Jiwa Tak Bertuan

FAKIHA
Chapter #16

15. Arah Yang Berbeda

Dering ponsel yang tak kunjung berhenti mengejutkanku hingga terbangun. Kepalaku terasa berdenyut, disertai pusing ringan yang masih menggelayut. Aku bahkan tidak ingat kapan tepatnya tertidur. Rasanya baru beberapa menit yang lalu aku memejamkan mata. Namun sekarang, seseorang yang tampaknya tidak sabaran terus menelponku tanpa henti.

Aku mengembuskan napas panjang, mengucap istighfar. Kemudian, melepas masker mata lalu melemparkannya asal ke samping. Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul, tanganku meraba nakas di sebelah tempat tidur, mencari ponsel yang terus bergetar tanpa henti. Aku berusaha segera menemukannya sebelum dering ponsel itu memekakkan itu semakin mengusik kesabaranku.

Pandanganku masih buram karena kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Setelah berhasil meraih ponsel itu, aku bahkan tidak sempat melihat nama penelepon. Jemariku langsung menggeser ikon hijau untuk menerima panggilan.

“Zafia... kenapa kau tidak mengangkat satu pun panggilan dari kami?” desis seseorang dari seberang telepon, berusaha menahan amarah yang terdengar jelas di balik suaranya.

Aku langsung membelalakkan mata dan buru-buru melihat layar ponsel. “Kak Barka?”

“Iya, ini aku. Jam segini kau masih tidur?”

Aku segera duduk tegak. Keterkejutanku belum mereda ketika pandanganku jatuh pada jam dinding sudah menunjukkan pukul 06.00 WIB.

“Cepat bangun, mandi, dan bersiap. Kita akan pergi ke Bogor. Aku dan Adfan sedang dalam perjalanan ke rumahmu.”

“Ada apa?” Suaraku masih terdengar serak, sementara pikiranku belum sepenuhnya terkumpul.

“Jangan banyak bertanya. Lakukan saja apa yang kukatakan.”

Aku mengerutkan kening. Nada bicara Kak Barka terdengar lebih serius dari biasanya. “Aku di Latte Caffe.”

"Kirimkan alamatnya sekarang.”

“Baik.”

Sambungan telepon itu berakhir tak lama kemudian. Aku masih menatap layar ponsel dengan bingung selama beberapa detik sebelum akhirnya mengirimkan alamat lokasi tepat ke nomor Kak Barka.

Tanpa membuang waktu lagi, aku segera menuju kamar mandi. Setelah berwudu, aku menunaikan salat Subuh yang sempat terlewat. Rasa bersalah bercampur heran terus mengusik pikiranku. Biasanya aku tidak pernah bangun seterlambat ini.

Seusai salat, kepalaku masih terasa sedikit linglung. Sisa kantuk belum sepenuhnya hilang, sementara nyeri di kepala justru semakin terasa, membuat pikiranku sulit fokus.

Aku kembali ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, aku mengenakan dress putih panjang, pashmina moka yang menutupi bahu, serta trench coat senada yang terikat rapi di pinggang. Sepasang boots melengkapi penampilanku.

Setelahnya, menyiapkan koper, memasukkan beberapa stel pakaian, hijab, dan perlengkapan pribadi secukupnya untuk perjalanan ke luar kota.

*****

Di sisi lain, di kediaman keluarga Zaman, Rabla—pelayan yang telah lama dipercaya—lebih dahulu mengganti penampilan agar tidak mudah dikenali. Setelah memastikan situasi aman, ia melangkah keluar dari rumah itu dengan mengendarai Yamaha NMAX 155 yang memang disediakan bagi para pekerja. Sebelumnya, tanpa sepengetahuan siapa pun, ia telah menempelkan pelacak pada ban mobil Barka.

Begitu keluar dari halaman rumah, ia melaju dengan tenang, tidak tergesa, menjaga jarak wajar dari Mercedes milik Barka yang baru saja meninggalkan lokasi. Ia tak berani terlalu dekat; hanya mengikuti dari kejauhan, sesekali mengamati keadaan sekitar dengan waspada, memastikan langkahnya tidak menimbulkan jejak kecurigaan.

Di tengah perjalanan, ia menghubungi tuannya untuk menyampaikan perkembangan. Sambungan pun segera tersambung.

“Katakan!”

“Baru saja, Tuan Barka menemui Tuan Adfan di kediaman Zaman. Mereka pergi meninggalkan rumah. Tuan Adfan membawa koper. Sepertinya mereka akan melakukan perjalanan jauh untuk menemui seseorang. Dan posisi saya sekarang sedang mengikutinya.”

“Tetap jaga jarak. Jangan sampai mereka curiga kau mengikutinya.”

“Baik, Nyonya.”

“Kabari segera jika kau sudah mendapat informasi.”

“Dimengerti, Nyonya.” Panggilan itu berakhir.

Rabla kembali fokus pada jalan di depannya. Ia terus mengikuti mobil Barka dengan hati-hati.

Ia bekerja di rumah keluarga Zaman bukan sekadar pelayan rumah tangga. Lebih dari itu. Keberadaannya di sana adalah sebagai mata-mata yang ditempatkan seseorang untuk mengawasi keluarga tersebut.

Dia selalu berhati-hati. Ia pandai membaca situasi, tahu kapan harus bergerak dan kapan harus menunggu. Karena dia tahu, jika ia ketahuan maka, semua hal akan menghancurkan dirinya sekaligus seluruh orang terdekatnya. Selama bertahun-tahun, kemampuan itulah yang membuat penyamarannya tetap aman hingga sekarang.

*****

Lihat selengkapnya