"Zaf, kita sudah sampai."
Suara Kak Barka membangunkanku. Aku segera membuka mata lebar-lebar. Mobil telah berhenti. Kak Barka dan Adfan sudah lebih dulu turun. Aku segera menyusul mereka.
Begitu kakiku menginjak tanah, pandanganku langsung menyapu sekeliling. Hutan lebat membentang ke segala arah. Pohon-pohon tinggi menjulang rapat, menelan jalan yang kami lalui tadi. Tidak ada rumah lain, selain rumah besar ini. Tidak ada suara kendaraan, selain milik kami, bahkan tidak terlihat tanda-tanda pemukiman penduduk.
“Apa benar ini rumahnya?” Kak Barka mengangguk pelan.
Tapi bagaimana mungkin… rumah semewah ini berdiri sendiri, terasing di tengah hutan?
“Kita tidak salah alamat. Mungkin ada alasan mengapa pemiliknya memilih membangun rumah ini sendirian, jauh dari tetangga mana pun, di tengah hutan seperti ini.” Kak Barka menjelaskan, seolah tahu apa yang sedang kupikirkan.
Kak Barka menoleh ke arah kiri pada sopir yang mengantar kami. "Maaf, sepertinya kau hanya sampai di sini. Kau tidak perlu masuk."
"Baik, Pak."
Kami berjalan menuju gerbang besi yang menjulang tinggi. Kak Barka menekan bel yang terpasang di sampingnya. Tak lama kemudian, seorang satpam datang dan membuka sedikit pintu gerbang.
"Ada yang bisa dibantu?"
"Apakah benar ini rumah Pak Farhan?"
"Benar. Dengan siapa dan ada perlu apa?"
"Saya Barka Zaman, dan mereka adik sepupu saya. Tolong sampaikan kepada Pak Farhan Syakib bahwa saya, Barka Zaman, ingin bertemu dengan beliau."
"Baik. Maaf, tunggu sebentar."
Satpam itu berjalan menjauh beberapa langkah lalu menghubungi seseorang melalui ponselnya.
"Pak, ada seorang pria muda bernama Barka Zaman yang ingin menemui Anda. Apakah Anda bersedia menemuinya?"
"..."
"Baik, Pak."
Ia kembali menghampiri kami.
"Beliau mengizinkan. Silakan ikuti saya."
“Sebentar..." aku sengaja menghentikan langkahnya. Satpam itu berhenti. "Pak, jika ada seseorang yang datang bertanya pada Bapak tentang kami, atau ingin menemui Pak Farhan, sebaiknya jangan katakan apa pun atau diberi masuk dulu sampai kami meninggalkan rumah ini.”
Pak satpam itu mengangguk, tanda mengerti tanpa perlu banyak pertanyaan tambahan.
Kami berjalan mengikutinya. Gerbang terbuka penuh. Di baliknya terbentang halaman yang luas dengan jalan berpaving menuju area parkir. Beberapa mobil terparkir rapi di bawah kanopi modern.
Sesampainya di pintu utama, kami segera masuk.
"Pak Farhan sedang bersantai di samping kolam ikan." Pak satpam memberitahu tanpa kami bertanya.
Kami melewati koridor samping yang panjang. Beberapa taman indoor dibuat di dalam rumah. Tanaman hijau tumbuh di antara batu-batu hias dan kolam kecil, membuat udara di dalam rumah terasa sejuk dan segar.
Di sanalah pria itu berada.
Pak Farhan berdiri di tepi kolam ikan koi yang cukup besar. Tangannya menggenggam wadah pakan, lalu menebarkan butiran makanan ke permukaan air. Puluhan ikan berwarna merah, putih, dan emas bergerak berdesakan di bawah pantulan cahaya matahari yang masuk dari atap kaca.
Saat melihat kami mendekat, ia perlahan meletakkan wadah pakan itu.
"Kau bisa tinggalkan kami."
"Baik, Pak."
Satpam itu segera pergi. Sementara sopir yang kami sewa menunggu di ruang tunggu di depan gerbang.
"Selamat siang, Pak. Saya Barka Zaman, dan mereka adik sepupu saya, Adfan dan Zafia Zaman."
Kak Barka memperkenalkan kami satu per satu sambil berjabat tangan dengan mereka. Terkecuali aku. Aku hanya menempelkan satu tangan di depan dada yang sedikit dimiringkan, lalu mengangguk pelan sebagai bentuk salam.
"Suatu kehormatan bisa bertemu dengan kalian."
Kami mengangguk sopan.
Tak lama kemudian, seorang pelayan datang membawa minuman dan beberapa makanan ringan ke meja yang berada di dekat kolam. Mempersilakan jamuannya.
"Silakan duduk."
"Terima kasih."
Kami berempat duduk mengelilingi meja panjang berwarna hitam pekat yang menghadap langsung ke kolam ikan.
“Maaf sebelumnya, apa yang membuat kalian datang kemari?” Pak Farhan memulai pembicaraan dengan tenang, meskipun sorot matanya menyiratkan hal yang berbeda. “Tidak banyak orang yang tahu bahwa ada seseorang yang tinggal di tengah hutan seperti ini. Lagi pula, siapa yang memberi tahu kalian bahwa saya berada di sini?”
Kak Barka sengaja mempersingkat waktu, menjelaskan maksud kedatangan kami ke rumah ini. "Tanpa mengurangi rasa hormat, langsung saja, Pak. Tujuan kami datang ke sini untuk sesuatu yang berkaitan dengan bisnis keluarga Zaman."
Wajah tenang Pak Farhan langsung berubah menegang. Pak Farhan tampak sudah cukup berusia, mungkin seusia ayahku, sekitar enam puluh tahun. Rambutnya dipenuhi uban tipis. Wajahnya menyimpan guratan lelah yang sulit disembunyikan, meski sorot matanya masih terlihat tajam.
“Anda tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Keselamatan Anda berada dalam jaminan kami. Namun, apa yang membuat Anda tinggal di rumah yang terpencil di tengah hutan seperti ini? Apakah ada seseorang yang memaksa Anda untuk berada di sini?”
Pak Farhan menggeleng cepat. “Tidak ada yang menekan saya. Semuanya murni karena keinginan saya sendiri.”
“Aku harap memang begitu. Namun, Anda tidak perlu bersusah payah menutupi sesuatu. Kami tahu Anda sedang mengkhawatirkan sesuatu. Katakan saja apa yang sebenarnya terjadi. Kami akan menjamin keselamatan Anda.”
Pak Farhan terdiam sejenak. Tatapannya bergantian mengarah kepadaku dan Kak Barka, seolah sedang menimbang sesuatu di dalam pikirannya.
“Apa yang Anda bicarakan, Nona Zaman?” tanyanya akhirnya.
"Anda pasti sudah tahu maksud adik sepupu saya, Pak." Kak Barka yang menjawab.
Pak Farhan tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak benar-benar mencapai matanya.
“Baiklah. Namun, saya tidak tahu apa yang sedang kalian maksud. Mungkin sebaiknya kalian yang menjelaskan terlebih dahulu.” Pak Farhan sengaja mengulur waktu. Jelas, Kak Barka tidak suka hal itu.