Di samping rumah utama, keluarga Karlam Zaman, terdapat sebuah area aquascape terbuka yang cukup luas, sekitar delapan kali tiga meter. Sebuah kolam ikan memanjang membelah taman mini itu, airnya jernih hingga batu-batu di dasar kolam terlihat jelas. Beberapa ikan koi berenang perlahan di antara tanaman air. Di sekelilingnya tumbuh pohon kamboja, palem hias, dan rumpun bambu kecil yang membuat suasana terasa teduh. Gemericik air dari pancuran batu di salah satu sudut menjadi suara yang mendominasi keheningan siang itu.
Bu Walleya dan Bu Laza duduk berhadapan di sofa rotan yang diletakkan tepat di tepi kolam. Secangkir teh hangat berada di atas meja kecil di antara mereka. Angin sesekali berembus pelan, menggoyangkan dedaunan dan membawa aroma tanah yang masih lembab setelah disiram.
"Kenapa kau terlalu mencemaskannya,Walle?" Bu Laza bertanya penasaran. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa. "Aku penasaran kenapa kau begitu cemas? Sementara kita tahu, Zafia bukan siapa-siapa. Kendali yang kau miliki jauh lebih besar daripada keponakanmu itu. Mungkin sekarang dia punya bisnis sendiri, tapi aku tidak yakin bisnisnya lebih besar daripada milikmu, Walle."
"Bukan soal kendali, Laza, melainkan kecerdasannya yang bisa menjadi senjata paling tajam yang ia miliki untuk menyerang kami. Ketenangannya membuat kami tidak bisa membaca apa yang sedang direncanakan. Dia selalu berpikir lebih cepat, lalu bertindak lebih cepat lagi. Dan kau harus tahu, kalau siang tadi, dia bersama Adfan dan Barka berhasil menemui salah satu mantan notaris perusahaan lama Zaman.Yang seharusnya orang itu telah menghilang dari peradaban. Entah kenapa dia malah kembali ke rumah itu, dan yang aku heran lagi, Zafia menemukan jejaknya."
Bu Laza terkejut mendengarnya. "Bagaimana kau bisa selengah itu?"
"Aku terlalu fokus pada Zafia. Sampai aku melupakan bagian terpenting dari misi Zafia itu sendiri. Kita tahu, pria tua itu memiliki beberapa bukti tentang perusahaan lama keluarga Zaman. Aku yakin, kalau dia tetap diam karena kami sudah memperingatkannya. Meski itu kemungkinan kecilnya dia akan buka mulut. Dan Zafia bukan orang yang akan memaksa orang untuk bicara, kalau mereka tidak mau. Tapi, dia menganalisa. Dan analisanya selalu tepat."
Laza menghela napas pelan.
"Sekarang aku tahu kekhawatiranmu. Tapi kalau kau terus mencemaskan sesuatu yang bahkan belum terjadi, kau hanya akan membuat dirimu melihat kemungkinan terburuk di setiap keadaan. Dan apa kau sudah mengirim orang lagi untuk memastikan pembicaraan apa saja yang mereka bicarakan di rumah mantan notaris itu?"
Bu Walleya menggeleng pelan. "Aku hanya mengirim Rabla."
Bu Laza menatap sepupunya tidak percaya. "Kau serius hanya mengirim pelayan itu? Kenapa kau tidak mengirimkan orang-orang yang lebih diandalkan daripada dia, Walle?"
"Itu cukup. Tidak mencurigakan. Aku tidak perlu menurunkan semua orang untuk mencari tahu."
Bu Laza tertawa, mengejek dengan kepercayaan diri adik sepupunya itu. "Bagaimana kau bisa berpikir sependek itu? Dan selanjutnya?"
Bu Walleya mengusap pelan cangkir tehnya. "Aku sudah menurunkan beberapa orang untuk mencari Zafia, Barka, dan Adfan."
"Untuk apa?"
"Untuk memastikan bahwa Zafia tidak melewati batasannya."
Sekarang, Bu Laza tidak mengerti cara berpikir Walleya. "Dan kau mengancamnya?"
"Hanya memberikan sedikit peringatan." Ia menoleh ke sepupunya.
