Kediaman Rumah Tashbiya
Aku masih berada di rumah Kak Tashbiya. Duduk di sofa besar berbentuk setengah lingkaran yang mengelilingi meja ruang keluarga, sambil membaca salah satu buku yang tergeletak di atas meja. Sesekali pandanganku berhenti pada halaman yang sedang kubaca.
Aku memejamkan mata. Kira-kira apa yang sedang dibicarakan Tante Walleya dan Kak Tashbiya?
Aku tidak mungkin diam saja. Sayangnya, aku juga tidak mungkin pergi ke ruang tamu hanya untuk menguping percakapan mereka. Suasana rumah terasa tenang. Hanya terdengar samar suara jam dinding.
Sekitar lima belas menit kemudiannya, aku menoleh ketika mendengar langkah kaki mendekat dari arah lorong utama. Kak Tashbiya muncul sendirian. Ia berjalan menghampiriku.
"Apa Nona Zafia sudah pulang?" Aku masih bisa mendengar saat Kak Tashbiya berbicara pada seseorang yang menanyakan keberadaanku.
"Beliau masih berada di ruang keluarga, Nyonya. Sedang membaca buku."
Kak Tashbiya mengangguk kecil sebelum berjalan masuk ke ruangan. Aku langsung menutup buku yang berada di pangkuanku.
"Apa yang membuat Tante Walle datang ke sini?" Aku langsung bertanya saat Kak Tashbiya sudah berdiri di hadapanku.
Kak Tashbiya mengambil duduk di sofa seberang. Ia tampak sedikit lelah.
"Cheifa."
Aku mengernyit. "Cheifa kenapa?"
"Tidak ada apa-apa." Ia menyandarkan tubuhnya perlahan. "Tante Walle hanya menanyakan kabarnya. Katanya sudah lama tidak bertemu dan merasa rindu."
"Dan?"
"Dan seperti biasa." Kak Tashbiya menghela napas panjang. "Beliau memberi nasihat. Tentang keluarga. Tentang masa depan. Tentang bagaimana aku seharusnya lebih sering menemui Cheifa."
Aku menatapnya beberapa saat sebelum menutup buku sepenuhnya. "Sesederhana itu?"
"Kurang lebih."
"Kakak yakin?" Kak Tashbiya mengangguk.
Aku menatapnya lama. "Kakak nggak mencurigai sesuatu?"
Ia menggeleng pelan. "Nggak."
Aku mengembuskan napas perlahan. "Kak Biya, ayolah. Tante Walle bukan tipe orang yang datang ke suatu tempat hanya untuk berbasa-basi. Dia bukan orang yang membuang waktunya untuk sesuatu yang nggak penting."
"Tapi memang nggak ada hal yang membuatku curiga."
Aku kembali bersandar. Rasa frustasi mulai muncul. Bagaimana cara menjelaskannya?
Insting Kak Tashbiya tidak pernah sekuat anggota keluarga Zaman yang lain. Ia terlalu mudah mempercayai orang. Terlalu baik untuk selalu melihat niat buruk di balik tindakan seseorang.
Dan justru karena itulah aku khawatir. Orang seperti Tante Walleya tidak selalu mencari informasi dengan bertanya langsung. Terkadang cukup dengan mengobrol santai, lalu mengamati reaksi orang di hadapannya.
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya mereka bicarakan selama hampir satu jam itu. Aku juga tidak tahu apakah Kak Tashbiya tanpa sadar sudah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak ia katakan.
Pikiran itu membuat dadaku terasa tidak nyaman. Mungkin aku harus berbicara dengan Kak Barka besok pagi.
"Kabari aku kalau ada sesuatu," kataku akhirnya.
Kak Tashbiya mengangguk. "Tentu."
Aku berdiri sambil merapikan ujung mantel yang kukenakan. "Aku pamit pulang dulu."
"Hati-hati di jalan."
Aku mengangguk singkat lalu berjalan keluar dari ruang keluarga.
Saat tiba di lorong utama, tanpa sadar aku menoleh ke belakang. Kak Tashbiya masih duduk di tempatnya semula.
Diam.
Tatapannya kosong mengarah ke meja di depannya. Ia terlihat memikirkan banyak hal. Entah kenapa, pemandangan itu justru membuat perasaanku semakin tidak tenang.
Aku segera memalingkan wajah dan mempercepat langkah menuju pintu keluar rumah. Udara sore menyambut begitu aku keluar dari bangunan itu. Besok pagi, aku harus menemui Kak Barka.
*******
Private Residence Latte Caffe
Malam harinya, sekitar pukul tujuh setelah salat Isya, Alana menemuiku di Latte Caffe. Kami duduk di balkon lantai empat yang sekaligus menjadi hunian pribadiku di atas bangunan kafe itu.
Awalnya lantai tersebut hanya kubangun sebagai tempat singgah. Namun seiring waktu, tempat itu berubah menjadi semacam rumah kedua yang sering kugunakan saat terlalu lelah untuk pulang ke kediaman orang tuaku.
Di lantai ini terdapat empat kamar tidur yang masing-masing memiliki kamar mandi pribadi, ruang tamu, dapur, musala, perpustakaan yang cukup luas dengan ukuran 9 × 10 meter, ruang gym, serta beberapa ruangan lain yang membuatnya terasa seperti sebuah sky residence mewah dibanding bagian dari sebuah kafe. Furniturnya tidak berlebihan, tetapi cukup nyaman untuk ditinggali dalam waktu lama.
Aku gunakan hunian private residence saat aku tidak ingin pulang ke rumah orang tuaku dan ingin sendirian. Letaknya juga tidak terlalu jauh dari pusat kota sehingga lebih praktis untuk mobilitas sehari-hari.
Balkon tempat kami duduk menghadap langsung ke jalan raya. Dari sini, deretan kendaraan tampak bergerak tanpa henti seperti aliran sungai cahaya yang tidak pernah benar-benar tidur. Angin malam berembus cukup kencang, membuat ujung hijab kami sesekali bergerak pelan.