Jiwa Tak Bertuan

FAKIHA
Chapter #18

17. Satu Petunjuk Keluar

Akhirnya, setelah satu jam berlalu perempuan itu muncul dari depan bangunan utama kediaman Pak Farhan. Entah sudah berapa kali aku menghela napas panjang selama menunggu. Aku sengaja berdiri di depan gerbang. Saat pintu gerbang terbuka, perempuan itu melangkahkan kaki keluar, kemudian satpam segera menguncinya kembali. Aku tidak tahu siapa namanya, yang jelas perempuan itu baru beberapa hari aku temui di rumah Adfan.

Aku menyambutnya dengan senyum tipis. Mungkin kemunculanku yang tiba-tiba berdiri di hadapannya tidak masuk perkiraannya. Saat melihat keberadaanku, wajah perempuan itu berubah pucat pasi. Seolah mengatakan, mengapa Zafia masih berada di sini? Bukankah seharusnya dia sudah pulang?

“Jangan tegang. Kau tidak salah lihat. Orang yang berdiri di hadapanmu bukan hantu. Kita perlu berbicara di dalam mobil. Silakan.”

Aku sengaja tidak langsung mempertanyakan apa tujuan dia datang ke tempat yang sama dengan kami. Yang pasti, hanya ada satu kemungkinan, ia mengikuti kami untuk mencari sesuatu. Mungkin, atas perintah seseorang.

Dia masih terdiam. Dia bertanya, memastikan. "Apa ada sesuatu yang ingin Nona sampaikan?" Ia terlihat cukup meyakinkan dengan berpura-pura tidak tahu apa yang aku maksud.

"Tentu saja. Sedari tadi saya sudah menunggumu. Mari kita bicara di dalam mobil."

Dia tidak punya pilihan lain selain berjalan mengikutiku. Mobil menghampiri kami. Aku segera membukakan pintu untuknya. Ia masuk ke dalam mobil dengan wajah tegang. Kak Barka dan Adfan terkejut siapa yang datang. Lalu aku langsung menutup pintu itu.

Aku berjalan ke arah sopir. Mengetuk jendela kaca mobil di sisinya. Pria itu menurunkan setengah jendela mobilnya.

“Pak, bisa tolong keluar sebentar? Ada yang perlu kami bicarakan, cukup rahasia. Jika Bapak tidak keberatan, kami akan membayar lebih untuk menyewa mobil ini." Aku berhenti sejenak, mengambil napas. "Nanti, mobil akan kami kembalikan di bandara, dan Bapak bisa mengikuti kami dari belakang. Saya sudah memesan kendaraan lain—tenang saja, biaya mobil yang satunya juga saya tanggung.”

Aku telah memesannya sekitar sepuluh menit sebelumnya, dan tepat setelah aku katakan hal itu, mobil itu pun sudah tiba.

“Silakan, Nona.”

“Terima kasih.”

Aku berpindah ke kursi pengemudi. Sopir sebelumnya turun dan masuk ke mobil yang baru datang.

Sekarang, aku yang beralih mengemudi. Mobil yang kami tumpangi melaju dengan kecepatan sedang. Di sampingku, Adfan mulai tampak kesal, alisnya berkerut tajam. Dia terlihat tidak sabaran mengajukan seluruh interogasi yang sudah masuk ke kepalanya.

Lihatlah. Baru saja kupikirkan. Adfan langsung melakukannya. “Rabla, apa kau sengaja mengikuti kami sampai ke rumah ini?”

"Tidak Tuan. Aku datang ke sini untuk menjenguk Tanteku yang sedang sakit. Ia bekerja di rumah Tuan Farhan." Rabla terlalu cepat karena panik.

“Oh begitu,” aku menyelanya, mencegah Adfan terus menekan Rabla. Jika dibiarkan, kami justru bisa kehilangan banyak informasi penting. “Siapa namamu?"

"Rabla."

"Baik, Rabla. Jadi kau ingin bertemu dengan saudaramu?”