"Kau pernah bilang, diusianya yang baru lima belas tahun, Zafia membantu Barka memecahkan masalah besar yang terjadi delapan tahun lalu. Bukan hanya itu, dia juga ikut membuka seluruh praktik korupsi yang selama bertahun-tahun terjadi di Perusahaan Zaman." Walleya mengangguk kecil, tetap tenang, menatap ke depan.
"Orang-orang selalu mengira kekuatan terbesar seseorang adalah uang, jabatan, atau pengaruh. Dan kau juga menyadari kekuatan Zafia berasal dari kecerdasan dan ketenangannya." Suaranya terdengar lebih rendah dari sebelumnya. "Bukan hanya itu, Zafia memiliki sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Dia mampu melihat strategi yang tidak dilihat orang lain. Saat semua orang masih mencoba memahami apa yang sedang terjadi, dia sudah menemukan jawabannya, dan kemudian dia tahu apa yang harus ia lakukan."
Bu Walleya terdiam saat mendengar penjelasan sepupunya itu. Suara gemericik air kembali mengisi ruang di antara mereka.
"Aku tahu semua hal yang telah kau lakukan, Walle. Mungkin bisa disebut sebagai saksi hidup. Dua puluh lima tahun, bukan waktu yang singkat. Tapi pertanyaanku cuma satu, apa kau masih ingin melakukan semua itu?"
Bu Walleya mengangguk singkat.
"Tapi orang yang kau targetkan sudah tidak ada. Lalu apa yang kau inginkan lagi?"
"Malu dan sakit hati harus dibalas dengan hal yang sama, Laza. Kau tau itu."
"Satu orang yang menyebabkan hal itu. Tapi itu tidak adil kalau kau balas ke seluruh keturunannya."
"Itu sangat adil. Dan aku tidak suka melakukannya setengah-setengah."
"Dendam tidak akan membuat kamu tenang, Walle. Kau hanya membuang waktu dengan melakukan semua hal yang telah terjadi.”
"Laza, aku tidak peduli. Ironis sekali bukan? Sepertinya kau mulai lupa satu hal, kalau selama ini kau yang mendukung setiap langkahku. Dan kau tidak bisa melupakan begitu saja.”
Laza meremas kedua ujung bajunya. Ia tidak lupa sedang berhadapan dengan orang yang berbisa seperti Walleya. Laza berpikir sejenak, sepertinya Zafia yang akan mengakhiri semua drama yang dilakukan Walleya. Lawan terbaik Walleya hanya Zafia. Ia tersenyum, mencoba tidak terpancing emosi. "Aku sudah cukup tua untuk tetap berada disisimu."
"Itu bukan jawaban yang aku mau, Laza. Dan sekarang apa kau ingin berbalik menyerangku dengan buka mulut di hadapan mereka."
"Tidak perlu khawatir. Aku tidak akan mungkin melakukannya, terkecuali kau melanggar batasan yang sudah kita sepakati.”
"Apa yang sebenarnya kau inginkan?" Walleya menyandarkan bahunya, ia tersenyum licik.
"Ketenangan. Itu yang aku mau. Dan kalau aku boleh kasih saran, sebaiknya kau berhenti melakukan semua hal itu. Kau sendiri bilang, Zafia bisa membongkarnya kalau dia mau. Dan aku tidak ingin berada di sana. Permisi."
Laza langsung beranjak dari duduknya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Langkahnya terdengar tegas hingga menghilang di balik pintu. Di ruang tamu, Walleya mengepalkan tangan di atas sandaran sofa. Rahangnya mengeras, sementara tatapannya tetap terpaku ke arah pintu yang baru saja tertutup.
Sesampainya di halaman, Laza berjalan cepat menuju mobil hitam yang telah menunggu di depan teras. Sang sopir segera membukakan pintu belakang. Tanpa menoleh sedikit pun ke arah rumah, Laza masuk ke dalam mobil.
"Jalan sekarang."
"Baik, Bu."
Pintu mobil tertutup pelan. Mesin menyala halus, lalu kendaraan itu bergerak meninggalkan halaman rumah Pak Karlam Zaman. Mobil melaju melewati jalan masuk yang diapit deretan tanaman hias sebelum akhirnya keluar melalui gerbang utama dan membaur dengan arus kendaraan di jalan raya.
---
Sejak tadi Zafia sudah menunggu di seberang gerbang rumah Pak Karlam. Begitu melihat Bu Laza keluar, ia segera menyalakan mesin mobilnya dan menjaga jarak agar tidak menarik perhatian.