Kami pindah ke ruang kerja. Di sana, terdapat beberapa laptop dan monitor. Sesekali terdengar suara ketikan pelan, gesekan kursi, maupun bunyi notifikasi singkat saat file baru berhasil terbuka. Dari raut wajah Kak Barka aku bisa menebak, ada sesuatu yang mulai ia temukan. Aku langsung mengirim alamat posisiku sekarang ke nomor Bargha dan Zaraz.
Fokus kami buyar saat bel terdengar dari arah pintu. Aku langsung berdiri dan melangkah cepat keluar dari ruang strategi.
Ruang kerja yang aku tempat ini berada di bagian tengah lantai empat. Begitu keluar, aku memasuki lorong lebar yang membelah lantai tersebut. Di sisi kiri lorong terdapat area kerja terbuka dan ruang rapat kecil, sementara di sisi kanan berjajar beberapa ruangan lain yang biasa digunakan untuk operasional bisnis. Lorong itu mengarah langsung ke area depan bangunan yang terhubung dengan tangga setinggi delapan belas meter menuju kafe luas di lantai bawah.
Aku berjalan lurus, lalu berbelok ke kanan menuju foyer. Dari sana, pintu utama sudah terlihat, berdiri di antara dinding kaca besar yang menghadap ke jalan.
Aku membuka pintu. “Kak Biya?”
Kak Tashbiya datang. Wanita itu berdiri tenang di depan pintu dengan tas yang tersampir di bahunya. Aku tersenyum singkat.
“Ayo masuk.”
Ia mengangguk pelan, lalu melangkah masuk. Dari foyer, kami bisa langsung melihat sebagian besar lorong panjang, area kerja yang masih menyala terang, serta ruang strategi di bagian tengah yang pintunya masih terbuka. Dari arah bawah bahkan samar-samar masih terdengar suara aktivitas kafe yang cukup ramai meski tidak terlalu jelas.
Setelah Kak Tashbiya masuk, ia langsung duduk tanpa banyak basa-basi. Matanya cepat menangkap layar laptop yang sudah penuh file terbuka, dan dari ekspresinya, ia sudah paham ini bukan urusan kecil.
Kak Barka langsung membuka pembicaraan. “Aku sudah bandingkan semuanya. Ini bukan sekadar beda file.”
Kak Tashbiya mengangkat alis. “Tolong, jelaskan pelan-pelan.”
Kak Barka menggeser layar ke kami semua. “Isinya sama. Tapi di beberapa bagian, urutannya berubah. Nilainya juga ikut berubah. Bukan rusak, tapi sengaja diubah. Jadi intinya ini bukan kesalahan sistem. Ini permainan di dalam data. Lihat log akses ini.”
Kami bertiga langsung menatap layar laptop. “Kita bisa lihat, bagian file yang ini pernah dibuka berkali-kali di waktu yang nggak masuk akal. Dengan pola yang berbeda.”
Adfan langsung paham ke mana arahnya. “Jadi bukan satu orang?”
“Kemungkinan besar bukan.”
Kak Tashbiya langsung menatap kami bertiga. "Apa Bargha dan Zaras sudah dihubungi?”
Aku mengangguk. “Sudah kuhubungi. Mereka dalam perjalanan.”
****
Aku sengaja menunggu di ruang tamu. Tak lama kemudian, bel berbunyi. Aku segera melangkah cepat membuka pintu.
Bargha dan Zaras berdiri di hadapanku. Aku mempersilakan mereka masuk. Keduanya mengangguk singkat sambil mengucapkan terima kasih, lalu aku mengarahkan mereka menuju ruang kerja, melewati lorong utama dan beberapa ruangan lain menuju ruang kerja.
Di sana, mereka segera bergabung dengan kami. Mereka berdua duduk di sofa berbentuk L yang berada di sudut ruangan. Tanpa banyak basa-basi, ia langsung membaca berkas yang diberikan Kak Barka.
“Dua berkas yang baru saja kalian berikan, sebenarnya berasal dari sumber yang sama. Tapi saya curiga, di tengah proses, mungkin keduanya telah diubah—bukan dihapus, seperti diacak lalu disusun ulang.”
Kak Barka mengangguk pelan. “Fokus kita bukan lagi pada dua file ini. Tapi siapa yang pegang versi aslinya. Dan masih ada satu file lagi. Flashdisk ketiga ini belum kami buka.” Kak Baarka memberikannya flashdisk itu pada Zaraz.
Semua langsung diam sebentar. Zaraz membuka file itu. Beberapa detik pertama tidak ada yang bicara.
Kak Tashbiya menyipitkan mata. “Ini beda. Ini yang paling dekat ke sumber awal. Coba kalian lihat metadata-nya." Jemarinya berhenti di salah satu halaman Suasana langsung sunyi.
Kak Barka menunjuk satu baris kecil. “Walleya Sinan Zaman.” Kami saling tatap, tidak percaya dengan apa yang baru saja kami temukan.
Azan Ashar berkumandang dari masjid tak jauh dari Latte Caffe. Suaranya menggema lembut, memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti ruangan. Kami berempat terdiam beberapa saat.
Zaras menatap layar lama, lalu berkata, “Kecurigaan kalian tepat. Nama Walleya Sinan Zaman baru muncul dari sekian nama yang tercantum. Lihatlah… berarti dari awal memang sudah dirinya ikut di dalam sistem ini.”
Apa yang sebelumnya kami curigai ternyata bukan sekadar asumsi atau prasangka belaka. Melainkan data yang membuktikannya. Lalu Bargha menjelaskan beberapa hal lagi yang masih berkaitan. Setelah semuanya selesai, aku dan ketiga saudara sepupuku hanya bisa menatap kosong langit-langit ruang kerjaku. Kami masih harus mencari tahu, apa sebab Tante Walleya melakukan semua hal ini.
********
Seluruh kekacauan yang terjadi dalam keluarga Zaman bermula dari seorang perempuan berusia enam puluh lima tahun bernama Walleya Sinan Zaman. Ia dikenal berbahaya bukan karena amarah yang meledak-ledak, melainkan karena ketenangannya yang tajam serta kecerdikannya yang selalu terukur. Setiap tindakannya lahir dari perhitungan yang matang. Ia tidak pernah bergerak tanpa pertimbangan.
Ia tidak menunjukkan kemarahan secara terbuka, namun justru dari ketenangannya itulah muncul tekanan yang mengintimidasi, terutama bagi mereka yang ia anggap lemah.
Kehadirannya dalam keluarga Zaman menjadi sebuah bencana yang tak pernah diduga sebelumnya.
“Kenapa kau belum menghubungi saya. Apa ada sesuatu yang terjadi?”
“M–maaf Nyonya. Seharusnya Tuan Adfan sudah sampai rumah satu setengah jam yang lalu. Tapi sampai sekarang ia belum kembali ke rumahnya,” Rabla mengatakan hal itu dengan suaranya bergetar.
“Lacak keberadaannya sekarang.”
“Saya sudah melacaknya. Tapi ponselnya ada di rumah. Jadi aku tidak bisa melacaknya. Sementara posisi Tuan Barka masih di Bogor, sepertinya ia sengaja mengecoh siapa pun yang hendak melacak keberadaannya.”
“Sekarang, kau bisa pergi ke Acgas Cafe siapa tahu dia ada di sana. Saya kirim alamatnya.”
“Baik, saya tunggu.”
Hanya beberapa detik menunggu, Rabla mendapat alamat kafe milik Zafia. Dia langsung pergi ke sana. Semua orang di kediaman Zaman sibuk dengan urusannya masing-masing. Ia bergerak saat semua orang lengah.
*******