Ia mengangguk pelan. “Benar, Nona.”

“Andai kami mengetahui tujuanmu sejak awal, mungkin kami bisa mengajaknya sekaligus.” Aku berkata sambil tersenyum tipis, berusaha menjaga suasana tetap terkendali.

“Aku tidak ingin merepotkan, Nona.”

"Tidak. Tidak satupun dari kami bertiga merasa direpotkan," aku menjeda kalimatku. Melihat sekilas mimik wajah Rabla dari spion. "Tapi kami sangat direpotkan kalau kamu datang ke sini karena seseorang."

“Maaf, aku tidak mengerti maksudmu, Nona.” Rabla berkata pelan, nada suaranya tetap tenang meski jelas ada kebingungan di baliknya.

“Kau akan mengerti,” sahutku singkat.

Kak Barka hanya diam di sampingku. Tatapannya bergerak mengamati situasi, seperti sedang membaca arah percakapan yang tidak diucapkan secara langsung.

“Boleh pinjam ponselmu? Kebetulan baterai ponselku habis.” Mau tidak mau Rabla menyerahkannya tanpa banyak kata.

Aku segera menghentikan mobil di sisi jalan, lalu menerima ponsel itu. “Terima kasih.”

Tubuhku kemudian berputar menghadap Rabla sejenak. Ia tampak tidak benar-benar memahami apa yang sedang kucari, hanya mengikuti setiap gerakanku dengan waspada. Kebetulan tidak memakai kata sandi. Ini terlalu aneh.

Aku membuka daftar kontak terakhir yang dihubungi. Lima nama tercatat di sana, dan dalam hitungan detik semuanya sudah terekam di ingatanku tanpa perlu mengulanginya.

Setelah itu, layar segera kumatikan dan kuhapus jejaknya. Cache ponsel pun bersih seolah tak pernah disentuh.

“Rabla, beberapa orang menjalani hidupnya dengan terpaksa karena bukan kemauan mereka sendiri. Namun, ada pula yang melakukannya dengan suka rela. Hanya saja, semua itu tidak selalu datang tanpa harga. Aku harap, kau tidak masuk dalam salah satunya.” Aku memperhatikannya. Ia menelan ludah saat aku menjelaskan hal itu.

"Aku harap, kau tidak masuk dari salah satu yang saya sebutkan.” Aku berhenti sejenak, melihat perubahan mimik wajahnya. “Turunlah, pindah ke mobil lain. Besok pagi, kita akan bertemu di rumah kediaman Zaman.”

Aku menyerahkan kembali ponsel itu kepadanya tanpa banyak kata.

Begitu Rabla turun dari mobil, aku segera memutar setir dan melajukan kendaraan dengan kecepatan lebih tinggi dari sebelumnya. Aku tidak ingin menimbulkan kecurigaan. Karena itu, aku memilih diam, seolah tidak terjadi apa-apa. Biarkan ia tetap tenang, tanpa tekanan sedikit pun. Setidaknya, kini aku sudah mengetahui nomor-nomor yang paling sering dihubungi. Nanti, sesampainya di rumah, kami bisa menelusuri seluruh jejak itu satu per satu.

“Kenapa kau melepaskannya, Zaf?” Kak Barka tampak tidak terima dengan keputusanku.

“Aku sempat menemukan sesuatu dari ponselnya, lalu segera kuhapus jejak dari temuan itu. Menurutku, membatasi kesempatan Rabla mendapat banyak informasi untuk tuannya jauh lebih baik daripada menahannya lebih lama.”

Adfan terkekeh kecil. “Bahkan aku tidak berpikir sejauh itu.” Aku hanya mengangguk, lalu tertawa pelan.

Kami akhirnya tiba di bandara. Di sana, kami berpisah dengan Rabla untuk keberangkatan pesawat yang berbeda. Sebenarnya, masing-masing dari kami sama-sama menyimpan rahasia. Mungkin justru karena itu, lebih aman bila kami tidak berada dalam satu penerbangan.

******

Lihat selengkapnya