama. Bukan tanda tangan yang dipalsukan. Bukan pula dokumen yang diwakilkan kepada orang lain. Semuanya ditandatangani langsung oleh dirinya sendiri.
Pertanyaannya sekarang, mengapa Kakek tidak pernah menceritakan hal sebesar ini kepada anak-anaknya? Bahkan Tante Turiya—anak bungsu kesayangan Kakek—tidak mengetahui apa pun. Ini bukan perkara kecil. Lima belas perusahaan dengan nilai yang begitu besar dijual diam-diam tanpa sepengetahuan satu pun anggota keluarga selain dirinya sendiri.
Dan yang paling aneh, mengapa semua itu disembunyikan seolah tidak pernah terjadi? Aku menoleh perlahan ke arah Kak Barka. Dari raut wajahnya, aku tahu ia memikirkan hal yang sama.
Ada sesuatu yang tidak beres. Sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar penjualan perusahaan.
“Coba tampilkan nama pembeli pertamanya.”
Bargha membuka beberapa data tambahan yang aku perlukan. Grafik kepemilikan saham dan perpindahan direksi mulai muncul di layar.
“Biasanya pola seperti ini memakai perusahaan perantara. Perusahaan dijual dulu ke investor luar sebelum akhirnya berpindah lagi. Kurang lebih seperti itu. Secara hukum tetap legal. Model seperti ini memang sering dipakai untuk menyamarkan identitas pembeli utama.”
“Lalu setelah itu?” tanya Kak Barka.
Bargha menarik napas sebelum membuka file lain. “Beberapa bulan setelah transaksi pertama selesai, kepemilikan perusahaan-perusahaan itu biasanya perlahan dibeli kembali oleh grup usaha lain.”
“Grup usaha siapa?”
Bargha tidak langsung menjawab. Jarinya bergerak membuka struktur kepemilikan lain yang jauh lebih rumit dibanding sebelumnya. Nama perusahaan bercabang ke berbagai anak usaha seperti lorong panjang yang sengaja dibuat berlapis-lapis.
Aku bahkan bisa mendengar detak jam dinding di sudut ruangan.
“Belum bisa dipastikan. Karena pemilik akhirnya ditutupi beberapa perusahaan holding.”
“Kalian belum menemukan nama pengendalinya?” Kak Barka terus menginterogasi.
“Belum. Dan kalau memang sengaja disembunyikan, kita tidak mungkin menemukannya dalam satu malam.”
Aku mengembuskan napas pelan. Masuk akal. Kami terlalu berharap semuanya selesai dengan cepat. Padahal kenyataan tidak pernah bekerja seperti itu.
“Lalu dananya pergi ke mana?” aku bertanya. “Bukankah uang hasil penjualan perusahaan itu seharusnya masuk ke aset keluarga? Kenapa tidak pernah tercatat dalam pembagian warisan?”
Bargha kembali membuka beberapa laporan keuangan lama. “Sebagian dana memang tercatat masuk ke beberapa rekening perusahaan induk. Tapi setelah itu alurnya terpecah. Ada yang dipakai menutup utang perusahaan. Ada yang masuk ke investasi baru. Ada juga yang dipindahkan ke beberapa perusahaan lain.”
Ia menatap layar sejenak sebelum melanjutkan. “Dan sebagian besar perusahaan itu sekarang sudah tidak aktif.”
“Uang sebanyak itu tidak mungkin hilang begitu saja.”
“Benar, Bu Zafia,” sahut Zaras. “Makanya langkah berikutnya bukan lagi mencari dokumen penjualan.”
“Lalu? Kita akan mencari orang-orang lamanya.”
Zaras mengangguk. “Kita akan mencari orang-orang yang dulu paling dekat dengan pusat keputusan. Direktur keuangan lama, sekretaris pribadi Pak Muria, staf legal perusahaan, sopir pribadi, akuntan lama, atau komisaris yang masih hidup.”
“Karena sebesar apa pun rahasia ditutup...” lanjut Bargha pelan, “selalu ada celah yang bisa kita cari.”
“Baiklah, pertemuan kita sampai di sini. Kalau kalian berdua menemukan sesuatu, segera hubungi salah satu dari kami.”
“Baik, Bu Zafia. Kalau begitu kami permisi.”
“Terima kasih. Silakan.” Kak Barka membiarkan Bargha dan Zaras meninggalkan ruang perpustakaan dua lebih dulu.